Mengenal Hara Hachi Bu, Rahasia Panjang Umur Masyarakat Okinawa yang Diakui Sains
Mengenal Hara Hachi Bu Rahasia panjang umur masyarakat Okinawa dimulai dari kebiasaan makan yang telah berlangsung selama berabad-abad. Di Kepulauan Okinawa
Mengenal Hara Hachi Bu, Rahasia Panjang Umur Okinawa
Lenterafakta.com – Mengenal Hara Hachi Bu Rahasia panjang umur masyarakat Okinawa dimulai dari kebiasaan makan yang telah berlangsung selama berabad-abad. Di Kepulauan Okinawa, Jepang, para lansia sering kali berbisik pelan ungkapan tradisional sebelum memulai hidangan. Ungkapan “hara hachi bu” berasal dari aksara Mandarin dan secara harfiah berarti “perut delapan bagian”. Ajaran ini menganjurkan untuk menghentikan makan saat perut mencapai tingkat kenyang sebesar delapan puluh persen.
Tradisi ini awalnya merupakan bagian dari ajaran moral Konfusius yang dibawa dari Tiongkok ke Kepulauan Ryukyu. Seiring berjalannya waktu, praktik tersebut bertransformasi menjadi rutinitas makan sehari-hari masyarakat setempat. Hara hachi bu tidak termasuk dalam kategori program diet yang ketat. Tidak ada pantangan makanan tertentu, tidak ada batasan kalori harian yang kaku, dan tidak ada penghilangan golongan makanan dari menu. Pendekatan ini lebih menekankan pada kesadaran terhadap isyarat alami tubuh.
Mekanisme Biologis di Balik Kebiasaan Ini
Dasar ilmiah dari hara hachi bu cukup sederhana dan telah didokumentasikan secara komprehensif. Menurut tinjauan medis dari Northwell Health, lambung memiliki mekanisme komunikasi dengan otak guna mengirimkan sinyal kenyang melalui kombinasi reseptor regangan dan hormon. Proses komunikasi ini mengalami jeda waktu sekitar 15 hingga 20 menit. Akibatnya, tubuh tidak mampu mencatat rasa kenyang secara instan.
Ketika seseorang makan dengan terburu-buru dan baru berhenti setelah merasa sangat kenyang, perut sebenarnya telah menampung porsi tambahan yang setara dengan kebutuhan selama 15–20 menit waktu makan. Dengan menerapkan prinsip hara hachi bu dan menghentikan makan pada level kenyang 80 persen, individu memberikan kesempatan bagi jeda sinyal tersebut untuk mencapai otak. Ketika sinyal pencernaan tiba, makanan yang telah masuk akan diproses dan rasa kenyang akan berubah menjadi “nyaman”, bukan “kekenyangan”.
Penerapan konsisten pola makan ini mampu menurunkan asupan kalori harian sebesar 10 hingga 20 persen dibandingkan dengan kebiasaan berhenti makan saat benar-benar kenyang. Pengurangan kalori harian sebesar 10 hingga 20 persen merupakan intervensi yang cukup signifikan dalam uji klinis pembatasan kalori.
Bukti Ilmiah dari Studi CALERIE
Bukti paling meyakinkan berasal dari uji coba CALERIE (Comprehensive Assessment of Long-term Effects of Reducing Intake of Energy), sebuah penelitian paling ketat mengenai pembatasan kalori moderat pada manusia. Studi ini melibatkan 220 orang dewasa sehat non-obesitas di tiga lokasi di Amerika Serikat selama dua tahun. Dalam penelitian tersebut, peserta diminta membatasi asupan kalori sebesar 25 persen dibandingkan dengan kelompok yang makan secara bebas. Pada praktiknya, pembatasan yang berhasil dicapai peserta berada di rata-rata 12 persen selama dua tahun.
Hasil uji coba CALERIE yang dipublikasikan di jurnal ilmiah seperti Nature Aging dan Aging Cell memberikan bukti acak terkontrol (randomized controlled trial) pertama pada manusia bahwa pembatasan kalori moderat dapat memperlambat penuaan biologis.
Dalam publikasi tahun 2023 di Nature Aging oleh Raghav Waziry dan tim peneliti dari Columbia University, pembatasan kalori selama dua tahun terbukti memperlambat laju penuaan biologis sebesar 2 hingga 3 persen berdasarkan pengukuran jam epigenetik DunedinPACE. Meskipun persentasenya terlihat kecil, studi independen pada lansia menunjukkan bahwa efek tersebut berkaitan dengan penurunan risiko kematian akibat semua penyebab sebesar 15 persen.
Selain itu, dokumen penelitian CALERIE menunjukkan adanya perbaikan pada penanda kardiometabolik, fungsi hati, kualitas otot rangka, penekanan inflamasi, hingga peningkatan fungsi sistem kekebalan tubuh.
Akar Sejarah di Okinawa
Sebelum adanya uji klinis modern, hubungan antara pembatasan kalori dan umur panjang pertama kali ditemukan melalui studi epidemiologi di Okinawa. Dalam studi tahun 2007 yang diterbitkan di Annals of the New York Academy of Sciences berjudul “Caloric restriction, the traditional Okinawan diet, and healthy aging”, Bradley W. Wilson dan tim peneliti menemukan bahwa pola makan tradisional Okinawa yang rendah kalori berkontribusi signifikan terhadap harapan hidup yang lebih panjang. Studi ini mengonfirmasi bahwa Mengenal Hara Hachi Bu Rahasia panjang umur bukan sekadar tradisi, melainkan praktik yang didukung oleh bukti ilmiah kuat.
