Asap Karhutla Tak Hanya Membahayakan Paru-paru, Seluruh Tubuh Bisa Terancam
Di Indonesia, fenomena kebakaran hutan dan lahan kerap melanda wilayah Sumatera serta Kalimantan. Namun, kesadaran masyarakat mengenai dampak kesehatan dari
Asap Karhutla: Ancaman Tersembunyi bagi Seluruh Sistem Tubuh
Lenterafakta.com – Di Indonesia, fenomena kebakaran hutan dan lahan kerap melanda wilayah Sumatera serta Kalimantan. Namun, kesadaran masyarakat mengenai dampak kesehatan dari asap yang dihasilkan masih terbatas. Berdasarkan laporan Science Alert pada Senin (20/7/2026), paparan asap kebakaran hutan secara perlahan namun pasti merusak organ-organ vital manusia, tidak hanya paru-paru, tetapi juga jantung, otak, hingga janin yang sedang berkembang.
Perjalanan Asap Melintasi Benua
Kejadian serupa juga terjadi di benua Amerika. Langit cerah di kota-kota besar Amerika Utara kini semakin jarang terlihat, digantikan oleh lapisan kabut tebal. Warga Toronto, Kanada, yang berada di dek observasi CN Tower dapat melihat cakrawala kota yang menjadi buram. Sementara itu, di Washington, Amerika Serikat, pasukan National Guard melakukan patroli di kawasan National Mall yang tertutup asap. Para komuter di sana terpaksa menggunakan masker pelindung.
Dampak asap kebakaran hutan yang bertiup dari Kanada menuju wilayah AS kini telah menjadi fenomena tahunan yang rutin terjadi. Kabut asap ini membawa campuran polusi udara dan senyawa kimia berbahaya, termasuk polutan PM2.5, nitrogen dioksida (NO₂), ozon, hidrokarbon aromatik, serta logam berat seperti timbal. Partikulat halus tersebut diperkirakan telah menewaskan puluhan ribu individu setiap tahunnya.
Dampak Sistemik yang Meluas
Secara langsung, partikel PM2.5 dalam asap dapat mengiritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Ketika terhirup, partikel ini masuk jauh ke dalam saluran pernapasan, merusak jaringan paru-paru, dan menyebabkan sesak napas. Namun, bahaya tidak berhenti di situ. Partikel mikro yang mengendap di paru-paru dapat menembus pembuluh darah dan menyebar ke seluruh organ tubuh.
Dampak buruknya bahkan tetap bertahan meski kabut asap yang terlihat secara kasat mata telah hilang. Dalam publikasi ilmiah terbaru di European Heart Journal, para peneliti menemukan bahwa paparan kronis terhadap polutan PM2.5 dari kebakaran hutan meningkatkan risiko stroke pada kelompok lansia.
“Asap kebakaran hutan bukan hanya bahaya pernapasan yang bersifat langsung,” kata Yang Liu, seorang ilmuwan kesehatan lingkungan dari Emory University, AS.
Penelitian menunjukkan adanya peningkatan kasus serangan jantung, gangguan kardiovaskular, hingga lonjakan krisis kesehatan mental saat kabut asap melanda. Yang Liu menambahkan bahwa seluruh tubuh terdampak oleh fenomena ini.
“Seluruh tubuh Anda terdampak. Asap kebakaran hutan menyebabkan stres oksidatif pada sistem tubuh Anda serta memperburuk atau mempercepat perkembangan penyakit,” ujar Yang Liu.
Komposisi Asap yang Semakin Berbahaya
Ancaman kualitas udara buruk semakin meningkat ketika kobaran api melalap kawasan permukiman atau perkotaan. Pada titik ini, asap yang dihasilkan tidak lagi hanya berasal dari vegetasi atau kayu yang terbakar. Aubrey Miller, seorang pakar bencana lingkungan dari National Institutes of Health (NIH), menjelaskan fenomena ini.
“Kami terkadang melihat asap di udara yang berjarak ratusan mil dari titik kebakaran hutan,” kata Aubrey Miller. “Pikirkan apa yang ikut terbakar: plastik, logam berat, hingga arsenik. Bahan-bahan ini dapat menimbulkan berbagai bahaya lain bagi masyarakat.”
Estimasi Kematian dan Dampak Jangka Panjang
Partikel PM2.5 telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kronis, termasuk penyakit autoimun. Bagi ibu hamil, paparan asap meningkatkan risiko kelahiran prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Sementara itu, paparan jangka panjang dikaitkan dengan risiko beberapa jenis kanker.
“Hasil penelitian kami juga menunjukkan bahwa tidak ada batasan aman yang jelas untuk paparan asap,” tegas Yang Liu. “Artinya, paparan asap berulang dalam tingkat ‘sedang’ pun tetap berdampak, bukan hanya saat terjadi peristiwa ekstrem.”
Dalam studi tahun 2025 yang dipublikasikan di jurnal Nature, Marshall Burke, seorang ekonom lingkungan dari Stanford University, memproyeksikan bahwa partikel PM2.5 dari kebakaran hutan dapat menyebabkan hingga 1,9 juta kematian berlebih antara tahun 2026 hingga 2055 di AS. Marshall Burke menyebutkan bahwa dampak ini menimpa ibu hamil, anak-anak di sekolah, penderita asma, hingga pasien kanker.
Sementara itu, studi yang terbit di jurnal Science Advances memberikan estimasi konservatif bahwa paparan jangka panjang terhadap asap kebakaran hutan menyebabkan lebih dari 24.100 kematian per tahun di wilayah AS daratan sepanjang periode 2006 hingga 2020. Min Zhang, penulis utama studi yang juga epidemiolog lingkungan dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai, menyatakan bahwa angka tersebut sangat besar.
