Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Arab Saudi Digempur Rudal Houthi Usai Hodeida Diserang, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok?

Robert Anderson - lenterafakta.com 3 mins read

Kelompok pemberontak Houthi yang mendapat dukungan dari Iran mengklaim telah melancarkan serangan menggunakan rudal ke wilayah Arab Saudi pada hari Sabtu, 25

Arab Saudi Digempur Rudal Houthi Usai Hodeida Diserang, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok?

Arab Saudi Terkena Serangan Rudal Houthi, Kapan Harga Minyak Dunia Turun?

Lenterafakta.com – Kelompok pemberontak Houthi yang mendapat dukungan dari Iran mengklaim telah melancarkan serangan menggunakan rudal ke wilayah Arab Saudi pada hari Sabtu, 25 Juli 2026. Inisiatif ini merupakan tanggapan atas serangan yang dilancarkan pasukan Riyadh terhadap beberapa aset milik mereka sehari sebelumnya. Melalui saluran Telegram, media resmi Houthi bernama Ansarollah menyampaikan bahwa serangan dari Yaman tersebut menyebabkan kebakaran di Kota Jizan. Segera setelah kejadian, otoritas Arab Saudi mengeluarkan peringatan darurat untuk provinsi yang terdampak.

Sebelumnya, Houthi telah berjanji akan membalas serangan udara yang menghantam target mereka di kota pelabuhan Hodeida serta Pulau Kamaran pada hari Jumat, 24 Juli 2026. Dalam pernyataannya, media Ansarollah menegaskan bahwa penargetan fasilitas sipil oleh musuh Saudi di kedua lokasi tersebut merupakan eskalasi berbahaya. Mereka juga menyatakan bahwa kejahatan ini tidak akan dibiarkan begitu saja.

Eskalasi di Tengah Jeda Serangan AS-Iran

Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim serangan tersebut. Eskalasi antara Houthi dan Arab Saudi ini terjadi di tengah jeda serangan udara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Untuk pertama kalinya dalam dua pekan terakhir, tidak ada laporan mengenai serangan udara semalam di wilayah Timur Tengah. Militer AS tercatat tidak meluncurkan serangan baru ke Iran pada Sabtu pagi, setelah sebelumnya menggempur negara tersebut selama 13 malam berturut-turut.

Di saat yang sama, Iran juga sempat melancarkan serangan drone ke berbagai fasilitas dan pangkalan militer AS. Di jalur diplomasi, delegasi dari Oman dilaporkan telah tiba di Teheran untuk membahas situasi di Selat Hormuz. Kantor berita resmi Iran, IRNA, mengonfirmasi kedatangan delegasi dari negara yang menguasai garis pantai selatan selat strategis tersebut.

Posisi Trump dan Opsi Strategi AS

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa proses negosiasi masih berlangsung, meski ia tetap melayangkan ancaman serangan balasan. “Kami sedang berbicara dengan mereka. Saya pikir mereka serius, paling serius dari yang pernah kita lihat. Namun, itu bukan berarti kita pasti akan mencapai kesepakatan,” ujar Trump di Gedung Putih, dikutip dari BBC.

Trump menambahkan, pihaknya memiliki dua pilihan strategi: meningkatkan intensitas serangan militer hingga melumpuhkan Iran, atau mengambil jalur diplomasi yang lebih cerdas melalui kesepakatan politik.

Kapal Tanker Diserang dan Dampaknya Terhadap Harga Minyak

Di kawasan Selat Hormuz, militer AS mengonfirmasi telah menembak dan melumpuhkan sebuah kapal tanker di Teluk Oman pada Jumat. Kapal komersial tersebut dituduh berusaha menerobos blokade Amerika terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Juru Bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, menyebut kapal tersebut telah diperingatkan hingga empat kali sebelum akhirnya ditembak di bagian ruang mesin. Ini merupakan kapal kedua yang dilumpuhkan AS sejak blokade diterapkan kembali awal bulan ini.

Ancaman terhadap jalur pelayaran di Laut Merah dan Selat Hormuz sempat mendorong harga minyak mentah dunia menembus angka 100 dollar AS (sekitar Rp 1,79 juta) per barel, level tertinggi sejak Mei lalu. Namun, harga minyak mentah jenis Brent kembali melandai ke kisaran 96 dollar AS (sekitar Rp 1,7 juta) per barel pada Jumat sore. Penurunan harga ini terjadi setelah dua kapal tanker super milik China dilaporkan berhasil melewati Selat Bab el-Mandeb dengan aman.

Konferensi London dan Rencana Kunjungan Netanyahu

Untuk merespons krisis pelayaran ini, AS dan Inggris dijadwalkan menggelar konferensi khusus di London pekan depan. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine dipastikan hadir dalam pertemuan tersebut. Pertemuan ini juga berlangsung menjelang rencana kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Gedung Putih pada Selasa mendatang.

Sebelumnya pada Juni, AS dan Iran sempat menyepakati Memorandum of Understanding (MoU) 14 poin untuk menghentikan operasi militer dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, tiga minggu pascapenandatanganan, Trump menyatakan gencatan senjata tersebut berakhir menyusul insiden serangan balasan antara kedua negara di kawasan selat.

Join the discussion