Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Mengapa Dieng Diselimuti Es Saat Musim Kemarau? Ini Penjelasan BMKG

Nancy Moore - lenterafakta.com 4 mins read

Mengapa Dieng Diselimuti Es Saat Musim Kemarau? Ini Penjelasan BMKG Mengapa Dieng Diselimuti Es Saat Musim - Dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah kembali

Mengapa Dieng Diselimuti Es Saat Musim Kemarau? Ini Penjelasan BMKG

Mengapa Dieng Diselimuti Es Saat Musim Kemarau? Ini Penjelasan BMKG

Mengapa Dieng Diselimuti Es Saat Musim – Dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah kembali menjadi sorotan publik karena fenomena alam yang memicu penurunan suhu udara hingga menyelimuti wilayah tersebut dengan lapisan es. Fenomena ini terjadi meskipun saat musim kemarau, yang biasanya dianggap sebagai masa panas. Hal ini menimbulkan pertanyaan, Mengapa Dieng Diselimuti Es Saat musim kemarau? BMKG memberikan penjelasan mengenai penyebab fenomena ini yang dikenal sebagai embun upas.

Penyebab Fenomena Embun Upas di Dieng

Embun upas adalah fenomena meteorologi yang terjadi saat kondisi cuaca tertentu menyebabkan suhu udara turun di bawah titik beku. Menurut Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, fenomena ini sering terjadi selama musim kemarau, khususnya pada bulan Juni hingga Agustus. Pemicunya adalah angin muson timur yang berasal dari Benua Australia, yang mengalami perubahan arah dan menghantarkan udara dingin ke wilayah Indonesia.

Kondisi geografis Dieng juga berperan dalam fenomena ini. Wilayah yang terletak di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut memiliki suhu udara yang lebih dingin dibandingkan daerah rendah. Suhu yang turun drastis, terutama pada malam hari atau menjelang matahari terbit, memungkinkan embun yang terbentuk menempel di permukaan tanah dan tumbuhan membeku.

“Fenomena embun upas di Dieng selama musim kemarau bukanlah hal yang tidak wajar. Ini adalah bagian dari siklus alam yang dipengaruhi oleh perubahan pola angin dan intensitas radiasi panas,” ujar Yoga dalam pernyataannya.

Faktor-Faktor yang Memperkuat Fenomena Ini

Menurut Yoga, beberapa faktor memperkuat kemungkinan terbentuknya embun upas di Dieng. Pertama, kondisi atmosfer yang stabil selama musim kemarau mengurangi adanya gangguan cuaca seperti hujan, sehingga memungkinkan udara dingin bertahan lama. Kedua, kelembapan udara yang tinggi di kawasan tersebut menciptakan kondisi ideal untuk pembentukan embun. Ketiga, permukaan tanah yang terbuka dan hampir tidak terlindung oleh vegetasi membuat suhu udara lebih cepat turun.

Dalam penjelasannya, BMKG menegaskan bahwa suhu terendah di Dieng mencapai -1,2°C pada pukul 23.20 UTC tanggal 8 Juli 2026. Meski demikian, masyarakat masih terkesan dengan istilah “Dieng membeku” yang merujuk pada fenomena ini. Istilah ini lebih terkenal di kalangan lokal, sementara dalam dunia ilmiah disebut sebagai embun upas.

“Selama musim kemarau, suhu udara sering turun hingga menyentuh titik beku. Hal ini disebabkan oleh radiasi panas yang dilepaskan ke atmosfer pada malam hari, serta angin muson timur yang mempercepat pendinginan,” jelas Yoga.

Konteks Sosial dan Wisata di Dieng

Fenomena embun upas di Dieng tidak hanya menjadi perhatian ilmuwan, tetapi juga menarik minat wisatawan. Setiap tahun, banyak turis memanfaatkan musim kemarau untuk menikmati suasana unik yang terjadi saat embun membeku di permukaan bumi. Namun, meski menarik, fenomena ini juga memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Dalam keterangan terpisah, Prakirawan BMKG Fajar Ridzki Abdullah menambahkan bahwa suhu udara yang menurun hingga minus 6°C pada beberapa hari lalu adalah hasil dari pengukuran tertentu. Ia menegaskan bahwa suhu terendah di wilayah Dieng mencapai -1,2°C, dengan kondisi cuaca yang terus berubah setiap hari.

“Suhu yang turun hingga di bawah nol derajat Celsius pada malam hari adalah fenomena alami yang bisa terjadi di wilayah dataran tinggi, termasuk Dieng,” kata Fajar.

Perbandingan dengan Wilayah Lain

Fenomena embun upas di Dieng memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Dieng terletak di dataran tinggi, sementara wilayah seperti Toba di Sumatra atau Tangkoko Dufan di Sulawesi juga mengalami fenomena serupa, tetapi dengan kondisi cuaca yang berbeda.

Menurut BMKG, embun upas di Dieng tidak hanya dipengaruhi oleh angin muson timur, tetapi juga oleh pola hujan dan kondisi permukaan tanah. Dataran tinggi memiliki daya retensi panas yang lebih rendah, sehingga suhu udara dapat turun drastis. Hal ini berbeda dengan kawasan dataran rendah yang cenderung memiliki suhu lebih stabil.

Persiapan untuk Menghadapi Fenomena Ini

BMKG mengimbau masyarakat dan pengunjung untuk mempersiapkan diri sebelum berkunjung ke Dieng saat musim kemarau. Pakaian hangat seperti jaket, sarung tangan, dan kaos kaki sangat dianjurkan untuk menghindari kejutan suhu dingin yang bisa terjadi di malam hari atau pagi hari.

Fenomena embun upas di Dieng juga menjadi kesempatan untuk mengamati perubahan iklim. BMKG mengatakan bahwa fenomena ini adalah bagian dari siklus alam yang bisa terjadi setiap tahun, dengan intensitas yang berbeda tergantung pada pola cuaca dan kelembapan udara.

“Kami mengajak masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan suhu, terutama di malam hari saat embun upas terbentuk,” tegas Fajar.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Secara keseluruhan, Mengapa Dieng Diselimuti Es Saat musim kemarau adalah pertanyaan yang valid karena fenomena ini memang memerlukan kondisi cuaca tertentu. BMKG menegaskan bahwa suhu yang mencapai di bawah 0°C adalah hasil dari perubahan pola angin dan kondisi atmosfer yang stabil.

Untuk meminimalkan risiko akibat suhu dingin, masyarakat di sekitar Dieng disarankan untuk mengatur aktivitas ke luar rumah selama periode suhu rendah. Selain itu, penelitian lebih lanjut tentang pola cuaca di Dieng bisa membantu memprediksi fenomena ini dengan lebih akurat, sehingga masyarakat dapat bersiap sebelumnya.

Join the discussion