Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Survei Deloitte: Hanya 6 Persen Gen Z yang Ingin Jadi Bos, Ini Prioritas Karier Mereka

Nancy Moore - lenterafakta.com 4 mins read

Hasil jajak pendapat terkini dari Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 mengungkapkan perubahan signifikan dalam aspirasi profesional kalangan

Survei Deloitte: Hanya 6 Persen Gen Z yang Ingin Jadi Bos, Ini Prioritas Karier Mereka

Generasi Muda Lebih Mengutamakan Keseimbangan Hidup Daripada Jabatan Pimpinan

Lenterafakta.com – Hasil jajak pendapat terkini dari Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 mengungkapkan perubahan signifikan dalam aspirasi profesional kalangan muda. Data menunjukkan bahwa hanya enam persen peserta survei generasi Z dan milenial yang menjadikan posisi kepemimpinan sebagai target utama perjalanan karier mereka. Temuan ini mencerminkan transformasi cara pandang terhadap kesuksesan di dunia kerja.

Alih-alih berorientasi pada tangga jabatan konvensional, kelompok usia ini lebih memprioritaskan harmoni antara kehidupan pribadi dan profesional. Faktor-faktor seperti stabilitas keuangan, kesehatan mental, peluang pengembangan diri, serta pekerjaan yang bermakna menjadi pertimbangan utama. Penelitian ini dilaksanakan melalui platform daring selama periode 25 Oktober hingga 24 Desember 2024.

Metodologi dan Profil Responden

Survei ini melibatkan total 23.482 individu dari 44 negara yang tersebar di berbagai wilayah global. Cakupan geografis mencakup Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, Timur Tengah, Afrika, serta kawasan Asia Pasifik. Komposisi peserta terdiri dari 14.751 generasi Z dan 8.731 milenial dengan beragam status, mulai dari profesional aktif, mahasiswa, hingga pencari pekerjaan.

Untuk memperkuat analisis kuantitatif, Deloitte juga melaksanakan sesi wawancara mendalam secara kualitatif. Proses ini berlangsung dari 19 Desember 2024 sampai 10 Januari 2025. Dalam konteks penelitian ini, generasi Z didefinisikan sebagai individu yang lahir antara Januari 1995 hingga Desember 2006, sementara milenial mencakup mereka yang lahir dari Januari 1983 hingga Desember 1994.

Generasi Z dan milenial tetap memiliki ambisi, namun definisi berkembang bagi mereka kini tidak lagi identik dengan naik jabatan atau menduduki kursi pimpinan.

Prioritas Pengembangan Keterampilan

Hasil survei mengungkap bahwa kesempatan belajar menjadi salah satu dari tiga alasan utama generasi Z bergabung dengan perusahaan saat ini. Sebanyak tujuh puluh persen generasi Z mengaku rutin meningkatkan kompetensi mereka setidaknya satu kali dalam seminggu. Angka ini melampaui milenial yang tercatat sebesar lima puluh sembilan persen.

Lebih jauh, enam puluh tujuh persen generasi Z menyatakan komitmen untuk terus berlatih di luar jam kerja formal. Aktivitas pengembangan ini dilakukan sebelum mulai bekerja, setelah pulang kantor, maupun pada hari libur. Meskipun adopsi kecerdasan buatan semakin masif, kemampuan nonteknis tetap dianggap sebagai modal vital.

Sebanyak lima puluh tujuh persen generasi Z dan lima puluh enam persen milenial telah mengintegrasikan generative AI ke dalam aktivitas harian mereka. Namun, kekhawatiran muncul bersamaan dengan adopsi tersebut. Enam puluh tiga persen generasi Z dan enam puluh lima persen milenial takut AI akan mengurangi ketersediaan lapangan kerja.

Enam puluh satu persen responden dari kedua generasi menilai AI akan menyulitkan generasi muda memasuki dunia kerja karena banyak pekerjaan level pemula mulai diotomatisasi.

Peran AI dan Soft Skill dalam Karier Masa Depan

Meskipun demikian, mayoritas responden mengakui bahwa kompetensi AI menjadi faktor penting bagi kemajuan karier. Lima puluh sembilan persen generasi Z dan enam puluh dua persen milenial menyatakan kemampuan AI merupakan syarat cukup atau sangat penting untuk berkembang di dunia kerja modern.

Namun, soft skill tetap menduduki posisi tertinggi dalam prioritas pengembangan. Delapan puluh enam persen generasi Z dan delapan puluh lima persen milenial menilai keterampilan seperti komunikasi, kepemimpinan, empati, membangun relasi, manajemen waktu, dan pengetahuan industri jauh lebih krusial dibandingkan keahlian teknologi semata.

Dampak AI terhadap Jalur Pendidikan Tinggi

Perkembangan teknologi juga memengaruhi keputusan generasi muda terkait pendidikan formal. Tiga puluh satu persen generasi Z dan tiga puluh dua persen milenial memilih untuk tidak melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Alasan dominan adalah tingginya biaya pendidikan yang dirasakan terlalu memberatkan.

Kekhawatiran finansial ini disampaikan oleh empat puluh persen generasi Z dan tiga puluh delapan persen milenial. Selain itu, keraguan terhadap relevansi kurikulum perguruan tinggi juga muncul. Dua puluh empat persen generasi Z dan dua puluh lima persen milenial menilai kurikulum kurang sesuai dengan kebutuhan industri.

Sementara itu, dua puluh delapan persen generasi Z dan dua puluh tujuh persen milenial menganggap pengalaman praktik selama kuliah masih terbatas. Konsekuensinya, sebagian beralih ke jalur alternatif seperti pendidikan vokasi, program magang, atau pelatihan berbasis keterampilan yang dinilai lebih praktis dan terjangkau.

Kondisi keuangan menjadi faktor yang paling memengaruhi kebahagiaan dan perkembangan karier generasi Z maupun milenial. Responden yang merasa kondisi finansialnya aman cenderung jauh lebih bahagia dibandingkan mereka yang tidak.

Secara keseluruhan, survei ini menggambarkan generasi muda yang lebih selektif dan sadar dalam menentukan arah karier mereka. Mereka tidak lagi terikat pada definisi kesuksesan tradisional, melainkan mencari keseimbangan holistik antara perkembangan profesional dan kesejahteraan pribadi.

Join the discussion