Kisah Mutiara Melawan Osteokondroma, Bangkit Bersama JKN hingga Mengabdi sebagai ASN
Pagi hari Senin, tanggal 6 Juli 2026, suasana di sekitar rumah terasa tenang. Mutiara Dayuanti, wanita berusia 28 tahun, tampak mempersiapkan diri dengan
Kisah Mutiara Melawan Osteokondroma Bangkit Bersama JKN
Lenterafakta.com – Pagi hari Senin, tanggal 6 Juli 2026, suasana di sekitar rumah terasa tenang. Mutiara Dayuanti, wanita berusia 28 tahun, tampak mempersiapkan diri dengan rapi. Ia mengenakan seragam ASN berwarna khaki sebelum perlahan berpindah ke kursi rodanya. Setiap barang keperluan kerjanya ditata dengan cermat. Tas kecil disandarkan di bagian belakang kursi, sementara kebutuhan lainnya masuk ke dalam kantong samping.
Di area bagasi mobil, sang ibu, Dewi Bayu Damayanti yang lebih dikenal dengan nama Maya, sudah menunggu. Perempuan berusia 50 tahun ini membantu putrinya berpindah dari kursi roda ke kursi penumpang depan. Setelah itu, ia melipat kursi roda hitam tersebut dan meletakkannya dengan rapi di bagasi. Pintu mobil ditutup, mesin dinyalakan, dan kendaraan pun melaju perlahan melewati kemacetan Jalan Pemuda. Tujuan mereka adalah kantor Dinas Sosial Kota Semarang.
Awal Mula Perjalanan Penyakit
Perjalanan menuju kantor ini menyimpan cerita perjuangan yang panjang. Saat masih duduk di bangku kelas IX SMP, Mutiara mulai merasakan kesulitan saat berlari. Maya, ibunya, kemudian menemukan benjolan di punggung anak perempuannya. Awalnya benjolan itu dianggap sebagai otot yang bergeser, namun ternyata merupakan osteokondroma, sejenis tumor jinak pada tulang belakang yang memerlukan tindakan operasi.
“Saat itu pas bermain di pasir pantai, saya merasa kaki saya susah diajak berlari. Dari situ saya mulai merasa ada yang aneh,” ujarnya kepada Kompas.com, diselingi tawa kecil yang menyimpan getir.
Pada tahun 2012, Mutiara menjalani prosedur operasi pengangkatan tumor di RS Bethesda Yogyakarta. Saat itu, keluarga besar mereka bergotong royong membayar biaya operasi karena belum memiliki jaminan kesehatan. Operasi berjalan lancar, dan Mutiara kembali bersekolah hingga akhirnya diterima di Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.
Kebangkitan Bersama JKN
Ketika memasuki pertengahan semester enam pada tahun 2018, benjolan di punggung Mutiara muncul kembali. Kali ini, benjolan tersebut terus membesar hingga menyerupai punuk. Sulung dari tiga bersaudara itu menyadari penyakitnya kambuh.
Menurut Maya, setelah operasi pertama, seharusnya Mutiara menjalani terapi lanjutan untuk mencegah tumor tumbuh kembali. Namun, keterbatasan finansial membuat rencana tersebut tidak tercapai. Saat benjolan kembali muncul, Maya dan suaminya yang mengandalkan usaha laundry rumahan hanya bisa memikirkan biaya pengobatan.
Berdasarkan saran kerabat, Maya mendaftarkan keluarganya sebagai peserta BPJS Kesehatan. Bagi Maya, langkah ini menjadi momen penting yang mengubah arah pengobatan putrinya.
“Saya tidak mau terlambat lagi. Saya lihat Mutiara semakin susah berjalan,” kenangnya.
Melalui sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Mutiara akhirnya bertemu dengan dokter bedah saraf. Dokter tersebut memastikan tumor telah tumbuh kembali dan memerlukan operasi segera. Mutiara sempat meminta penundaan operasi agar dapat menyelesaikan KKN dan skripsi, sehingga bisa lulus bersama teman-temannya. Namun, keputusan itu menjadi masa-masa paling menegangkan bagi Maya.
Saat menjalani KKN di Pemalang, kondisi Mutiara semakin memburuk. Maya pun memutuskan untuk membawanya pulang dan menjalani operasi. Pada tahun 2019, tumor berhasil diangkat. Sayangnya, saraf yang lama terjepit menyebabkan kedua kaki Mutiara kehilangan kemampuan untuk digerakkan.
Mengabdi untuk Sesama
Meskipun harus menggunakan kursi roda dan digendong untuk menaiki gedung kampus guna bertemu dosen pembimbing, Mutiara tetap semangat menyelesaikan studinya. Ia lulus sebagai Sarjana Psikologi pada tahun 2021 dengan IPK 3,5.
Tak lama setelah wisuda, Mutiara mengikuti seleksi CPNS jalur disabilitas. Setahun kemudian, ia dinyatakan lolos dan diterima sebagai ASN di Dinsos Kota Semarang. Status baru ini membuka babak kehidupan yang berbeda bagi Mutiara dan ibunya.
Untuk memperlancar mobilitas dari rumah ke kantor, mereka membeli sebuah mobil secara kredit. Kini, Maya selalu berada di balik kemudi. Sejak sang suami meninggal dunia tahun lalu, perempuan itu menjadi satu-satunya yang mengantar dan menjemput Mutiara setiap hari.
Kini, Mutiara bertugas sebagai ketua tim di bidang Rehabilitasi Sosial. Setiap harinya, ia mendampingi penyandang disabilitas melalui berbagai kegiatan seperti penyuluhan, pelatihan, penyaluran bantuan, hingga memberikan dukungan moral agar mereka berani bangkit dan hidup mandiri.
Perjuangan Mutiara belum berakhir. Setelah operasi kedua, babak yang paling panjang justru dimulai. Ia harus menjalani rehabilitasi medik berupa fisioterapi secara rutin untuk melatih kembali kedua kakinya.
