Mengapa Perang Baru di Yaman Bisa Lebih Sulit bagi Kelompok Houthi?
Yaman kini menghadapi potensi konflik berskala besar setelah kelompok Houthi melakukan peningkatan signifikan dalam mobilisasi militer. Dalam kurun waktu
Konflik Yaman: Tantangan Baru bagi Houthi di Medan Perang
Lenterafakta.com – Yaman kini menghadapi potensi konflik berskala besar setelah kelompok Houthi melakukan peningkatan signifikan dalam mobilisasi militer. Dalam kurun waktu beberapa hari terakhir, aksi-aksi tempur terus dilancarkan oleh pihak tersebut. Tepat pada hari Rabu, tanggal 22 Juli 2026, Houthi menyatakan diri bertanggung jawab atas serangan yang menargetkan dua kapal milik Arab Saudi di perairan Laut Merah. Serangan ini melibatkan rudal serta pesawat nirawak. Klaim Houthi menyebutkan bahwa kedua kapal tersebut telah melanggar zona blokade yang mereka tetapkan untuk pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi.
Saat yang hampir bersamaan, pertempuran sengit juga terjadi di Provinsi Dhale, yang terletak di bagian barat daya Yaman. Bentrokan ini melibatkan pasukan Houthi melawan kelompok bersenjata yang mendukung pemerintahan Yaman. Laporan menyebutkan bahwa lebih dari tiga puluh korban jiwa telah jatuh dari kedua belah pihak dalam konflik tersebut. Peristiwa ini menandai pergeseran strategi Houthi dari sekadar retorika menuju operasi militer yang lebih nyata dan langsung.
Posisi Strategis dan Sejarah Perang
Houthi saat ini masih memegang kendali atas wilayah barat laut Yaman yang berpenduduk padat, termasuk ibu kota Sanaa. Selama satu dekade terakhir, kelompok ini berhasil bertahan dari serangan gabungan yang melibatkan pemerintah Yaman, koalisi yang dipimpin Arab Saudi, serta Amerika Serikat, Inggris, dan Israel. Sebelumnya, pada September 2014, Houthi berhasil merebut Sanaa ketika pemerintah Yaman sedang mengalami krisis politik dan kelemahan militer yang signifikan. Kondisi tersebut memungkinkan Houthi untuk memperluas wilayah kekuasaannya ke berbagai daerah.
Presiden Yaman pada masa itu, Abd-Rabu Mansour Hadi, beserta beberapa pejabat tinggi lainnya memutuskan untuk meninggalkan Yaman dan mencari suaka di Arab Saudi. Koalisi yang dipimpin Arab Saudi resmi memasuki konflik pada bulan Maret 2015. Namun, upaya untuk mengalahkan Houthi sering kali terhambat oleh perbedaan kepentingan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, ditambah dengan konflik internal di dalam pemerintahan Yaman sendiri.
Perubahan Dinamika Kekuatan
Namun, situasi kini mulai berubah secara signifikan. Pemerintah Yaman dinilai telah meningkatkan koordinasi politik dan militernya dibandingkan dengan periode awal perang. Ahmed Nagi, seorang analis senior Yaman di International Crisis Group, menjelaskan bahwa peningkatan kohesi di kubu pemerintah dapat menjadi faktor penentu dalam konflik ini.
“Kita sudah mulai melihat beberapa dinamika ini. Dibandingkan dengan awal tahun ini, Dewan Kepemimpinan Presiden [otoritas Yaman yang diakui PBB] kurang terpecah belah, dan pengambilan keputusan tampak lebih terkoordinasi,” kata Nagi, dikutip dari Al Jazeera pada Senin (27/7/2026).
Arab Saudi juga dilaporkan semakin aktif menjalin kerja sama dengan berbagai kelompok anti-Houthi. Meskipun demikian, efektivitas kekuatan gabungan ini sangat bergantung pada kemampuan pemerintah Yaman dalam menyusun strategi terpadu serta mengoordinasikan operasi di berbagai front pertempuran.
Isu Maritim dan Aliansi Regional
Serangan Houthi terhadap kapal-kapal Saudi berpotensi memicu terbentuknya koalisi regional baru yang bertujuan melindungi jalur pelayaran di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb. Antara tahun 2023 hingga 2025, Houthi secara berulang kali menyerang kapal-kapal yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel. Kelompok tersebut menyatakan bahwa serangan-serangan tersebut merupakan bentuk solidaritas terhadap Palestina selama perang di Gaza.
Amerika Serikat, Inggris, dan Israel kemudian membalas dengan melaksanakan ratusan serangan udara ke berbagai lokasi Houthi di Yaman. Serangan terhadap kapal-kapal tersebut akhirnya berhenti pada bulan Mei 2025 setelah Houthi mencapai kesepakatan dengan Washington. Yazeed al-Jeddawy, manajer penelitian di Pusat Studi Strategis Sanaa, menilai bahwa kampanye baru terhadap kapal Saudi dapat menghasilkan respons yang berbeda dari sebelumnya.
“Hal ini dapat mempercepat pembentukan aliansi regional baru untuk melindungi lalu lintas maritim, terutama karena diskusi tingkat lanjut sudah berlangsung di antara beberapa negara regional dengan dukungan dari mitra internasional lainnya,” kata al-Jeddawy.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga telah memberikan peringatan mengenai kemungkinan adanya “hukuman militer besar” terhadap Iran dan Houthi jika serangan serupa terulang kembali.
Tantangan dari Kelompok Suku
Selain tekanan dari kekuatan regional, Houthi juga menghadapi tantangan dari kelompok-kelompok suku di Provinsi al-Jawf, yang terletak di sebelah timur Sanaa. Ketegangan memanas setelah seorang pemimpin suku bernama Hamad al-Hazmi ditahan selama 50 hari di Sanaa setelah berselisih dengan tokoh Houthi. Setelah dibebaskan pada akhir bulan Juni, ia mengungkapkan bahwa perlakuan selama penahanan dianggap tidak adil olehnya.
Sejumlah ribu anggota suku dari berbagai provinsi kemudian berkumpul di al-Jawf untuk mengecam pemerintahan Houthi. Aliansi suku ini memiliki potensi untuk mendukung operasi pasukan pemerintah apabila perang kembali meletus. Meskipun demikian, pengaruhnya sangat bergantung pada kemampuan kelompok-kelompok suku tersebut untuk menjaga persatuan di antara mereka.
