Skip to content
After Dark
Agustus 6, 2026
Tren

Facing Challenges: Fenomena Orangtua Gen Z Ikut Bantu Cari Kerja untuk Anak, Ini Penjelasan Psikolog

Nancy Moore - lenterafakta.com 4 mins read

rangtua Gen Z Ikut Bantu Cari Kerja untuk Anak Facing Challenges adalah tantangan yang semakin dirasakan oleh generasi muda, khususnya Gen Z, dalam menghadapi

Facing Challenges: Fenomena Orangtua Gen Z Ikut Bantu Cari Kerja untuk Anak

Facing Challenges adalah tantangan yang semakin dirasakan oleh generasi muda, khususnya Gen Z, dalam menghadapi persaingan pasar kerja yang semakin ketat. Peran orangtua dalam proses pencarian pekerjaan anak pun mulai berubah, dengan banyak dari mereka aktif melibatkan diri secara langsung. Fenomena ini menunjukkan pergeseran pola asuh yang sebelumnya lebih fokus pada pendidikan akademik, kini beralih ke dukungan langsung dalam proses karier. Banyak orangtua Gen Z, baik pria maupun wanita, tak hanya memberi nasehat, tetapi juga ikut bertindak, bahkan memanfaatkan teknologi untuk mempercepat proses pencarian kerja.

Tren Membantu Pencarian Kerja di Jakarta Job Fair 2026

Dalam acara Jakarta Job Fair 2026 di GOR Senen, Jakarta Pusat, seorang ayah bernama Agustinus (61) menunjukkan contoh nyata fenomena ini. Ia hadir bukan untuk mencari pekerjaan sendiri, melainkan untuk membantu anaknya yang berusia 27 tahun, lulusan Sarjana Hukum. Kehadiran Agustinus dipicu oleh kondisi kesehatan sang anak, yang membutuhkan dukungan lebih intensif. “Saya dan istri datang ke sini untuk mengantarkan CV anak. Dia sedang sakit, jadi kami yang bantu prosesnya,” katanya. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana orangtua Gen Z semakin proaktif dalam menghadapi tantangan mencari pekerjaan.

“Bukan saya yang cari kerja, tapi buat anak saya. Dia usianya 27 tahun, Sarjana Hukum. Karena dia lagi kurang sehat hari ini, saya dan istri yang datang ke sini mengantarkan CV-nya,”

Hal serupa juga dialami Sarina (53), yang mendampingi putranya selama proses wawancara kerja. Menurut Sarina, kehadirannya memberikan dorongan moral agar anaknya lebih percaya diri. “Saya ingin memastikan dia tidak kewalahan dalam menghadapi tantangan pertama di dunia kerja,” katanya. Fenomena ini menjadi bukti bahwa orangtua Gen Z kini lebih peduli pada hasil akhir, bukan hanya proses belajar.

Data Kompas.com: Peran Orangtua dalam Pencarian Pekerjaan Anak

Menurut laporan Kompas.com, sebanyak 44 persen dari Gen Z mengakui bahwa CV mereka pernah diubah atau ditulis oleh orangtua. Selain itu, 20 persen orangtua aktif menghubungi perekrut atas nama anak, sementara 28 persen turut serta dalam negosiasi gaji atau tunjangan. Dari sisi pengaruh, 32 persen pekerja Gen Z menyebut orangtua sebagai faktor utama dalam pengambilan keputusan karier. Fenomena ini menggambarkan bagaimana orangtua ikut merangkul anaknya dalam menghadapi Facing Challenges, terutama di era digital yang mempercepat dinamika pekerjaan.

“Kalau dulu nilai yang ditanamkan orangtua adalah anak harus belajar berjuang sendiri. Sekarang banyak orangtua justru merasa harus memastikan anak tidak gagal atau tidak terluka. Akhirnya rasa cemas itu diterjemahkan menjadi tindakan,”

Ratna Yunita Setiyani, psikolog dari Universitas Aisyiyah Yogyakarta, menambahkan bahwa situasi seperti PHK yang tinggi dan kebutuhan keterampilan baru, seperti AI, memperkuat kekhawatiran orangtua. “Orangtua merasa kalau mereka ikut turun tangan, peluang anak mendapatkan pekerjaan akan lebih besar,” tambah Ratna. Dengan demikian, peran orangtua dalam mencari kerja anak menjadi bagian dari strategi mereka menghadapi Facing Challenges yang kompleks.

Mengapa Gen Z Membutuhkan Dukungan Orangtua

Dalam era digital, batas antara bantuan orangtua dan kemandirian anak mulai kabur. Gen Z terbiasa diawasi sejak kecil, mulai dari tugas sekolah hingga pendaftaran kuliah. Ratna menjelaskan bahwa ini menciptakan pola asuh yang lebih intensif, di mana orangtua secara tidak sadar membantu mengatasi Facing Challenges yang dihadapi anak. “Karena sejak kecil orangtua sudah terbiasa membantu segala kebutuhan anak, maka ketika memasuki dunia kerja, peran tersebut dianggap wajar,” katanya.

Banyak orangtua merasa memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak menikmati hasil usaha pendidikan yang mereka berikan. “Saya sudah biayai kuliah sampai selesai, jadi saya harus pastikan dia mendapatkan pekerjaan,” ungkap Ratna. Namun, ia menekankan bahwa keterlibatan orangtua harus seimbang agar tidak menghambat pertumbuhan kemandirian anak.

Manfaat dan Risiko Keterlibatan Orangtua dalam Mencari Kerja

Ratna menjelaskan bahwa dukungan orangtua bisa menjadi penyangga stres saat menghadapi Facing Challenges. Contohnya, bantuan mencari lowongan atau simulasi wawancara di rumah. “Kalau porsinya tepat, intervensi ini justru memberikan manfaat, bukan hambatan,” ujarnya. Namun, jika orangtua terlalu dominan, hal itu bisa mengurangi kesempatan anak belajar mandiri. Dukungan ini juga memberikan rasa aman, tetapi bisa menimbulkan ketergantungan jika tidak dikelola dengan baik.

Fenomena ini mengisyaratkan bahwa orangtua Gen Z semakin aktif dalam mengatasi tantangan pekerjaan anak, meski secara tidak langsung mengubah pola asuh mereka. “Orangtua kini melihat pekerjaan sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi, bukan hanya hasil akhir dari usaha belajar,” kata Ratna. Dengan demikian, keterlibatan orangtua dalam pencarian kerja menjadi bagian dari strategi menghadapi Facing Challenges yang dinamis dan penuh persaingan.

Join the discussion