Waspada Sound Horeg – Dokter Sebut Telinga Bisa Rusak dalam Hitungan Detik
Waspada Sound Horeg, Dokter Sebut Telinga Bisa Rusak dalam Hitungan Detik Waspada Sound Horeg - Pertunjukan musik dengan volume suara besar kini menjadi tren
Waspada Sound Horeg, Dokter Sebut Telinga Bisa Rusak dalam Hitungan Detik
Waspada Sound Horeg – Pertunjukan musik dengan volume suara besar kini menjadi tren di media sosial. Fenomena ini, yang dikenal sebagai sound horeg, sering diadakan sebagai acara hiburan. Namun, intensitas suara yang sangat tinggi dari pertunjukan ini berpotensi merusak organ pendengaran secara langsung. Dalam waktu singkat, bahkan detik-detik, paparan suara ekstrem bisa menyebabkan gangguan pendengaran permanen.
Standar Kebisingan Medis
Dokter spesialis THT dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Indra Setiawan, menjelaskan bahwa tingkat kebisingan pada sound horeg melebihi ambang batas aman. Menurut standar Kementerian Kesehatan dan WHO, suara hingga 85 desibel masih dianggap aman jika didengar selama delapan jam sehari. Namun, sound horeg menghasilkan suara hingga 120-135 desibel, yang jauh lebih kuat.
“Setiap peningkatan tiga desibel memangkas durasi paparan suara aman menjadi setengahnya,” kata dr. Indra saat dihubungi Kompas.com pada Senin (13/7/2026).
Dengan level 121 desibel, waktu aman untuk mendengar hanya sekitar tujuh detik. Di tingkat 130 desibel, durasi aman lagi berkurang menjadi sekitar satu detik setengah. Pada intensitas ini, risiko kerusakan telinga meningkat tajam. Bagian paling rentan adalah koklea, tempat sel-sel rambut yang berfungsi mengubah energi suara menjadi impuls listrik.
Gejala awal kerusakan telinga, seperti berdengung, sering muncul setelah terpapar suara keras. dr. Indra mengungkapkan bahwa di Malang, jumlah pasien dengan keluhan pendengaran kerap naik signifikan setelah acara serupa. Banyak orang baru menyadari masalah ini ketika kesulitan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Kerusakan juga bisa terjadi di telinga tengah akibat tekanan udara dari suara ekstrem. Jika dibiarkan, hal ini berisiko menyebabkan robekan pada gendang telinga, yang memerlukan operasi. Masyarakat diingatkan untuk tidak hanya mengandalkan earplug berbahan busa, karena efek pelindungnya terbatas hanya sekitar 10 desibel.
Rekomendasi untuk Masyarakat
Indra menyarankan agar masyarakat menjaga jarak dari sumber suara, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan. Ia juga menyebutkan bahwa Fakultas Kedokteran UMM memiliki alat pengukur kebisingan untuk menentukan jarak aman. “Kami siap bekerja sama dengan pemerintah daerah dan institusi lain agar hiburan tetap bisa diakses tanpa mengganggu kesehatan,” tambahnya.
