Dokter Ungkap Mengorok Bisa Picu Hipertensi, Jangan Disepelekan
Banyak orang menganggap kebiasaan mendengkur hanya sebagai gangguan kecil pada kualitas istirahat malam. Namun, kondisi ini memiliki dampak serius jika tidak
Mengorok: Faktor Tersembunyi yang Memicu Tekanan Darah Tinggi
Lenterafakta.com – Banyak orang menganggap kebiasaan mendengkur hanya sebagai gangguan kecil pada kualitas istirahat malam. Namun, kondisi ini memiliki dampak serius jika tidak ditangani dengan baik. Salah satu komplikasi yang muncul adalah peningkatan risiko hipertensi atau tekanan darah tinggi. Informasi ini disampaikan oleh dr. Andreas Prasetya Wibowo, Sp.THT-KL, seorang praktisi kesehatan tidur yang memimpin Snoring and Sleep Disorder Center, fasilitas pertama di Indonesia yang fokus pada gangguan tidur dan mendengkur.
“Ngorok merupakan penyebab hipertensi,” tegas dr. Andreas dalam unggahan videonya di akun TikTok @dokterprasadja, sebagaimana dikutip Kompas.com pada Kamis (23/7/2026).
Mekanisme Mengorok Memicu Hipertensi
Kaitan antara mendengkur dan tekanan darah tinggi sebenarnya telah lama dikenal dalam komunitas medis. Hal ini tercatat dalam dokumen resmi Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) yang dirilis tahun 2003. Dokumen tersebut menyebutkan berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskular, mulai dari obesitas, gaya hidup sedentari, kolesterol tinggi, diabetes, hingga merokok.
Dr. Andreas menekankan bahwa mendengkur juga masuk dalam kategori penyebab hipertensi. Hal ini karena sering kali berkaitan erat dengan sleep apnea atau henti napas saat tidur. Dalam dokumen JNC 7 disebutkan bahwa mendengkur menjadi penyebab pertama hipertensi. Alasannya sederhana namun penting: saat seseorang mendengkur, saluran napasnya bisa kolaps sehingga terjadi henti napas. Pasien kemudian merasa sesak dan terbangun, namun tanpa sadar bahwa tidur mereka sebenarnya terputus-putus.
“Bangun kok enggak segar karena tidurnya terpotong-potong,” jelas dr. Andreas menjelaskan dampak dari tidur yang tidak nyenyak.
Kondisi henti napas berulang ini menyebabkan kadar oksigen dalam tubuh terus berfluktuasi. Naik-turunnya oksigen memicu respons stres pada tubuh dan mengganggu proses metabolisme secara keseluruhan. Dr. Andreas menjelaskan bahwa fluktuasi oksigen ini berdampak pada peningkatan gula darah, asam urat, dan tekanan darah.
Diagnosa dan Penanganan yang Tepat
Kebiasaan mendengkur juga dapat membuat tekanan darah sulit dikendalikan, bahkan bagi pasien yang sudah rutin minum obat antihipertensi. Dr. Andreas memberikan saran praktis untuk mendeteksi masalah ini. Ia menyarankan untuk mengukur tekanan darah sebelum tidur dan setelah bangun pagi. Jika tekanan darah justru naik setelah bangun tidur, kemungkinan besar mendengkur adalah penyebab utamanya.
Menurut dr. Andreas, mendengkur bukan kondisi yang boleh diabaikan begitu saja. Langkah pertama dalam penanganan adalah melakukan pemeriksaan tidur atau sleep study. Tujuannya adalah untuk memastikan apakah pasien mengalami henti napas saat tidur dan seberapa berat tingkat gangguan tersebut.
“Ada tatalaksana medisnya. Pertama dilakukan pemeriksaan saat tidur dengan alat perekam. Hasilnya nanti dianalisis oleh dokter untuk menentukan apakah henti napasnya ringan, sedang, atau berat,” terang dr. Andreas.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter akan menentukan terapi yang paling sesuai. Pilihan penanganan bervariasi, mulai dari penggunaan dental appliance yang dibuat oleh dokter gigi, operasi oleh spesialis THT, hingga penggunaan alat bantu napas Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Penting untuk dicatat bahwa penggunaan CPAP tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Jenis alat dan pengaturan tekanannya harus disesuaikan dengan hasil sleep study.
Dr. Andreas menutup dengan pesan penting bahwa pemeriksaan tidur harus dilakukan terlebih dahulu sebelum menentukan terapi. Jangan pernah meremehkan kebiasaan mendengkur karena dampaknya jauh lebih besar dari yang dibayangkan.
