Main Agenda: Daftar 10 Negara Paling Sopan di Dunia 2026, Apakah Indonesia Termasuk?
2026: Apakah Indonesia Termasuk? Main Agenda – Dalam era globalisasi yang semakin pesat, kesopanan masyarakat suatu negara menjadi salah satu faktor penting
Daftar 10 Negara Paling Sopan di Dunia 2026: Apakah Indonesia Termasuk?
Main Agenda – Dalam era globalisasi yang semakin pesat, kesopanan masyarakat suatu negara menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kenyamanan pendatang baru. Cara berinteraksi, ekspresi kecil, dan sikap terhadap orang asing sering kali mencerminkan budaya suatu negara. Dengan latar belakang ini, Main Agenda bekerja sama dengan Remitly, perusahaan pengiriman uang lintas negara, melakukan survei untuk mengungkap daftar 10 negara yang dinilai paling sopan dan ramah oleh penduduknya serta pengunjung. Hasilnya mengejutkan, karena Indonesia belum masuk ke dalam peringkat tersebut.
Metode Penilaian dan Kriteria Kesopanan
Survei yang melibatkan 4.697 responden dari 26 negara ini dilakukan melalui platform Prolific. Peserta diminta menilai berbagai aspek kehidupan sosial, termasuk sikap ramah, kepatuhan terhadap norma, dan ekspresi positif dalam interaksi sehari-hari. Penilaian juga mencakup cara penduduk negara tersebut menghormati orang asing, menghargai perbedaan, dan menjaga etika dalam berkomunikasi. Dengan metode ini, Remitly berhasil mengumpulkan data yang mencerminkan gambaran keseluruhan tentang tingkat kesopanan di berbagai negara.
“Kami menggunakan skor berbasis pengalaman pribadi untuk memastikan hasil survei mencerminkan realitas sehari-hari, bukan hanya asumsi atau stereotip,” terang salah satu peneliti dari Remitly.
Selain itu, penilaian juga mencakup aspek seperti kebersihan, kesopanan dalam berbicara, dan sikap hormat terhadap budaya lokal. Negara yang menduduki peringkat pertama harus memiliki kecenderungan alami untuk menunjukkan etika sosial yang tinggi dalam berbagai situasi, termasuk dalam lingkungan yang beragam.
Pemenang dan Karakteristik Budaya Kesopanan
Jepang menjadi negara paling sopan menurut survei dengan 35,15% suara, diikuti oleh Kanada dan Australia yang masing-masing memperoleh 12,5% dan 10,8% penilaian. Kedua negara ini dikenal memiliki kebiasaan untuk tersenyum, menunggu giliran, dan menjaga keramahan dalam berbagai kesempatan. Di antara negara-negara Eropa, Swedia dan Denmark juga menduduki posisi paling atas karena pola hidup yang teratur dan sikap ramah yang konsisten.
Berbeda dengan Jepang dan Kanada, Inggris hanya mendapatkan 6% suara, meski secara umum dianggap memiliki norma sopan santun yang ketat. Hal ini mungkin karena perbedaan persepsi antara penduduk dalam negeri dan pengunjung asing. Di Asia Tenggara, hanya Filipina dan Thailand yang berhasil masuk ke dalam 20 besar, menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki tradisi kebiasaan sosial yang baik meski belum mencapai tingkat kesopanan global seperti negara-negara di Eropa.
Hasil survei ini menggarisbawahi bahwa kesopanan bukan hanya tentang kesadaran akan norma, tetapi juga tentang cara seseorang menunjukkan kepedulian terhadap orang lain. Negara dengan tingkat kesopanan tinggi cenderung memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi antar masyarakat, termasuk dalam lingkungan yang heterogen. Kombinasi antara kebijakan sosial dan kebiasaan sehari-hari menjadikan negara-negara tersebut unggul dalam indikator ini.
Kesopanan sebagai Buku Panduan Budaya
Indonesia, meski memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal yang tinggi, belum masuk dalam daftar 10 negara paling sopan menurut survei. Faktor ini bisa dipengaruhi oleh perbedaan antara persepsi internal dan eksternal. Dalam survei, Indonesia diberi skor rata-rata yang lebih rendah dibandingkan negara-negara lain, meski beberapa daerah di Indonesia ternyata menunjukkan sikap ramah yang luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa kesopanan tidak selalu merata di dalam satu negara, tergantung pada faktor-faktor seperti wilayah, usia, dan pengaruh globalisasi.
Kesopanan masyarakat Indonesia sering dilihat sebagai kebiasaan yang alami, bukanlah satu norma yang dipaksa. Namun, dalam konteks survei yang membandingkan kesopanan dari berbagai negara, Indonesia harus meningkatkan aspek-aspek seperti kesopanan dalam lingkungan formal dan ekspresi yang lebih terukur. Sebagai contoh, beberapa negara yang menduduki peringkat atas menilai bahwa penduduknya cenderung lebih konsisten dalam menjaga kesopanan, baik di tempat umum maupun dalam situasi yang lebih resmi.
Dengan ini, Main Agenda menyarankan bahwa kesopanan adalah salah satu elemen penting dalam menciptakan keharmonisan global. Peningkatan kesadaran akan sikap ramah dan norma sosial yang terukur bisa menjadi langkah untuk meningkatkan reputasi Indonesia sebagai negara yang ramah dalam peringkat kesopanan internasional. Survei ini juga menunjukkan bahwa budaya kesopanan terus berkembang dan bisa diukur secara lebih objektif dalam dunia yang semakin terbuka.
