Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Important Visit: Dosen Unair Sebut Gajinya Rp 2,6 Juta, Eks Rektor dan Pihak Kampus Angkat Bicara

Robert Anderson - lenterafakta.com 3 mins read

Important Visit: Dosen Unair Keluhkan Gaji Rp2,6 Juta, Eks Rektor dan Kampus Angkat Bicara Important Visit - Sebuah important visit yang menarik perhatian

Important Visit: Dosen Unair Sebut Gajinya Rp 2,6 Juta, Eks Rektor dan Pihak Kampus Angkat Bicara

Important Visit: Dosen Unair Keluhkan Gaji Rp2,6 Juta, Eks Rektor dan Kampus Angkat Bicara

Important Visit – Sebuah important visit yang menarik perhatian publik terjadi di Mahkamah Konstitusi (MK) saat dosen Universitas Airlangga (Unair) Cenuk Widiayastrisna Sayekti memberikan kesaksian tentang gaji pokok yang ia terima hanya sebesar Rp2,6 juta per bulan. Pernyataannya tersebut viral di media sosial, memicu diskusi luas tentang kesejahteraan dosen dan pengelolaan keuangan kampus. Kampus serta mantan rektor Unair turut memberikan respons terkait isu ini.

Kemacetan Gaji Dosen Tetap di Unair

“Dalam sebulan, total gaji yang saya terima termasuk tunjangan tetap dan empat honor tetap cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di Surabaya,”

kata Cenuk. Namun, ia menyoroti bahwa gaji pokok yang menjadi dasar penghasilan masih jauh dari standar pengupahan yang adil. Menurut Cenuk, meskipun telah bekerja lebih dari belasan tahun, penghasilan dasar sebagai dosen tetap tidak sebanding dengan kontribusi yang diberikan, baik dalam bidang pendidikan maupun penelitian.

Dosen yang juga lulusan doktor Australia ini mengungkapkan, saat pertama kali bergabung dengan Unair tahun 2010, gajinya hanya Rp1,2 juta per bulan. Setelah berkembang, angka ini meningkat menjadi Rp2,6 juta, tetapi perbedaan antara gaji pokok dan honor yang diterima masih menimbulkan kekhawatiran. “Setelah semua pengorbanan, pendapatan dasar saya masih jauh dari kebutuhan hidup,” tambahnya.

Penjelasan dari Pihak Kampus dan Eks Rektor

Prof Radian Salman, Direktur Sumber Daya Manusia dan Manajemen Talenta Unair, menjelaskan bahwa gaji pokok dosen tetap non-ASN dinilai relatif kecil, tetapi pendapatan total mencakup berbagai tunjangan dan honor yang memadai. Menurut Radian, Cenuk memiliki masa kerja 4 tahun 6 bulan dan honor bulanan sekitar Rp9,2 juta, termasuk tunjangan fungsional dan keluarga. “Pada pertengahan bulan, dosen juga mendapatkan tambahan tunjangan fungsional,” jelas Radian.

Dosen tetap Unair disamaratakan dengan dosen ASN, dengan perbedaan hanya terletak pada sumber pendanaan. “Dosen PNS gajinya berasal dari pemerintah, sedangkan dosen tetap digaji oleh kampus,” kata Radian. Sementara itu, mantan rektor Unair Prof Mohammad Nasih menyatakan bahwa gaji dosen tetap Unair sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. “Rata-rata per bulan, dosen tetap menerima sekitar Rp16,5 juta, termasuk honor dan insentif,” ujarnya.

Sebelum tahun 2026, Cenuk telah menerima total sekitar Rp90 juta hingga Juni. “Rata-rata per bulan mencapai Rp15 juta, yang menurut saya sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya. Namun, ia menekankan bahwa gaji pokok tetap menjadi fokus utama dalam important visit ini karena merupakan dasar penghasilan dosen.

Masalah ini menjadi sorotan dalam important visit yang berlangsung di MK. Dosen yang sudah mengikuti pendidikan doktor dan sertifikasi pendidik menilai bahwa gaji pokok harus ditingkatkan untuk menjamin kesejahteraan akademisi. “Dosen seharusnya tidak dipaksa mencari pekerjaan tambahan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar,” lanjut Cenuk. Ia menambahkan bahwa tuntutan akademik yang berat membuat kesulitan finansial menjadi lebih berat.

Terlepas dari keluhan Cenuk, kampus mengklaim bahwa sistem penggajian Unair sudah memadai. “Honor dan tunjangan bulanan mencakup berbagai aspek, termasuk pengabdian akademik dan penelitian,” ujar Prof Radian. Namun, masalah keseimbangan antara gaji pokok dan honor tetap masih memicu perdebatan. Dalam important visit ini, selain mengungkapkan kenyataan, Cenuk juga meminta adanya revisi kebijakan pengupahan untuk menjaga daya saing dan kesejahteraan dosen.

Join the discussion