Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Historic Moment: Arab Saudi-Houthi Saling Serang, Yaman Terancam Kembali Terjerumus ke Perang

Jennifer Thomas - lenterafakta.com 3 mins read

uthi Memanas, Yaman Terancam Kembali Terjebak dalam Perang Historic Moment: Konflik antara Arab Saudi dan Houthi kembali memuncak, dengan tindakan saling

Historic Moment: Arab Saudi-Houthi Saling Serang, Yaman Terancam Kembali Terjerumus ke Perang

Konflik Arab Saudi-Houthi Memanas, Yaman Terancam Kembali Terjebak dalam Perang

Historic Moment: Konflik antara Arab Saudi dan Houthi kembali memuncak, dengan tindakan saling serang yang mengancam keseimbangan damai Yaman. Setelah gencatan senjata yang berlangsung sejak 2022 berhasil mengurangi intensitas perang selama beberapa tahun terakhir, situasi kembali memanas setelah kedua pihak meluncurkan serangan udara yang menargetkan fasilitas penerbangan. Peristiwa ini memicu kekhawatiran bahwa Yaman mungkin kembali terjebak dalam konflik besar, yang berpotensi memperburuk krisis politik dan ekonomi yang sudah sangat rumit.

Konflik Baru Berawal dari Serangan Rudal

Pada Senin (13/7/2026), Houthi meluncurkan rudal dan pesawat tanpa awak ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi sebagai respons atas serangan udara yang menyerang Bandara Sanaa di Yaman pada hari yang sama. Tindakan ini menunjukkan intensitas yang kembali meningkat, dengan Houthi mengklaim bahwa Arab Saudi bertanggung jawab atas serangan tersebut. Meski tidak ada laporan korban jiwa, serangan ini memperlihatkan kemungkinan kembalinya perang yang kini semakin mendekati titik kritis.

Menurut analis senior International Crisis Group, Ahmed Nagi, “Historic Moment ini menunjukkan bahwa Houthi sedang menguji garis merah baru. Jika mereka berhasil, kemungkinan tuntutan mereka akan semakin besar, dan mereka bisa berupaya melanggar batas-batas yang sebelumnya dianggap tak terjangkau.” Analisis ini menggarisbawahi betapa signifikan perang gerilya yang dilakukan Houthi dalam menantang kekuasaan Arab Saudi di wilayah udara Yaman.

Pemicu Konflik: Tuduhan Penerbangan Iran

Ketegangan terbaru bermula ketika Houthi menuduh Arab Saudi menghalangi penerbangan pesawat Iran yang membawa delegasi mereka ke Teheran untuk menghadiri pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Saat pesawat tersebut kembali ke Yaman, Houthi mengklaim bahwa Saudi menyerang Bandara Sanaa untuk mencegah pendaratan. Meski penerbangan akhirnya dialihkan ke bandara lain, kejadian ini memicu respons langsung dari Arab Saudi yang selama ini dianggap sebagai penghalang untuk kebebasan gerak Houthi.

“Arab Saudi selama ini cenderung menahan diri dalam konflik yang melibatkan Iran. Namun, Riyadh diperkirakan tidak akan tinggal diam jika pengaruhnya di Yaman terancam,” ujar peneliti Chatham House, Farea al-Muslimi.

Tindakan ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya dipicu oleh isu penerbangan, tetapi juga menjadi bentuk pertarungan kekuatan yang melibatkan Iran sebagai pemain utama.

Kenangan Perang dan Tantangan Yaman

Kelompok Houthi juga menegaskan siap menghadapi segala bentuk pelanggaran terhadap wilayah udara Yaman. Juru bicara militer mereka, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyatakan bahwa mereka telah menembak jatuh pesawat pengintai Saudi di Provinsi Al Bayda, Yaman tengah, pada Selasa dini hari. Serangan ini memperkuat posisi Houthi sebagai aktor yang tidak ragu mengambil risiko untuk memperluas pengaruhnya.

“Houthi sedang menguji garis merah baru. Jika mereka berhasil, mereka bisa menjadi lebih berani, meningkatkan tuntutan mereka, dan berupaya melanggar garis merah tambahan,” kata analis senior International Crisis Group, Ahmed Nagi.

Sejak 2015, koalisi pimpinan Saudi telah menerapkan pembatasan udara dan laut untuk menekan Houthi. Namun, tindakan menargetkan wilayah udara Yaman menunjukkan bahwa konflik ini bisa kembali memanas dalam skala yang lebih besar.

Konflik ini bukan hanya dipicu oleh penerbangan Iran, tetapi juga menjadi bentuk perang gerilya yang memperburuk situasi. Penerbangan langsung dari Iran ke Yaman dianggap sebagai upaya Houthi untuk mengambil alih kendali wilayah udara. Sejak gencatan senjata 2022, pemerintah Yaman mengalami tekanan ekonomi yang serius, dan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan kembali mengemuka.

“Kawasan ini sekarang berada dalam keadaan konfrontasi habis-habisan,” kata Abdel-Bari Taher, seorang ahli politik Yaman. Ia menekankan bahwa perpecahan antarkelompok bersenjata serta kelemahan kontrol atas wilayah laut dan udara membuat Yaman rentan menjadi medan persaingan kekuatan regional.

Analisis ini menggarisbawahi bahwa setiap langkah yang diambil oleh pihak-pihak konflik bisa memicu eskalasi yang lebih besar, terutama dalam kondisi krisis yang sudah sangat memburuk.

Kelompok Houthi juga tercatat sering melakukan serangan rudal ke Israel dan menyerang kapal di Laut Merah. Aksi ini mengganggu jalur perdagangan internasional serta meningkatkan risiko Yaman terlibat dalam konflik yang lebih luas. Iran dianggap dapat memanfaatkan Houthi untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi dengan Amerika Serikat, yang semakin menjadi fokus perhatian global.

Join the discussion