Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Serangan Houthi di Laut Merah Picu Kekhawatiran Perang Timur Tengah Meluas

Mary Smith - lenterafakta.com 3 mins read

Kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah kembali menguat setelah kelompok Houthi melancarkan serangan terhadap beberapa kapal yang

Serangan Houthi di Laut Merah Picu Kekhawatiran Perang Timur Tengah Meluas

Ketegangan Timur Tengah Meningkat Pasca Serangan Houthi di Laut Merah

Lenterafakta.com – Kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah kembali menguat setelah kelompok Houthi melancarkan serangan terhadap beberapa kapal yang melintasi perairan Laut Merah. Kelompok bersenjata asal Yaman yang mendapat dukungan dari Iran ini mengklaim telah menargetkan dua kapal milik Arab Saudi, sekaligus memaksa minimal sepuluh kapal lain untuk mengubah arah pelayaran mereka.

Sebelumnya, Houthi telah mengeluarkan peringatan agar kapal-kapal internasional menjauhi pelabuhan-pelabuhan di Arab Saudi. Ancaman ini berpotensi mengganggu jalur pelayaran vital melalui Selat Bab el-Mandeb, sebuah jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia. Selat tersebut merupakan salah satu rute perdagangan global yang paling penting, dilalui oleh kapal-kapal pengangkut barang dan energi antara benua Asia dan Eropa.

Konflik Bersarang di Dua Selat Strategis

Gangguan di Selat Bab el-Mandeb terjadi bersamaan dengan dampak konflik antara Amerika Serikat dan Iran terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi ganda ini meningkatkan risiko terhadap pasokan minyak, gas, pupuk, dan berbagai komoditas esensial di pasar internasional. Sepanjang 13 malam berturut-turut, Komando Pusat Amerika Serikat atau Centcom melancarkan serangan udara terhadap berbagai sasaran di Iran.

Pusat komando militer Iran, fasilitas penyimpanan drone, jaringan komunikasi, lokasi pengawasan pantai, dan kemampuan maritim untuk lebih mengurangi ancaman yang ditimbulkan Iran terhadap pelaut sipil dan kapal komersial,” kata Centcom dalam pernyataan pada Kamis (23/7/2026) malam.

Iran membalas dengan menyerang negara-negara Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Bahrain, Kuwait, dan Yordania dilaporkan menjadi sasaran serangan drone serta rudal balistik sepanjang Juli 2026.

Arab Saudi Berusaha Menjaga Jarak

Arab Saudi berusaha menjaga jarak dari perang AS-Iran. Negara itu relatif terhindar dari serangan langsung Iran. Penutupan Selat Hormuz juga tidak sepenuhnya menghentikan ekspor minyak Saudi. Riyadh masih dapat mengalirkan jutaan barel minyak setiap hari melalui Pipa Timur-Barat, dari ladang minyak di wilayah timur menuju terminal ekspor Yanbu di pesisir Laut Merah. Minyak kemudian diangkut menggunakan kapal tanker menuju Asia melalui perairan Yaman dan Selat Bab el-Mandeb.

Namun, serangan Houthi membuat jalur alternatif tersebut kini ikut terancam. Presiden AS Donald Trump menyatakan pemerintahannya akan menangani ancaman Houthi. Meski demikian, berbagai operasi militer sebelumnya belum berhasil menghentikan kelompok tersebut.

Sejarah dan Peran Houthi di Yaman

Houthi merupakan kelompok Syiah yang berasal dari wilayah utara Yaman dan berpusat di sekitar Saada. Kelompok itu mengambil alih ibu kota Sanaa pada 2014, di tengah kekacauan politik setelah gelombang Musim Semi Arab. Houthi kemudian menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk di Yaman, termasuk pelabuhan strategis Hodeidah. Arab Saudi melancarkan operasi militer pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang digulingkan. Riyadh semula memperkirakan keunggulan angkatan udaranya dapat memaksa Houthi berunding. Namun, kelompok tersebut tetap bertahan meski menghadapi serangan selama bertahun-tahun.

Pada 2023 hingga 2025, Houthi juga menyerang kapal-kapal yang mereka klaim berkaitan dengan Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina di Gaza. Serangan itu memaksa banyak kapal mengubah rute, meningkatkan biaya pengiriman, serta mendorong AS dan Inggris melakukan intervensi militer.

Risiko Eskalasi dan Isu Nuklir

Para analis kini menyoroti kawasan Teluk dan Semenanjung Arab sebagai wilayah yang paling berisiko mengalami eskalasi. Serangan udara AS belum membuat Korps Garda Revolusi Iran menyerahkan kendali atas Selat Hormuz. Setiap hari penutupan jalur tersebut berlangsung, tekanan terhadap rantai pasokan dan harga komoditas global akan semakin besar. Dampaknya dapat memburuk apabila Selat Bab el-Mandeb juga tidak dapat dilalui dalam waktu lama.

Ketegangan kawasan turut meningkat setelah AS membuka jalan bagi perusahaan-perusahaannya membantu Arab Saudi mengembangkan program tenaga nuklir sipil. Belum ada tanda Arab Saudi akan menjadikan program tersebut sebagai langkah menuju pembuatan senjata nuklir. Namun, kesepakatan itu tetap memicu kekhawatiran akan munculnya perlombaan senjata di Timur Tengah. Turkiye dan Mesir dinilai dapat meningkatkan aktivitas nuklir untuk memperkuat kemampuan pertahanan masing-masing.

Kondisi saat ini bukanlah periode kekerasan terburuk dalam sejarah Timur Tengah. Meski demikian, serangan Houthi, perang AS-Iran, gangguan jalur perdagangan, dan peningkatan aktivitas nuklir ber

Join the discussion