10 Kota Tidak Layak Huni di Dunia 2026, Teheran Baru Masuk Daftar dan Jadi Urutan Nomor 1
Kelayakhunian sebuah kota menjadi indikator penting bagi kualitas hidup warganya. Berdasarkan laporan terbaru Global Liveability Index 2026 yang dirilis oleh
10 Kota Tidak Layak Huni 2026: Teheran Puncak Daftar
Lenterafakta.com – Kelayakhunian sebuah kota menjadi indikator penting bagi kualitas hidup warganya. Berdasarkan laporan terbaru Global Liveability Index 2026 yang dirilis oleh Economist Intelligence Unit (EIU), terdapat sepuluh wilayah perkotaan yang dinilai paling sulit untuk ditinggali. 10 Kota Tidak Layak Huni ini mencakup berbagai benua, dengan Teheran yang baru saja masuk ke dalam daftar dan menempati posisi teratas sebagai kota paling tidak nyaman untuk dihuni.
Penilaian ini melibatkan 173 metropolitan di seluruh dunia, dievaluasi berdasarkan lima pilar utama: stabilitas politik, kesehatan, pendidikan, infrastruktur, serta faktor budaya dan lingkungan. Setiap aspek dinilai dengan skala 1 hingga 100. Kondisi geopolitik global, termasuk konflik bersenjata dan ketidakstabilan ekonomi, turut mempengaruhi peringkat kota-kota tersebut. Teheran mengalami penurunan signifikan akibat memburuknya situasi keamanan di Iran sejak awal tahun 2026.
Perang Iran telah melemahkan stabilitas di seluruh kawasan Teluk, sehingga turut menyebabkan penurunan satu poin pada rata-rata skor kelayakhunian kota-kota di Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA).
Laporan yang dilansir pada Selasa, 21 Juli 2026 ini memberikan gambaran komprehensif tentang tantangan yang dihadapi penduduk kota-kota besar dunia. Berikut adalah rangkuman lengkap mengenai sepuluh kota dengan indeks kelayakhunian terendah versi 2026.
Posisi Pertama: Teheran, Iran
Dengan total skor 45, Teheran menjadi kota baru yang masuk ke dalam kategori sepuluh terbawah. EIU mengidentifikasi bahwa memburuknya situasi keamanan akibat pecahnya perang pada tahun 2026 menjadi penyebab utama penurunan peringkatnya. Sebelumnya, Teheran tidak termasuk dalam daftar sepuluh kota terburuk, namun konflik terkini mendorongnya ke posisi puncak.
Posisi Kedua dan Ketiga: Harare dan Kyiv
Harare, Zimbabwe, juga meraih nilai keseluruhan sebesar 45. Meskipun mengalami perbaikan dibandingkan hasil survei beberapa tahun sebelumnya, kota ini masih menghadapi kendala signifikan di bidang layanan kesehatan dan infrastruktur. Sementara itu, Kyiv, Ukraina, berhasil mengumpulkan skor 45. Sektor pendidikan menunjukkan nilai yang cukup baik, namun konflik yang berkepanjangan membuat aspek stabilitas dan infrastruktur tetap berada di level rendah.
Posisi Keempat dan Kelima: Port Moresby dan Lagos
Port Moresby, Papua Nugini, mencatatkan angka 44 secara keseluruhan. Dari lima kategori yang dinilai, stabilitas menjadi aspek dengan pencapaian paling minim. Di sisi lain, Lagos, Nigeria, berhasil meraih skor 44. Isu keamanan masih menjadi hambatan terbesar yang berdampak langsung terhadap tingkat kenyamanan hidup di kota tersebut.
Posisi Keenam dan Ketujuh: Algiers dan Karachi
Ibu kota Aljazair ini memperoleh nilai keseluruhan 43. Dua kategori yang paling rendah adalah stabilitas dan infrastruktur ketika dibandingkan dengan empat aspek lainnya. Karachi, Pakistan, mencatatkan skor 43. Aspek stabilitas hanya berhasil mendapatkan nilai 20, yang merupakan angka terendah di antara semua indikator yang diukur.
Posisi Kedelapan dan Kesembilan: Dhaka dan Tripoli
Dhaka, Bangladesh, mendapatkan total skor 42. Infrastruktur dan kategori budaya-lingkungan menjadi dua bidang dengan nilai paling rendah. Tripoli, Libya, meraih skor 41. EIU mencatat adanya peningkatan pada layanan kesehatan, namun kota ini tetap menjadi yang kedua terendah secara global dalam hal kelayakhunian.
Posisi Kesepuluh: Damaskus, Suriah
Damaskus mempertahankan posisinya di urutan paling buncit dengan skor keseluruhan 32. Meskipun sektor kesehatan menunjukkan perbaikan sejak perubahan politik pada akhir 2024, dampak perang saudara masih sangat terasa. EIU menjelaskan bahwa Damaskus tetap menjadi kota dengan peringkat terendah karena proses pemulihan dari konflik internal masih berlangsung.
