Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Main Agenda: Indonesia dan 7 Negara Lainnya Kecam Serangan Israel terhadap 2 Masjid di Tepi Barat Palestina

Michael Miller - lenterafakta.com 3 mins read

am Serangan Israel di Tepi Barat Main Agenda - Sebagai bagian dari Main Agenda, delapan negara, termasuk Indonesia, secara tegas mengkritik serangan Israel

Main Agenda: Indonesia dan 7 Negara Lainnya Kecam Serangan Israel terhadap 2 Masjid di Tepi Barat Palestina

Main Agenda: Delapan Negara Kecam Serangan Israel di Tepi Barat

Main Agenda – Sebagai bagian dari Main Agenda, delapan negara, termasuk Indonesia, secara tegas mengkritik serangan Israel terhadap dua masjid di Tepi Barat, Palestina. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia melalui akun resmi di platform X pada Rabu (18/6/2026) malam, menyusul peristiwa serangan yang terjadi pada Rabu (17/6/2026) pagi. Kedua masjid, yaitu Masjid Agung Jiljilya dan Masjid Al-Farouq di Mazar’a al-Nubani, menjadi korban serangan yang menimbulkan kecaman internasional. Main Agenda menggarisbawahi perlunya dukungan global terhadap hak-hak umat Islam di wilayah tersebut.

Konteks Serangan Terhadap Masjid

Menurut laporan Anadolu Agensi, serangan terhadap Masjid Agung Jiljilya dan Masjid Al-Farouq dilakukan oleh pemukim Israel yang menyerbu desa Jiljilya pada Rabu (17/6/2026) pagi. Dalam aksinya, mereka tidak hanya menghancurkan bangunan masjid, tetapi juga menulis slogan-slogan berbahasa Ibrani di dindingnya. Ruang salat perempuan mengalami kebakaran, sementara bagian luar masjid rusak parah. Tindakan ini dianggap sebagai bentuk kekerasan terhadap tempat suci, yang berdampak signifikan pada komunitas lokal. Main Agenda menyoroti bagaimana serangan tersebut mengingatkan kembali peran masjid dalam sejarah perjuangan Palestina.

Beberapa laporan internasional menunjukkan bahwa serangan terhadap masjid di Tepi Barat bukanlah kejadian pertama. Namun, intensitas dan keberulangannya menimbulkan perhatian khusus. Pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Indonesia menyebutkan bahwa tindakan Israel mengganggu ketenangan warga Palestina dan melanggar prinsip kesetaraan agama. Main Agenda juga menekankan pentingnya memperkuat koordinasi antar-negara untuk mengambil langkah konkret dalam mendukung hak-hak Palestina.

Peristiwa di Daerah Barouq

Di kawasan Barouq, yang terletak di antara Irfaiya dan Ad-Deirat, pasukan pendudukan Israel melakukan penyerangan bersama alat berat. Pada hari yang sama, mereka merobohkan rumah warga Palestina yang masih dihuni. Buldoser menghancurkan bangunan seluas 180 meter persegi milik Hamza Kamel al-Adra. Selain itu, kekerasan terjadi di Desa Deir Abu Mashal dan Al-Mughayyir, timur Ramallah, di mana dua warga Palestina terluka akibat tembakan Israel. Main Agenda mencatat bahwa peristiwa ini menjadi bagian dari rangkaian serangan yang memicu kegelisahan internasional.

Dalam pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Indonesia menyebutkan bahwa tindakan Israel terhadap tempat ibadah dan situs keagamaan melanggar hukum internasional serta resolusi PBB. Main Agenda memperkuat argumen ini dengan menunjukkan bagaimana penghancuran masjid menjadi simbol dari upaya mengubah identitas budaya dan agama di wilayah yang diduduki. Selain itu, pernyataan tersebut menekankan perlunya investigasi internasional untuk mengungkap pelaku kejahatan dan menegakkan keadilan.

Pengaruh Global pada Situasi Tepi Barat

Kecaman terhadap serangan Israel di Tepi Barat menunjukkan dampak global dari Main Agenda. Delapan negara yang bersuara termasuk Indonesia, Turki, Suriah, serta beberapa negara Arab lainnya, menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina. Mereka bersama-sama menyerukan penegakan hukum internasional dan dukungan untuk pembentukan Negara Palestina merdeka dan berdaulat berdasarkan perbatasan tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. Main Agenda menjadikan ini sebagai momentum untuk memperkuat koalisi internasional dalam mendukung hak-hak Palestina.

Sejumlah pelaku kekerasan Israel juga disebut dalam pernyataan tersebut, termasuk pemukim yang melakukan penyerangan terhadap dua masjid. Main Agenda menekankan bahwa tindakan ini tidak hanya merugikan komunitas lokal, tetapi juga mengancam kepercayaan internasional terhadap keadilan dalam konflik Tepi Barat. Dengan demikian, pernyataan dari delapan negara ini diharapkan dapat memicu tindakan lebih lanjut dari komunitas global, termasuk pemulihan situs suci dan perlindungan warga sipil.

Dalam konteks keseluruhan, Main Agenda menjadi penting untuk mengkoordinasikan respons internasional terhadap serangan Israel. Pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Indonesia tidak hanya menyoroti kekerasan terhadap dua masjid, tetapi juga mengingatkan dunia tentang perlunya konsistensi dalam mendukung hak-hak Palestina. Dengan menggabungkan upaya diplomatik dan kemitraan global, Main Agenda berharap bisa mendorong penyelesaian konflik yang adil dan berkelanjutan.

Join the discussion