Kisah Remaja China Bohongi Orangtua demi Jadi Relawan Banjir, Berujung Dapat Hadiah
Kisah Remaja China Bohongi Orangtua demi menjadi relawan banjir di Guangxi telah menjadi viral di media sosial. Wu Yulun, pelajar berusia 18 tahun asal
Remaja China Diberi Hadiah Wisata Setelah Jadi Relawan Banjir
Lenterafakta.com – Kisah Remaja China Bohongi Orangtua demi menjadi relawan banjir di Guangxi telah menjadi viral di media sosial. Wu Yulun, pelajar berusia 18 tahun asal Shanghai, baru saja menerima surat penerimaan dari East China Normal University. Universitas negeri prestisius ini menjadi impian banyak siswa China. Yang lebih mengejutkan, kota Wuxi yang sempat ia jadikan alasan untuk berbohong kepada orangtuanya memberikan kejutan istimewa berupa hadiah wisata.
Pemerintah kota Wuxi secara resmi mengundang kedua remaja tersebut. Hadiah yang mereka terima adalah akses gratis ke semua objek wisata lokal selama satu tahun penuh. Aksi spontan dan tulus mereka pun mendapat apresiasi luas dari masyarakat China di berbagai platform media sosial. Banyak yang menyebut ini sebagai contoh nyata semangat generasi muda China.
Awal Mula Perjalanan Relawan
Semua bermula ketika Wu Yulun baru saja menyelesaikan Gaokao pada awal Juli 2026. Ujian masuk perguruan tinggi nasional ini sangat kompetitif dan menentukan masa depan siswa. Awalnya, ia berencana melakukan liburan kelulusan bersama teman-temannya. Namun, tawaran bantuan dari kelompok relawan di wilayah otonom Guangxi mengubah rencana liburan tersebut menjadi pengalaman luar biasa.
Wilayah Guangxi sebelumnya dilanda hujan deras selama beberapa hari akibat badai topan. Bencana ini memicu banjir besar yang menewaskan sedikitnya 39 orang. Laporan dari South China Morning Post pada Selasa, 21 Juli 2026 menyebutkan bahwa ribuan warga terdampak dan membutuhkan bantuan segera. Kebutuhan logistik menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana.
Menyadari kebutuhan tenaga tambahan untuk mengangkut logistik bantuan, Wu segera menghubungi organisasi relawan tersebut. Bersama sahabat sekelasnya, Xin Ziyu, mereka memutuskan untuk menuju Hengzhou. Kawasan ini termasuk salah satu yang paling parah terdampak banjir. Kedua remaja ini tidak ragu untuk mengambil tindakan cepat meskipun harus meninggalkan rencana liburan mereka.
Agar tidak membuat orang tua khawatir, Wu berbohong dengan mengatakan akan berlibur ke Wuxi. Kota ini terletak di sebelah barat Shanghai dan cukup terkenal. Tanpa sepengetahuan keluarga, kedua remaja ini menggunakan uang saku mereka untuk membeli berbagai kebutuhan pokok. Barang-barang yang dibeli meliputi mi instan, sosis, bubur siap saji, serta lebih dari 250 paket pembalut wanita untuk para relawan wanita.
Kontribusi dan Pengakuan
Untuk menjaga rahasia perjalanan mereka, Wu menyimpan paket-paket bantuan berukuran besar di stasiun pengiriman barang terdekat. Setelah itu, ia kembali ke rumah dan menyiapkan tas seolah-olah benar-benar akan pergi berlibur. Proses ini membutuhkan ketelitian agar tidak ketahuan oleh orang tua.
Pada 9 Juli 2026, kedua siswa Shanghai ini memulai perjalanan panjang yang memakan waktu lebih dari 13 jam. Sesampainya di Hengzhou, mereka menyadari bahwa tanpa pelatihan penyelamatan bencana yang memadai, mereka tidak cocok untuk operasi di garis depan. Sebagai gantinya, Wu dan Xin memilih bekerja di pusat distribusi untuk memilah, membongkar, dan memindahkan bantuan logistik.
“Kami tidak ingin berpura-pura menjadi pahlawan. Membantu di mana kami bisa dan menjadi bagian kecil dalam upaya bantuan ini sudah cukup,” ujar Wu Yulun.
Bantuan yang mereka kelola kemudian didistribusikan secara manual oleh relawan lain menuju warga yang terjebak di komunitas pegunungan terpencil. Pengalaman nyata ini membuat Wu memahami makna sebenarnya dari konsep pemenuhan diri yang selama ini hanya berupa teori dalam buku pelajaran sekolah. Ia merasa bangga bisa berkontribusi langsung.
“Jarak yang tak terbatas dan orang-orang yang tak terhitung jumlahnya, semuanya terhubung denganku,” tutur Wu mengutip kalimat dari Lu Xun, sastrawan legendaris yang dijuluki sebagai bapak sastra modern China.
Reaksi Keluarga dan Dampak Sosial
Ibu Wu baru mengetahui bahwa anaknya berada di daerah bencana setelah mendengar dari seorang teman. Sang ibu segera menghubungi Wu untuk memastikan keselamatan kedua remaja tersebut. Meskipun awalnya tidak menyetujui keputusan anaknya yang bertindak tanpa izin, ia akhirnya merasa tersentuh oleh semangat sosial yang ditunjukkan. Perasaan bangga dan haru bercampur menjadi satu.
Setelah enam hari berkontribusi sebagai relawan, Wu dan Xin kembali ke Shanghai pada 15 Juli 2026. Perjalanan mereka yang dimulai dari kebohongan kecil ini berakhir dengan kebahagiaan ganda. Mereka mendapatkan penerimaan kuliah dan penghargaan dari kota yang pernah mereka bohongi. Kisah ini menjadi inspirasi bagi banyak remaja lainnya.
Salah satu warganet menulis komentar penuh kekaguman: “Tidak ada yang memiliki awal kedewasaan yang lebih keren dari ini. Dunia akan selalu bersinar lebih terang karena anak-anak muda seperti mereka.” Komentar ini mewakili perasaan banyak orang yang terinspirasi oleh tindakan kedua remaja tersebut.
