Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Edu

Main Agenda: Ingin Jadi Guru hingga Pernah Dibully, Peserta Jalur Disabilitas UNJ Naik Jadi 138 Orang

Susan Jones - lenterafakta.com 3 mins read

Main Agenda: Peserta Jalur Disabilitas UNJ Naik Jadi 138 Orang Peningkatan Peserta Jalur Disabilitas Tahun 2026 Main Agenda - Program Main Agenda di

Main Agenda: Ingin Jadi Guru hingga Pernah Dibully, Peserta Jalur Disabilitas UNJ Naik Jadi 138 Orang

Main Agenda: Peserta Jalur Disabilitas UNJ Naik Jadi 138 Orang

Peningkatan Peserta Jalur Disabilitas Tahun 2026

Main Agenda – Program Main Agenda di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mencatat kenaikan signifikan peserta jalur disabilitas dalam seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PENMABA) 2026. Total peserta yang mendaftar mencapai 138 orang, naik dari 125 orang pada tahun sebelumnya. Dengan peningkatan 10,4 persen, UNJ terus mendorong inklusivitas dalam pendidikan tinggi melalui jalur khusus ini. Seleksi telah berlangsung pada hari Sabtu, 18 Juli 2026, di Gedung Dewi Sartika (GDS) yang telah dilengkapi fasilitas aksesibilitas lengkap.

“Main Agenda ini menjadi salah satu upaya kami untuk menjembatani kesenjangan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas. Kenaikan peserta menunjukkan antusiasme yang semakin tinggi,” kata Kepala Kantor Admisi UNJ, I Wayan Sugita, dalam siaran pers yang diterbitkan pada hari Minggu, 19 Juli 2026.

Program Studi dan Fakultas yang Disukai Peserta

Di tahun ini, tiga fakultas yang paling diminati peserta jalur disabilitas adalah Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Pendidikan, serta Fakultas Bahasa dan Seni. Jurusan Sarjana Terapan Seni Kuliner dan Pengelolaan Jasa Makanan mendapat peminat tertinggi, diikuti oleh Program Studi Pendidikan Khusus di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Kuota penerimaan jalur disabilitas di UNJ disesuaikan dengan jumlah peserta, sehingga tetap fleksibel dan mampu menampung kebutuhan berbagai kelompok penyandang disabilitas.

Dalam Main Agenda 2026, UNJ juga mengamati minat peserta terhadap program yang memiliki keterkaitan langsung dengan pendidikan inklusif. Misalnya, peserta tunagrahita menunjukkan minat pada Program Studi Sosial dan Kemanusiaan, sementara penyandang disabilitas fisik lebih banyak memilih program yang memprioritaskan aksesibilitas fisik dan teknologi pendukung.

Perjalanan Peserta dalam Seleksi

Peserta seleksi berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk luar Jakarta. Salah satu contoh adalah Rehan, penyandang disabilitas tunanetra yang memilih Program Studi Pendidikan Khusus di FIP. Sebagai lulusan SLB A Pembina Tingkat Nasional, ia berharap dapat mengembangkan metode pendidikan yang lebih inklusif di masa depan. “Main Agenda ini membuka peluang bagiku untuk melanjutkan studi, bahkan berjuang mengubah pola pikir masyarakat tentang disabilitas,” katanya.

Dehan, siswa yang pernah diminta guru membantu teman sebaya memahami materi pelajaran, menjelaskan bahwa minatnya pada pendidikan terbangun sejak SMP. “Saya tertarik pada cara guru mengajar, terutama saat mereka membimbing siswa seperti saya. Main Agenda UNJ memberikan ruang untuk saya mengejar passion ini,” tambahnya.

Shafa Keila Wardhani, penyandang ADHD dari Temanggung, Jawa Tengah, mengikuti seleksi untuk Program Studi Tata Rias di Fakultas Teknik (FT). Ia mengakui pernah mengalami bully di masa lalu, tetapi dukungan keluarga dan teman menemani langkahnya dalam menjalani Main Agenda ini. “Saya ingin menjadi bagian dari solusi, agar orang-orang seperti saya tidak merasa terasing lagi,” katanya.

Fasilitas dan Dukungan Selama Seleksi

Untuk memastikan peserta jalur disabilitas dapat menjalani seleksi secara optimal, UNJ menyediakan pendampingan khusus sejak tiba di kampus. Peserta dengan disabilitas tunanetra, autisme, ADHD, tunagrahita, tunadaksa, dan tunarungu mendapatkan bantuan dari Relawan Disabilitas UNJ (REDIS) yang terlatih. “Main Agenda ini memerlukan persiapan ekstra agar semua peserta merasa nyaman dan berdaya,” ujar Prila Ahdanila, Koordinator REDIS Penmaba Disabilitas.

Panitia juga menempatkan juru bahasa isyarat di ruang ujian dan menyediakan alat bantu visual untuk peserta tunanetra. Selain itu, ketersediaan ruang istirahat dan fasilitas toilet ramah disabilitas memastikan kenyamanan selama proses seleksi. “Kami mencoba membuat seluruh aspek seleksi sesuai dengan kebutuhan peserta, mulai dari kesiapan ruangan hingga pengaturan jadwal,” tambah Prila.

Perbaikan dan Pertumbuhan Main Agenda

Rektor UNJ, Prof. Komarudin, menyatakan bahwa Main Agenda 2026 berjalan lancar dan mencerminkan komitmen universitas untuk meningkatkan aksesibilitas. Namun, ia menekankan perlunya perbaikan pada materi ujian tertulis agar lebih sesuai dengan kemampuan peserta disabilitas. “Kalau soal tidak disesuaikan dengan karakteristik penyandang disabilitas, maka kriteria penilaian perlu diperbaiki agar lebih adil,” ujarnya.

Hasil seleksi jalur disabilitas akan diumumkan pada 30 Juli 2026. Tahun ini, UNJ terus berupaya memperkuat Main Agenda melalui pelatihan khusus bagi petugas seleksi dan kolaborasi dengan organisasi disabilitas. “Kami ingin menjadi contoh bagi kampus lain di Indonesia dalam menjalankan pendidikan inklusif,” tutup Rektor. Dengan Main Agenda yang terus berkembang, harapan besar terlihat untuk membangun komunitas mahasiswa yang lebih mandiri dan bermakna bagi penyandang disabilitas.

Join the discussion