Alasan Jepang Kerap Diguncang Gempa Besar, Ternyata Jadi Tempat Lahir Ilmu Gempa dan Tsunami
Gempa bumi berkekuatan besar kembali menghantam Jepang pada Selasa (28/7/2026) sore. Diberitakan BBC, gempa bumi kuat bermagnitudo (M) 6,8 yang mengguncang
Alasan Jepang Kerap Diguncang Gempa Besar
Lenterafakta.com – Gempa bumi berkekuatan besar kembali menghantam Jepang pada Selasa (28/7/2026) sore. Diberitakan BBC, gempa bumi kuat bermagnitudo (M) 6,8 yang mengguncang wilayah barat daya Jepang tersebut merusak bangunan, meruntuhkan fasilitas publik, serta memicu kebakaran dan melukai puluhan warga. Dalam laporan terbaru hingga Rabu pagi, gempa tersebut menyebabkan 13 orang tewas, dengan perkiraan data akan terus bertambah karena diduga masih banyak yang tertimbun reruntuhan bangunan dan mal.
Sejarah Gempa di Jepang
Mundur ke belakang, gempa bumi berkekuatan M 6,9 pernah menghantam area dekat Kuji, Prefektur Iwate pada 24 Juni 2026. Kemudian pada 20 April 2025, gempa M 7,4 juga menghantam lepas pantai Sanriku, Prefektur Iwate. Tak ada korban jiwa dalam dua gempa terakhir.
Namun, gempa di Iwate sempat memicu alarm tsunami dan menyebabkan evakuasi 176.000 warga. Pertanyaan yang sering muncul di benak masyarakat dunia adalah, mengapa Jepang sering dihantam gempa berkekuatan besar? Dilansir dari The Washington Post (3/1/2024), Jepang bukanlah wilayah yang asing dengan fenomena gempa bumi.
Posisi Geografis dan Aktivitas Tektonik
Negara ini termasuk salah satu kawasan paling aktif secara seismik di dunia sekaligus tempat lahirnya seismologi atau ilmu yang mempelajari gempa bumi. Begitu pula dengan studi mengenai tsunami, kata dalam bahasa Jepang yang berarti “gelombang di pelabuhan”, yang juga berawal dari negara ini. Secara global, Jepang kerap menduduki berita utama dunia terkait dampak kerusakan akibat gempa bumi.
Salah satu peristiwa yang paling membekas adalah bencana ganda pada Maret 2011, ketika gempa bumi bermagnitudo 9,0 memicu tsunami hebat dan kebocoran reaktor nuklir, yang menjadi bencana nuklir terburuk di dunia sejak insiden Chernobyl pada 1986. Secara teori geologi, gempa bumi terjadi ketika dua lempeng tektonik saling bertabrakan dan salah satu lempeng menyusup ke bawah lempeng lainnya, sehingga melepaskan energi dalam jumlah besar secara mendadak. Nah, wilayah Jepang berdiri tepat di atas empat lempeng tektonik utama.
Kondisi geografis ini menjadikannya salah satu tempat di dunia yang paling rawan mengalami aktivitas tektonik.
“Semakin banyak lempeng yang Anda miliki dan, yang lebih penting, semakin banyak batas lempeng yang berdekatan atau melintasi negara seperti Jepang, maka semakin banyak interaksi antarlempeng tempat terjadinya gempa bumi,” kata Robert Butler, Profesor Emeritus Geofisika di University of Portland dan University of Arizona. “Jadi, lebih banyak batas lempeng berarti lebih banyak gempa bumi,” lanjutnya.
Seismolog di International Institute of Seismology and Earthquake Engineering di Ibaraki, Jepang, Saeko Kita, mengungkapkan bahwa Jepang dan kawasan sekitarnya menyumbang sekitar 18 persen dari total gempa bumi di dunia karena tingginya aktivitas tektonik di wilayah tersebut. Setiap tahunnya, Jepang mencatatkan sekitar 1.500 kali gempa bumi yang dapat dirasakan langsung oleh manusia. Bahkan, jika dihitung secara keseluruhan, aktivitas seismik di negeri ini terekam rata-rata setiap lima menit sekali.
Banyaknya aktivitas gempa bumi ini dinilai wajar karena Jepang berada di jalur zona berbentuk tapak kuda yang dikenal sebagai Ring of Fire (Cincin Api Pasifik). Zona ini memiliki lebih dari 400 gunung api aktif yang mengelilingi Samudra Pasifik, membentang dari pantai timur Australia, melintasi Rusia timur, hingga pantai barat Amerika Utara dan Cile. Berdasarkan data dari U.S. Geological Survey (USGS) dan International Tsunami Information Center, sekitar 80 persen gempa bumi dan tsunami terbesar di dunia terjadi di kawasan Ring of Fire ini.
Selain Jepang, negara tetangga seperti Taiwan dan Filipina juga berada di atas tiga lempeng tektonik utama dan sangat rentan terhadap gempa bumi. Namun, Jepang kerap mendapatkan perhatian dunia yang lebih besar. Seismolog berpengalaman di USGS selama lebih dari tiga dekade, Lucy Jones, menjelaskan bahwa tingginya perhatian internasional terjadi karena adanya persepsi publik bahwa jumlah warga yang terdampak gempa bumi di Jepang jauh lebih besar. Persepsi ini didorong oleh sejarah panjang Jepang dalam mencatat, mempelajari, serta menerapkan teknologi mitigasi bencana. “Kenyataannya adalah Filipina dan Taiwan memiliki jumlah gempa bumi yang sama banyaknya dengan Jepang, tetapi saya pikir sebagian dari persepsi itu muncul karena Jepang telah mengembangkan teknologi untuk menghadapinya,” kata Lucy Jones.
Diketahui, gempa besar juga menghantam Jepang pada 1 Januari 2024. Dengan kekuatan M 7,6, gempa itu menghajar Semenanjung Noto, Prefektur Ishikawa. Gempa di hari tahun baru itu mencatatkan jumlah korban tewas melampaui 62 orang, serta merusak lebih dari 100 bangunan dan menghancurkan sekitar 1.000 rumah warga.
Berbeda dengan negara lain yang mengukur kekuatan berdasarkan magnitudo, Jepang mengukur gempa bumi berdasarkan tingkat guncangan tanah (shindo). Gempa bumi 1 Januari 2024 ini
