Mi Instan Rasa Ayam Dikaitkan dengan 106 Kasus Salmonella di 14 Negara Eropa – Merek Apa?
aitkan dengan 106 Kasus Salmonella di 14 Negara Eropa Mi Instan Rasa Ayam Dikaitkan dengan 106 - Kasus infeksi Salmonella yang melibatkan mi instan rasa ayam
Mi Instan Rasa Ayam Dikaitkan dengan 106 Kasus Salmonella di 14 Negara Eropa
Mi Instan Rasa Ayam Dikaitkan dengan 106 – Kasus infeksi Salmonella yang melibatkan mi instan rasa ayam telah mencemaskan warga di 14 negara Eropa. Badan Pengawasan Pangan dan Kesehatan Eropa (EFSA) serta Badan Pemantauan Penyakit di Eropa (ECDC) mengonfirmasi adanya wabah yang diduga berawal dari produk mie instan beraroma ayam yang didistribusikan ke berbagai wilayah. Dalam laporan terbaru, total 106 kasus tercatat sejak November 2025 hingga Juni 2026, dengan sebanyak 49 pasien membutuhkan perawatan medis. Kebanyakan korban berusia anak-anak dan remaja, yang lebih rentan terhadap efek keracunan dari bakteri ini.
Penyelidikan Mengungkap Sumber Kontaminasi
“Produk mie rasa ayam dipercaya sebagai sumber infeksi yang paling mungkin, berdasarkan bukti yang menghubungkan berbagai kasus dengan produk dari merek yang sama,” jelas EFSA dan ECDC dalam pernyataan mereka.
Menurut laporan dari *Times of India*, penyelidikan menunjukkan bahwa mi instan yang terlibat diproduksi oleh perusahaan satu merek di Ukraina. Produk ini memiliki berbagai varian rasa, seperti ayam, ayam pedas, daging sapi, bebek, udang, kari, dan sayuran. Distribusi dimulai pada Januari 2026 melalui distributor grosir di Polandia, lalu menyentuh pasar di Jerman, Lithuania, Denmark, Republik Ceko, dan Inggris. EFSA mengungkapkan bahwa strain Salmonella Stanley yang ditemukan di kemasan produk tersebut memicu wabah di sekitar 14 negara.
Reeva Foods Terlibat dalam Kasus Kontaminasi
Reeva Foods, merek mie instan yang diproduksi oleh Euro Food Service, mengungkapkan pada 25 Juni 2026 bahwa kontaminasi Salmonella Stanley terkait dengan sejumlah produk mereka, khususnya varian Chicken Flavour dan Hot Chicken Flavour. Perusahaan ini telah melakukan audit internal, menarik kembali barang dari jalur distribusi, serta mengambil tindakan pencegahan lainnya. Mereka juga menegaskan telah bekerja sama dengan otoritas terkait di berbagai negara untuk memastikan keamanan produk.
“Keselamatan konsumen merupakan prioritas utama kami,” kata Reeva Foods dalam pernyataannya.
EFSA dan ECDC menyatakan bahwa produk yang sama yang ditarik dari pasar Jerman dan Lithuania menunjukkan kecocokan dengan strain penyebab wabah. Ini memberikan dasar kuat bahwa rantai pasokan menjadi sumber kontaminasi utama. Otoritas Eropa menyarankan penggunaan produk dengan hati-hati hingga penyelidikan lebih lanjut dilakukan. Beberapa negara, seperti Hongaria dan Norwegia, sedang mengevaluasi langkah tambahan untuk mengendalikan penyebaran.
Salah satu langkah pencegahan yang diambil adalah menghentikan distribusi produk yang terlibat di 14 negara. Perusahaan juga meluncurkan kampanye edukasi untuk mengingatkan konsumen tentang cara memasak mie instan secara aman, seperti memastikan air mendidih dan memasak hingga matang. Meski demikian, EFSA mengingatkan bahwa risiko infeksi tetap ada karena beberapa konsumen mungkin tidak mematuhi panduan pemasakan.
Kasus Tersebar di Berbagai Negara Eropa
Infeksi Salmonella telah terjadi di Austria, Inggris, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Prancis, Jerman, Hongaria, Latvia, Lithuania, Belanda, Norwegia, Polandia, dan Swedia. Dari daftar tersebut, sebagian besar kasus terjadi di negara-negara yang menjadi pusat distribusi mi instan rasa ayam. EFSA mengatakan bahwa bukti mikrobiologis dari strain yang ditemukan memperkuat kaitan antara produk ini dan wabah.
Salah satu negara yang paling terdampak adalah Jerman dan Lithuania, di mana sejumlah besar kasus tercatat. Kedua negara ini juga menjadi tempat penarikan produk dari pasar. Selain itu, negara-negara seperti Denmara dan Estonia menunjukkan pola serupa, dengan warga yang terkena infeksi berasal dari konsumsi produk yang sama. EFSA menyarankan para negara untuk memantau kasus lebih lanjut dan berkoordinasi dalam mengambil tindakan preventif.
Meski wabah ini belum mengakibatkan kematian, EFSA menekankan pentingnya kecepatan respons dalam menghentikan distribusi produk berisiko. Tindakan pencegahan seperti mengganti bahan baku, mengecek proses pemeriksaan kualitas, dan memperbaiki standar higiene produksi sedang dilakukan oleh perusahaan. Otoritas pangan di beberapa negara juga berupaya untuk melacak semua unit produk yang telah terjual dan memberi peringatan kepada konsumen.
Gejala dan Dampak Infeksi Salmonella
Gejala keracunan Salmonella umumnya meliputi diare, demam, muntah berat, dehidrasi, serta nyeri perut. Sebagian besar pasien akan pulih dalam waktu satu hingga tiga hari, tetapi kondisi ini bisa memperparah gejala pada anak-anak, orang tua, atau individu dengan sistem imun yang lemah. Dalam beberapa kasus, infeksi memerlukan rawat inap atau pengobatan intensif.
EFSA memperkirakan bahwa angka kasus ini bisa terus meningkat jika produk mi instan rasa ayam tidak segera ditarik dari pasaran. Mereka juga mengimbau konsumen untuk memperhatikan tanggal kedaluwarsa dan cara penyimpanan produk. Tidak hanya itu, riset tambahan sedang dilakukan untuk mengecek apakah variasi rasa lain dari produk tersebut juga berpotensi menyebabkan infeksi.
Kesimpulan dan Langkah Peningkatan
Kasus Salmonella yang diduga berasal dari mi instan rasa ayam menjadi perhatian besar di Eropa. Dengan lebih dari 100 kasus tercatat dan terdistribusinya produk ke 14 negara, EFSA dan ECDC berupaya memastikan langkah-langkah yang tepat untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Reeva Foods menegaskan komitmen mereka untuk memperbaiki keamanan produk dan berkomunikasi secara transparan dengan konsumen. Dengan kejadian ini, pentingnya standar pangan yang ketat dan pengawasan terhadap distribusi makanan siap santap kembali menjadi sorotan.
