Suami Istri Temukan Hampir 300 Paus Bungkuk Berkumpul di Afrika Selatan, Tanda Populasi Pulih?
Suami Istri Temukan Hampir 300 Paus - Sebuah fenomena langka terjadi di perairan lepas pantai Afrika Selatan ketika sepasang suami istri mengamati super group
Suami Istri Temukan Hampir 300 Paus di Afrika Selatan
Lenterafakta.com – Suami Istri Temukan Hampir 300 Paus – Sebuah fenomena langka terjadi di perairan lepas pantai Afrika Selatan ketika sepasang suami istri mengamati super group yang terdiri dari hampir 300 ekor paus bungkuk. Kejadian luar biasa ini memberikan sinyal positif bagi para peneliti bahwa jumlah spesies paus di belahan bumi selatan sedang mengalami pertumbuhan pesat. Pemulihan populasi ini terjadi beberapa dekade setelah penerapan moratorium internasional terhadap perburuan paus pada tahun 1986 yang menyelamatkan spesies mamalia laut dari kepunahan.
Momen Luar Biasa yang Tak Terduga
Chris dan Monique Fallows, pasangan warga Afrika Selatan, memang sudah sering melihat kelompok paus bungkuk dalam jumlah biasa saat melaut. Namun, pengalaman mereka pada pagi hari di bulan Desember lalu benar-benar berbeda dari sebelumnya. Ribuan semburan air dari lubang pernapasan mamalia raksasa itu menyembur ke langit secara bersamaan, menciptakan pemandangan yang menakjubkan.
“Itu luar biasa,” kata Chris Fallows, seorang fotografer seni rupa dan alam liar yang telah mendokumentasikan kehidupan laut selama 35 tahun.
Kapal yang mereka tumpangi langsung berada di tengah-tengah kerumunan paus tersebut. Chris menambahkan bahwa mereka segera menyadari ada ratusan paus berkumpul di satu lokasi tertentu. Ia membandingkan pemandangan semburan napas paus yang berjejer di lautan dengan garis cakrawala gedung-gedung tinggi di Manhattan, menciptakan kontras yang indah antara alam dan kota.
Metode Identifikasi Melalui Foto Ekor
Secara total, pasangan Fallows berhasil mencatatkan 299 ekor paus bungkuk dalam kelompok raksasa tersebut. Monique, yang juga seorang naturalis dan penulis, menjelaskan bahwa mereka menggunakan teknik pemotretan ekor (fluke) untuk memetakan populasi. Setiap paus memiliki pola unik pada ekornya, menjadikan metode ini sebagai standar identifikasi para ilmuwan di seluruh dunia.
Alex Vogel, koordinator Afrika untuk platform Happywhale, mengonfirmasi bahwa temuan ini merupakan salah satu kelompok paus bungkuk terbesar yang pernah dicatat. Happywhale adalah basis data global yang memverifikasi foto dan informasi paus berdasarkan kontribusi citizen scientist. Organisasi tersebut telah melakukan perhitungan ulang terhadap foto-foto kelompok paus yang ditemukan oleh pasangan Fallows dengan cermat.
Rekaman Pemulihan Populasi Paus
Berdasarkan penilaian International Whaling Commission (IWC) dan para ilmuwan, jumlah paus bungkuk di belahan bumi selatan telah meningkat drastis. Pada masa puncak perburuan paus, populasi tersisa kurang dari 10.000 ekor. Kini, angka tersebut melonjak melebihi 100.000 ekor. Saat ini, hanya sedikit negara yang masih melakukan perburuan paus secara komersial.
Paus bungkuk umumnya merupakan mamalia soliter atau bergerak dalam kelompok kecil. Namun, mereka sesekali berkumpul dalam skala supergroup di area laut yang kaya sumber makanan seperti krill dan ikan kecil. Els Vermeulen, Kepala Ilmuwan Whale Unit University of Pretoria, Afrika Selatan, menyatakan bahwa supergroup paus bungkuk mulai terlihat kembali sekitar tahun 2012.
“Secara umum, moratorium perburuan paus dapat dikategorikan sebagai salah satu kisah sukses konservasi terkuat di lingkungan laut,” ujar Vermeulen yang memegang gelar doktor zoologi.
Vermeulen menambahkan bahwa ketika paus bungkuk mencari makan dalam kelompok supergroup, mereka menghasilkan suara bawah air yang mampu menarik paus-paus lain untuk bergabung. Peningkatan laporan kemunculan paus bungkuk juga tercatat di berbagai wilayah lain di Belahan Bumi Selatan.
Tantangan yang Masih Mengintai
Meski paus bungkuk mencatatkan tren pemulihan paling positif, organisasi konservasi World Wildlife Fund (WWF) mengingatkan bahwa pemulihan spesies paus lainnya masih berjalan lambat. Berbagai ancaman nyata tetap mengintai kehidupan paus di samudra, seperti tersangkut jaring alat tangkap perikanan komersial, tabrakan dengan kapal kargo, hingga dampak perubahan iklim.
Bahkan, menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), 7 dari 14 spesies paus berukuran besar kini berstatus terancam punah atau rentan. Salah satunya adalah paus kanan Atlantik Utara yang berstatus kritis dan kini diperkirakan hanya tersisa sejumlah terbatas. Pemulihan populasi paus bungkuk menjadi harapan bagi upaya konservasi laut global.
