Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Latest Program: 10 Ilmuwan dan Peraih Nobel di AS-Inggris Pindah ke China, Ada Apa?

Mary Smith - lenterafakta.com 2 mins read

10 Ilmuwan dan Peraih Nobel di AS-Inggris Pindah ke China, Ada Apa? Latest Program - Kebijakan pemerintah Tiongkok dalam mendukung riset ilmiah semakin terasa

Latest Program: 10 Ilmuwan dan Peraih Nobel di AS-Inggris Pindah ke China, Ada Apa?

10 Ilmuwan dan Peraih Nobel di AS-Inggris Pindah ke China, Ada Apa?

Latest Program – Kebijakan pemerintah Tiongkok dalam mendukung riset ilmiah semakin terasa dampaknya. Banyak peneliti ternama dari Amerika Serikat serta Inggris memilih beralih ke negara ini, bukan karena biaya hidup yang lebih terjangkau, tetapi karena peluang karier yang lebih menjanjikan. Pemerintah Tiongkok secara aktif memberikan fasilitas lengkap dan dana besar, sementara di AS dan Inggris, dana riset terbatas dan kondisi politik terkadang memengaruhi kebebasan penelitian.

Perpindahan Mulai Terjadi Sejak 2025

Menurut laporan dari Nature pada Rabu, 25 Maret 2026, tren ini sudah mulai terjadi sejak tahun 2025 lalu. Tiongkok mendorong kolaborasi antara sektor swasta dan akademisi, termasuk donasi miliaran yuan, pendirian lembaga riset, serta kemitraan universitas dengan perusahaan teknologi. Akibatnya, laboratorium, beasiswa, dan pusat penelitian baru mulai didanai secara intensif oleh perusahaan besar seperti pengembang AI, farmasi, dan semikonduktor.

Di sisi lain, South Morning China Post melaporkan pada Jumat, 10 Juli 2026, bahwa para ilmuwan yang memutuskan hijrah ke Tiongkok termasuk tokoh ternama di bidangnya. Dari mereka yang sudah berpengalaman 40 tahun, hingga peneliti chip Microsoft, hingga peraih Nobel tahun lalu, semuanya tertarik dengan lingkungan riset yang lebih stabil dan mendukung.

Beberapa Contoh Ilmuwan yang Pindah

Omar Yaghi, pemenang Nobel Kimia tahun lalu, memilih bergabung dengan Universitas Tsinghua di Tiongkok untuk memimpin penelitian AI. Ia mengungkapkan bahwa Tiongkok lebih ramah terhadap ilmuwan perintis, terutama dalam bidang data dan struktur sel. Selain itu, seorang ilmuwan yang berfokus pada lubang hitam meninggalkan AS menuju Shanghai setelah menerima program fellowship khusus untuk peneliti muda dari Amerika Serikat dan Kanada.

“China mendukung pembangunan bank data kelompok struktur sel skala ultra-besar dengan presisi tinggi,” kata ilmuwan tersebut.

Jiang Jianfeng, pakar semikonduktor, mengatakan keputusannya kembali ke tanah air adalah pilihan pribadi. Namun, dalam 18 bulan di Tiongkok, ia sudah mampu menjadi pembimbing doktor, sementara di barat membutuhkan waktu hingga sepuluh tahun.

Chih-Ying Su, ahli neurobiologi yang meneliti indra penciuman menggunakan lalat buah dan nyamuk, resmi meninggalkan jabatan wakil ketua fakultas di University of California San Diego. Ia bergabung dengan Shenzhen Academy of Medical Sciences (SMART) untuk melanjutkan penelitian. Sementara Liang Jie, pencipta teknologi Windows Media Video Player dan cakram Blu-ray, memutuskan membawa keahlian besar tersebut ke Tiongkok untuk dikembangkan lebih lanjut.

Beberapa ilmuwan lain juga mengambil langkah serupa. Seorang pakar chip memori meninggalkan University of California, Irvine, setelah lebih dari dua dekade mengabdi, untuk bergabung dengan perusahaan material konduktif terkemuka di Tiongkok bagian timur. Di sisi lain, seorang pakar motor listrik kelas dunia yang memiliki karier hampir 40 tahun di Inggris kini menjabat profesor di Hong Kong Polytechnic University.

Join the discussion