Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Main Agenda: Benarkah Anak Suka Ngobrol Sendiri Tanda Parenting Berhasil? Ini Kata Psikolog

Michael Miller - lenterafakta.com 3 mins read

n Agenda: Anak Ngobrol Sendiri Tanda Parenting Berhasil? Main Agenda - Banyak orang tua merasa bangga ketika anaknya sering berbicara dengan dirinya sendiri

Main Agenda: Benarkah Anak Suka Ngobrol Sendiri Tanda Parenting Berhasil? Ini Kata Psikolog

Main Agenda: Anak Ngobrol Sendiri Tanda Parenting Berhasil?

Main Agenda – Banyak orang tua merasa bangga ketika anaknya sering berbicara dengan dirinya sendiri atau bermain sambil mengobrol dengan mainan. Perilaku ini sering dianggap sebagai tanda bahwa pendidikan orangtua berjalan baik. Namun, psikolog Ratna Yunita Setiyani dari Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta mengatakan bahwa fenomena ini bisa jadi indikator positif, tetapi bukan ukuran mutlak kesuksesan parenting. Menurutnya, kebiasaan anak ngobrol sendiri terkait dengan rasa aman dan kemampuan regulasi diri, yang memungkinkan anak berpikir kritis dan menenangkan emosi.

Perilaku Berbicara Sendiri: Konsep Psikologi yang Mendukung

Berdasarkan teori Lev Vygotsky, anak usia 3 hingga 7 tahun sering menggunakan private speech sebagai bentuk komunikasi internal. Cara ini membantu mereka mengatur emosi, berpikir secara strategis, dan mengatasi tantangan. “Anak yang suka ngobrol sendiri mengembangkan kognisi lebih baik karena merasa lingkungan pendidikannya aman,” kata Ratna. Ia menambahkan bahwa kebiasaan ini bisa terlihat saat anak bermain, belajar, atau bahkan saat ia menyendiri di ruang yang familiar.

“Main Agenda menyebutkan bahwa anak yang berbicara dengan dirinya sendiri tidak selalu memperlihatkan kemandirian, tapi juga bisa menjadi tanda mereka mengandalkan kepercayaan pada orangtua,” ujar psikolog tersebut.

Lebih lanjut, Ratna menjelaskan bahwa bermain sambil berbicara ke mainan termasuk dalam pretend play. Aktivitas ini melatih kemampuan berbahasa, kreativitas, dan empati. Anak yang merasa dijaga dengan baik biasanya lebih percaya diri untuk bereksplorasi sendiri, tanpa takut dihakimi. Namun, ia memperingatkan bahwa ada anak yang diam karena cemas, bukan karena kepercayaan.

Main Agenda: Mekanisme Penenangan Emosional dalam Berbicara Sendiri

Menurut Ratna, kebiasaan bernyanyi sendiri atau menghela napas saat bermain adalah bentuk self-soothing. Teknik ini membantu anak mengatasi kecemasan dan menenangkan diri. “Anak yang merasa nyaman menggunakan suara mereka sendiri sebagai alat menenangkan, seperti orang dewasa yang mendengarkan musik saat stres,” tambahnya. Fenomena ini muncul karena lingkungan yang mendukung dan penuh kasih sayang, yang menurutnya menjadi inti dari parenting yang baik.

Main Agenda menyoroti bahwa anak yang suka ngobrol sendiri juga mungkin menunjukkan kemampuan kognitif yang lebih cepat. Namun, Ratna menekankan bahwa ini tidak selalu berarti anak penuh percaya diri. “Anak bisa berbicara sendiri karena kebiasaan, tetapi bukan karena merasa aman,” jelasnya. Ia menyarankan orangtua untuk memperhatikan pola berbicara anak, bukan sekadar menilai kemandirian mereka.

Main Agenda: Indikator Kelekatan yang Aman

Ratna mengungkap bahwa anak dengan kelekatan aman cenderung bermain secara kreatif dan menghabiskan waktu lebih lama dalam eksplorasi. Mereka juga lebih mudah menenangkan diri saat menghadapi kesulitan, baik melalui komunikasi internal maupun bantuan orangtua. “Main Agenda menyatakan bahwa anak yang bisa ngobrol sendiri adalah bukti ia punya koneksi yang kuat dengan lingkungan sekitar,” tegas psikolog tersebut.

Kemampuan regulasi diri dalam anak ngobrol sendiri bisa terlihat dari bagaimana mereka mengatur permainan, menyelesaikan masalah, atau bahkan mengembangkan kreativitas. Namun, kebiasaan ini tidak selalu terkait langsung dengan pola asuh yang baik. “Ada anak yang lebih suka diam karena kebiasaan, bukan karena perasaan aman,” jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa Main Agenda perlu dilihat secara holistik, bukan hanya melalui satu tanda.

Bagaimana Orangtua Membentuk Perilaku Ngobrol Sendiri?

Main Agenda menyoroti bahwa anak yang suka ngobrol sendiri perlu lingkungan yang stimulatif dan mendukung. Orangtua dapat memfasilitasi ini dengan memberikan ruang untuk eksplorasi, merespons kebutuhan anak dengan empati, dan memberikan kesempatan untuk bermain secara bebas. “Anak yang merasa aman akan lebih terbuka untuk bereksperimen dengan dunianya sendiri,” imbuh Ratna. Ia juga menyarankan orangtua untuk tidak langsung menganggap kebiasaan ini sebagai tanda keberhasilan, tetapi menilai secara menyeluruh.

Dalam praktiknya, Main Agenda bisa diaplikasikan dengan memahami bahwa setiap anak memiliki pola berkomunikasi yang berbeda. Anak yang diam saat bermain tidak selalu memperlihatkan kecemasan, tetapi mungkin hanya menyukai pendekatan eksplorasi yang berbeda. “Kunci dari Main Agenda adalah mengenali kebutuhan anak dan memastikan mereka merasa didukung dalam berbagai bentuk komunikasi,” pungkas psikolog tersebut.

Join the discussion