Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Netanyahu Temui Trump di Gedung Putih, Iran hingga Gaza Jadi Taruhan

Barbara Rodriguez - lenterafakta.com 3 mins read

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dijadwalkan melakukan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Gedung Putih pada hari Selasa

Netanyahu Temui Trump di Gedung Putih, Iran hingga Gaza Jadi Taruhan

Netanyahu dan Trump Bertemu di Gedung Putih, Isu Iran dan Gaza Jadi Fokus Utama

Lenterafakta.com – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dijadwalkan melakukan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Gedung Putih pada hari Selasa, tanggal 28 Juli 2026. Pertemuan ini terjadi di saat hubungan antara kedua pemimpin sedang mengalami ketegangan, khususnya terkait operasi militer terhadap Iran serta perbedaan kepentingan di kawasan Timur Tengah. Kunjungan ini menandai pertemuan pertama Netanyahu di Gedung Putih sejak pecahnya perang. Ia diketahui telah berusaha mendapatkan undangan sejak bulan April 2026.

Dua sumber yang memahami proses diplomasi tersebut mengungkapkan bahwa rencana pertemuan baru saja diselesaikan dalam beberapa hari terakhir. Salah satu sumber menyatakan pada hari Jumat, 24 Juli 2026, bahwa awalnya tidak ada pertemuan, namun mereka mengaturnya dalam waktu singkat. Netanyahu ingin berkonsultasi dengan Trump mengenai meningkatnya konflik dengan Iran serta rencana kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Proses Diplomasi dan Konfirmasi Pertemuan

Israel menjadi negara pertama yang mengonfirmasi rencana pertemuan tersebut kepada publik. Trump kemudian mengakui rencana kunjungan PM Israel saat berbicara dalam acara makan malam koresponden Gedung Putih pada malam hari Jumat. Meskipun demikian, Gedung Putih belum memberikan penjelasan mengenai alasan undangan tersebut baru diberikan setelah Netanyahu menunggu selama beberapa bulan. Pemerintah Amerika Serikat juga belum memerinci agenda yang akan dibahas kedua pemimpin.

Kantor Netanyahu menegaskan bahwa Trump dan Netanyahu telah beberapa kali bertemu sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden. Kantor perdana menteri Israel dalam sebuah pernyataan menyatakan:

“Hanya sedikit sekutu yang bertemu sesering ini dan hanya sedikit aliansi yang mencapai lebih banyak dalam waktu sesingkat ini.”

Pernyataan tersebut juga menambahkan bahwa Presiden Trump dan perdana menteri akan membahas isu-isu penting di zaman kita dan bagaimana memanfaatkan aliansi besar kita untuk memenangkan perang dan menciptakan perdamaian abadi, seperti dikutip dari Politico pada hari Senin, 27 Juli 2026. Kantor Netanyahu tidak menjawab pertanyaan mengenai upaya yang dilakukan sang perdana menteri untuk mendapatkan undangan ke Gedung Putih.

Konteks Konflik Iran dan Perubahan Tujuan Perang

Pertemuan berlangsung ketika pemerintahan Trump melancarkan operasi militer agresif terhadap Iran, kebijakan yang selama ini didorong Netanyahu. Amerika Serikat telah melancarkan serangan hampir setiap hari terhadap Iran selama sekitar dua pekan terakhir. Pemerintah AS kemudian menyatakan operasi serangan dihentikan selama akhir pekan. Netanyahu sebelumnya disebut ikut meyakinkan Trump untuk memulai serangan terhadap Iran pada Februari 2026.

Namun, posisi Netanyahu dapat tertekan apabila operasi terbaru gagal membawa Iran kembali ke meja perundingan atau membuka jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Trump dan Netanyahu terakhir kali bertemu langsung pada Februari 2026, menjelang pecahnya perang. Saat itu, Trump memperkirakan perang akan berlangsung sekitar empat hingga lima minggu. Konflik tersebut ternyata terus berlanjut hingga hampir lima bulan kemudian.

Nota kesepahaman antara Washington dan Teheran yang dicapai pada Juni 2026 juga runtuh sebulan setelahnya. Tujuan pemerintahan Trump dalam konflik itu turut mengalami perubahan. Trump semula menyatakan ingin mengganti rezim Iran sekaligus mencegah negara tersebut membangun kembali program nuklirnya. Setelah perebutan kendali atas Selat Hormuz kembali memicu pertempuran, perhatian Amerika Serikat beralih pada upaya membuka jalur pelayaran strategis tersebut.

Kekecewaan dalam Gerakan MAGA dan Kritik terhadap Netanyahu

Belum tercapainya tujuan perang mulai menimbulkan kekecewaan di kalangan pendukung Trump dalam gerakan Make America Great Again atau MAGA. Kekecewaan meningkat setelah dua tentara Amerika Serikat tewas akibat serangan Iran di Yordania pada awal Juli 2026. Marjorie Taylor Greene, mantan anggota parlemen Georgia yang sebelumnya dikenal sebagai loyalis Trump, mengkritik perang tersebut melalui media sosial X.

“Kematian mereka memicu nafsu haus darah Anda untuk perang yang tidak masuk akal,” katanya. Sejumlah staf Trump juga disebut semakin frustrasi karena peluang untuk mengakhiri konflik dinilai semakin kecil. Trump bahkan beberapa kali menyampaikan kritik keras terhadap Netanyahu selama perang berlangsung. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Perancis, Trump menyebut Netanyahu “gila”. Ia juga menggunakan kata-kata kasar ketika membicarakan penilaiannya terhadap pemimpin Israel tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Trump tetap mengeklaim peran pentingnya bagi Israel dengan mengatakan, “tanpa saya, tidak akan ada Israel.” Kepentingan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik ini terus berkembang, dengan kedua pemimpin berusaha menemukan solusi yang menguntungkan bagi masing-masing negara. Pertemuan di Gedung Putih ini diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai arah kebijakan kedua negara ke depan.

Join the discussion