Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Survei Coursera: 97 Persen Perusahaan Kini Rekrut Berdasarkan Skill, Benarkah Ijazah Saja Tak Cukup?

Robert Anderson - lenterafakta.com 3 mins read

Transformasi besar sedang terjadi di dunia kerja Indonesia. Survei Coursera terbaru yang dirilis dalam Micro Credentials Impact Report 2026 menunjukkan

Survei Coursera: 97 Persen Perusahaan Kini Rekrut Berdasarkan Skill, Benarkah Ijazah Saja Tak Cukup?

Survei Coursera: 97% Perusahaan Rekrut Berdasarkan Skill

Lenterafakta.com – Transformasi besar sedang terjadi di dunia kerja Indonesia. Survei Coursera terbaru yang dirilis dalam Micro Credentials Impact Report 2026 menunjukkan pergeseran fundamental dalam cara perusahaan merekrut karyawan. Laporan ini mengungkapkan bahwa kemampuan praktis kini menjadi prioritas utama, bahkan melampaui nilai ijazah tradisional. Data yang dihimpun Kompas.com pada Senin (6/7/2026) mengonfirmasi bahwa 97 persen perusahaan di Indonesia telah mengadopsi sistem perekrutan berbasis keterampilan untuk posisi entry-level.

Perubahan ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan respons terhadap kebutuhan pasar yang terus berkembang. Dalam Survei Coursera tersebut, 96 persen pemberi kerja menyatakan bahwa kandidat dengan micro-credentials cenderung menunjukkan performa lebih baik selama tahun pertama bekerja. Sebaliknya, 97 persen lulusan yang memiliki sertifikasi mikro berhasil mendapatkan pekerjaan sesuai bidang studi mereka dalam waktu satu tahun setelah kelulusan. Angka-angka ini menunjukkan bahwa investasi dalam pengembangan keterampilan memiliki dampak nyata terhadap keberhasilan karir.

Mengapa Ijazah Tidak Lagi Cukup?

Fenomena ini memicu diskusi mendalam tentang kedudukan ijazah di era modern. Jejen Musfah, pengamat pendidikan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menjelaskan bahwa gelar akademik tetap memiliki nilai strategis dalam proses pencarian kerja. Namun, ia menekankan bahwa kompetensi praktis juga memegang peranan krusial yang tidak bisa diabaikan.

“Ijazah dan skills. Keduanya penting,” ujar Jejen saat dihubungi Kompas.com pada Minggu (26/7/2026).

Keterampilan yang dimaksud mencakup ranah yang lebih luas dari sekadar kemampuan teknis. Selain hard skills, terdapat pula kompetensi yang lazim disebut sebagai keterampilan abad ke-21. Menurut Jejen, hal ini meliputi komunikasi efektif, kerja sama tim, kreativitas, dan berpikir kritis. Saat ini, keterampilan digital seperti coding dan artificial intelligence juga mulai ditambahkan dalam kategori tersebut, mencerminkan tuntutan industri teknologi yang semakin tinggi.

Kurikulum OBE dan Tantangan Implementasi

Jejen menjelaskan bahwa perguruan tinggi di Indonesia sebenarnya telah mengimplementasikan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE). Sistem ini dirancang untuk memastikan lulusan memiliki keahlian yang selaras dengan bidang profesi masing-masing. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mengembangkan kemampuan praktis yang relevan dengan dunia kerja.

“Kampus sudah menerapkan kurikulum Outcome Based Education /OBE. Artinya belajar yang menghasilkan keterampilan khusus sesuai profesi masing masing,” jelas Jejen.

Meskipun demikian, penerapan kurikulum ini belum berjalan mulus di berbagai institusi pendidikan. Kendala utama meliputi keterbatasan fasilitas laboratorium dan minimnya kolaborasi dengan sektor industri. Jejen menyoroti bahwa masalah ini tidak hanya dialami oleh perguruan tinggi swasta kecil, tetapi juga oleh institusi negeri berskala besar. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan bersifat sistemik dan memerlukan solusi komprehensif.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, Jejen menekankan perlunya dukungan pemerintah melalui alokasi pendanaan yang memadai. Ia menilai struktur pembiayaan saat ini masih kurang tepat. Bagi Perguruan Tinggi Negeri, kontribusi pemerintah hanya mencapai 30 persen, sementara 70 persen lainnya harus dicari sendiri oleh kampus. Kondisi ini membatasi kemampuan institusi dalam mengembangkan program pendidikan berkualitas.

“Sistem yang ada saat ini keliru. Bagi Perguruan Tinggi Negeri (PTN), kontribusi pemerintah hanya 30 persen, 70 persen kampus mencari dana sendiri,” tegas Jejen.

Jejen menutup dengan rekomendasi agar pemerintah memperkuat infrastruktur riset dan meningkatkan kesejahteraan dosen. Dengan ekosistem yang lebih baik, sumber daya manusia Indonesia diharapkan mampu memenuhi kebutuhan industri secara optimal. Survei Coursera ini menjadi pengingat penting bahwa masa depan pendidikan dan ketenagakerjaan Indonesia bergantung pada kemampuan kita beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

“Pemerintah harus memberikan dana besar khususnya fasilitas riset dan kesejahteraan dosennya. SDM kita mampu namun ekosistemnya yang lemah,” pungkasnya.

Join the discussion