Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Official Announcement: Motor yang Biasa Pakai Pertamax Beralih ke Pertalite, Apa Dampaknya bagi Mesin?

Barbara Rodriguez - lenterafakta.com 3 mins read

Official Announcement: Motor Beralih ke Pertalite, Dampak Mesin? Official Announcement tentang perubahan penggunaan bahan bakar untuk kendaraan bermotor

Official Announcement: Motor yang Biasa Pakai Pertamax Beralih ke Pertalite, Apa Dampaknya bagi Mesin?

Official Announcement: Motor Beralih ke Pertalite, Dampak Mesin?

Official Announcement tentang perubahan penggunaan bahan bakar untuk kendaraan bermotor menjadi perhatian publik. Setelah harga Pertamax naik signifikan menjadi Rp16.250 per liter, banyak pengguna mulai beralih ke Pertalite sebagai alternatif. Perubahan ini memicu pertanyaan tentang dampaknya terhadap kinerja dan daya tahan mesin kendaraan. Apakah beralih ke Pertalite akan mengurangi efisiensi mesin atau justru meningkatkan biaya pemeliharaan?

Perubahan Harga BBM: Alasan Beralih ke Pertalite

Kenaikan harga Pertamax mencapai 32 persen, dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, menimbulkan tekanan pada pengguna kendaraan yang ingin menghemat pengeluaran. Dengan official announcement dari pihak produsen, banyak konsumen memilih Pertalite untuk mengurangi biaya. Namun, oktan Pertalite lebih rendah dari Pertamax, sehingga memicu kekhawatiran tentang efek jangka pendek dan panjang pada mesin.

Banyak pengguna bermotor khususnya mobil dan sepeda motor paling modern yang mengandalkan bahan bakar dengan oktan tinggi untuk menjaga performa optimal. Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada, Jayan Sentanuhadi, menjelaskan bahwa mesin berkompresi tinggi rentan terhadap masalah akibat penggunaan BBM RON rendah. “Penggunaan Pertalite berisiko menyebabkan knocking, yang bisa mengurangi keandalan mesin,” kata Jayan, dilansir Kompas.com, Kamis (18/6/2026).

Dampak Pada Kinerja Mesin

“Penggunaan Pertalite berisiko menyebabkan knocking, yang bisa mengurangi keandalan mesin,”

kata Jayan, menambahkan bahwa masalah ini terjadi saat campuran udara dan bahan bakar terbakar sebelum waktunya. Fenomena ini membuat mesin bekerja lebih keras, sehingga mempercepat keausan komponen seperti piston dan kepala silinder. Meski demikian, official announcement menyebutkan bahwa peralihan ke Pertalite bisa menjadi solusi sementara untuk mengurangi beban pengeluaran konsumen.

Kepala layanan 2W PT Suzuki Indomobil Sales, Victor Assani, menegaskan bahwa knocking bisa terdeteksi sebagai suara menggelegar saat mesin dinyalakan. “Banyak pengguna mobil akan melihat penurunan tenaga mesin, terutama saat menghadapi medan jalan berliku,” ujar Victor, dikutip dari Kompas.com, Kamis (11/6/2026). Menurutnya, mesin modern memiliki mekanisme adaptasi untuk mengurangi dampak, tetapi efeknya tetap terasa.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, juga mengingatkan bahwa perubahan BBM beroktan rendah bisa mengurangi efisiensi. “Mesin akan mengalami peningkatan suhu dan konsumsi bahan bakar, meskipun kehilangan tenaga sedikit,” tambah Yannes, dilansir KompasTV, Selasa (20/4/2026). Ia menekankan bahwa official announcement ini perlu diimbangi dengan pemantauan rutin terhadap kondisi mesin.

Kerusakan Jangka Panjang dan Solusi

Jayan Sentanuhadi menambahkan bahwa knocking yang terus-menerus berpotensi merusak komponen internal mesin, seperti piston dan kepala silinder. “Dalam jangka panjang, penggunaan Pertalite bisa mempercepat keausan mesin dan memperpendek umur pakai kendaraan,” jelas Jayan. Ia merekomendasikan penggunaan Pertalite untuk mesin dengan desain yang lebih sederhana atau tidak terlalu bergantung pada oktan tinggi.

Sebaliknya, Yannes Martinus Pasaribu menyoroti bahwa mesin dengan teknologi turbo atau kompresi tinggi lebih rentan terhadap risiko ini. “Penggunaan BBM yang tidak sesuai spesifikasi bisa mengurangi daya tahan mesin secara bertahap,” ujarnya. Dengan official announcement yang mengarah pada peralihan BBM, pengguna diingatkan untuk mengecek kecocokan bahan bakar dengan jenis mesin kendaraannya.

Menurut official announcement, perubahan ini juga bertujuan untuk mendorong penggunaan BBM yang lebih ekonomis. Meski ada risiko pada mesin, penghematan biaya bisa menjadi alasan utama bagi banyak konsumen. Namun, Yannes berpendapat bahwa perlu kesadaran lebih untuk menjaga keseimbangan antara biaya dan kinerja mesin. “Pengguna sebaiknya memperhatikan saran dari produsen atau ahli mesin sebelum beralih,” tegasnya.

Join the discussion