Skip to content
After Dark
Agustus 6, 2026
Tren

Topics Covered: Mengapa Gen Alpha Suka Asbun atau Asal Bunyi?

Barbara Rodriguez - lenterafakta.com 4 mins read

Mengapa Gen Alpha Suka Asbun atau Asal Bunyi? Topics Covered - Generasi muda masa kini sering kali menunjukkan cara berkomunikasi yang lebih terbuka dan

Mengapa Gen Alpha Suka Asbun atau Asal Bunyi?

Topics Covered – Generasi muda masa kini sering kali menunjukkan cara berkomunikasi yang lebih terbuka dan langsung. Fenomena ini sering disebut sebagai “asbun” atau istilah santai untuk “asal bunyi.” Anak-anak dari usia Gen Alpha, yang lahir antara 2012 hingga 2025, cenderung berbicara tanpa rasa malu atau takut dihukum. Contohnya, seorang pengguna media sosial bernama @tit**** membagikan cerita viral: “Anakku tiba-tiba bertanya, ‘Bunda nanti kalo udah meninggal mau jadi kuntilanak apa tuyul?'” Pernyataan tersebut mencerminkan bagaimana kebiasaan ini menjadi bagian dari pola komunikasi generasi muda.

Dalam konteks Topics Covered, fenomena ini terkait dengan pengaruh teknologi dan perubahan lingkungan sosial. Anak-anak Gen Alpha dibesarkan di tengah akses mudah ke berbagai platform digital, seperti media sosial dan video pendek. Faktor ini membuat mereka lebih terbiasa menyampaikan pendapat secara spontan, bahkan tentang topik yang dianggap sensitif. Misalnya, seorang akun @W12**** menceritakan: “Anakku pernah menanyakan, ‘Bu, kenapa kita ga punya mobil? Kita miskin ya?'” Hal ini menggambarkan bagaimana anak-anak hari ini memahami dunia melalui lensa digital, sehingga tidak memandang kemaluan berbicara langsung.

Faktor Pengaruh pada Pengembangan Bahasa

Psikolog Ulifa Rahma menjelaskan bahwa kebiasaan berbicara Gen Alpha disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kondisi budaya, sosial, ekonomi, dan akses teknologi yang mudah. “Anak-anak yang lahir di era serba cepat dan instan memiliki cara berkomunikasi yang berbeda dari orangtuanya, yang dahulu lebih terbiasa dengan proses yang memakan waktu,” tambah Ulifa. Ia menekankan bahwa kebiasaan ini tidak selalu menunjukkan ketidak sopanan, melainkan mencerminkan cara generasi muda memproses informasi.

“Dalam lingkungan yang serba cepat, anak-anak Gen Alpha lebih mengutamakan kecepatan dalam menyampaikan pendapat daripada pemikiran yang terstruktur. Ini bisa jadi bagian dari pengembangan bahasa mereka, yang mungkin lebih dinamis dan spontan dibandingkan generasi sebelumnya,”

Menurut Ulifa, kemudahan akses teknologi mempercepat proses pembelajaran dan pengambilan keputusan. Contohnya, anak-anak Gen Alpha sering melihat konten video pendek yang membantu mereka memahami dunia melalui banyak perspektif. “Konten ini menjadi sarana untuk mengisi waktu senggang dan membentuk cara berpikir mereka,” jelasnya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kebiasaan ini perlu dikelola agar tidak mengganggu komunikasi yang lebih formal.

Dampak Teknologi Terhadap Perilaku Anak

Perkembangan teknologi juga berpengaruh pada cara anak berinteraksi dengan orang lain. Orang tua yang sibuk sering memberikan kebebasan kepada anak untuk menonton video atau bermain game di gadget. Meski waktu tonton dibatasi, konten yang dilihat biasanya tidak disaring, sehingga memengaruhi pola komunikasi mereka. “Anak-anak Gen Alpha lebih terbiasa merespons sesuatu secara instan, seperti menanggapi video dalam hitungan detik,” ungkap Ulifa.

“Problem solving dijaman sekarang sering dilakukan secara instan, seperti langsung memakai HP untuk merekam apa yang anak katakan. Ini membuat anak merasa omongannya valid dan terdengar menarik,”

Ulifa menambahkan bahwa teknologi memungkinkan anak-anak untuk mengekspresikan diri secara lebih luas, tetapi juga bisa mengurangi kesabaran dalam berkomunikasi. “Mereka mungkin tidak memikirkan dampak ucapan mereka, karena kebiasaan mengekspresikan pikiran langsung sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” katanya. Dengan demikian, peran orang tua dalam mengarahkan pola komunikasi mereka menjadi semakin penting.

Strategi Penyesuaian Pola Asuh

Untuk mengatasi hal ini, Ulifa menyarankan orang tua menjadi teman diskusi, bukan hanya pemberi perintah. “Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk mengungkapkan pendapat, tetapi juga mengajarkan cara mengekspresikan diri secara bijak,” katanya. Hal ini bisa dilakukan dengan memperkenalkan topik-topik yang relevan dalam kehidupan sehari-hari, seperti ekonomi, lingkungan, atau budaya pop.

Kebiasaan asbun juga bisa jadi cara anak mencari perhatian dan pengakuan. “Anak-anak cenderung senang mendapatkan respons cepat, seperti tawa atau reaksi positif dari orang dewasa. Ini memperkuat kebiasaan mereka untuk terus melontarkan hal-hal yang belum sepenuhnya disaring,” pungkas Ulifa. Dengan memahami hal ini, orang tua dapat menyesuaikan pendekatan mereka untuk memastikan anak tetap bisa berkomunikasi dengan baik.

Perbedaan Generasi dalam Komunikasi

Perbedaan generasi dalam komunikasi juga terlihat dari cara mereka mengekspresikan keinginan. Generasi sebelumnya lebih memilih cara berbicara yang sopan dan terstruktur, sementara Gen Alpha lebih terbiasa berbicara langsung dan bebas. “Kebiasaan ini adalah hasil dari perubahan sosial dan budaya, termasuk penggunaan media sosial yang semakin intens,” kata Ulifa. Ia menjelaskan bahwa Gen Alpha tidak melihat masalah komunikasi sebagai hal yang besar, karena kebiasaan berbicara langsung sudah menjadi hal yang alami.

Menurut penelitian, anak-anak Gen Alpha lebih mengutamakan kecepatan dalam menyampaikan informasi daripada keakuratan. “Topik yang dibahas sering kali terfokus pada hal-hal yang menarik perhatian mereka, seperti tren dan hiburan digital,” jelasnya. Dengan demikian, orang tua perlu lebih kreatif dalam menyesuaikan komunikasi mereka agar tidak terasa terlalu kaku, tetapi tetap mendidik.

Konteks Digital dalam Pengembangan Komunikasi

Konteks digital menjadi faktor utama dalam pembentukan cara berkomunikasi Gen Alpha. Dengan kemudahan mengakses berbagai platform, anak-anak belajar untuk berbicara langsung dan berani. “Ini adalah bagian dari cara mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan yang serba cepat dan dinamis,” tutur Ulifa. Ia menambahkan bahwa penggunaan media sosial memungkinkan anak-anak untuk berinteraksi dengan berbagai kalangan, sehingga pola komunikasi mereka semakin luas.

“Konten digital memberikan peluang untuk anak-anak memahami berbagai sudut pandang, termasuk bagaimana orang dewasa memproses informasi. Namun, kebiasaan mengekspresikan pendapat langsung bisa juga membuat mereka kurang memahami kehalusan dalam berbicara,”

Ulifa menekankan bahwa kebiasaan ini perlu dikombinasikan dengan pendidikan yang tepat. “Orang tua bisa mengajarkan anak-anak untuk memahami aturan sosial sambil tetap memberikan ruang bagi ekspresi mereka. Hal ini akan membantu mereka menjadi individu yang lebih percaya diri, tetapi juga lebih bijaksana dalam berkomunikasi,” jelasnya. Dengan demikian, Gen Alpha tidak hanya menjadi representasi kebebasan berbicara, tetapi juga potensi untuk mengembangkan pola komunikasi yang lebih baik.

Join the discussion