Cara Membasmi Kamitetep yang Bisa Bikin Gata-gatal dan Mencegahnya Muncul Lagi di Rumah
Kamitetep merupakan salah satu serangga pengganggu yang sering ditemukan di dalam rumah, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia. Serangga ini memiliki
Cara Membasmi Kamitetep yang Bisa Bikin Gata-gatal di Rumah
Lenterafakta.com – Kamitetep merupakan salah satu serangga pengganggu yang sering ditemukan di dalam rumah, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia. Serangga ini memiliki siklus hidup yang unik dan cenderung berkembang biak di tempat-tempat lembap. Banyak orang yang mengalami masalah dengan serangga ini karena dapat menyebabkan iritasi kulit dan merusak pakaian. Oleh karena itu, memahami cara membasminya secara efektif sangat penting untuk menjaga kenyamanan hunian Anda.
Kamitetep dikenal sebagai serangga yang berukuran kecil dengan sayap berwarna putih atau abu-abu. Mereka biasanya bersembunyi di balik furnitur, di dalam lemari pakaian, maupun di area atap rumah. Meskipun tidak menggigit atau menyengat, kontak dengan serangga ini dapat memicu reaksi alergi pada sebagian orang. Rasa gatal dan ruam kemerahan adalah gejala umum yang muncul setelah terpapar.
Mengapa Kamitetep Lebih Aktif di Musim Hujan?
Musim penghujan menjadi periode kritis bagi perkembangan kamitetep. Menurut Dr. Dra. Ratna Yuniati, M.Si., dosen Departemen Biologi FMIPA Universitas Indonesia, kelembapan udara yang tinggi merupakan faktor pendorong utama pertumbuhan larva serangga ini.
“Kelembapan tinggi menyebabkan debu, rambut, dan puing-puing organik menumpuk lebih banyak di sudut-sudut rumah, yang menjadi sumber makanan bagi larva,” kata Ratna, dikutip dari Kompas.com (11/7/2025).
Selain itu, kebiasaan menutup jendela dan pintu selama musim hujan mengurangi sirkulasi udara di dalam rumah. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang sempurna bagi kamitetep untuk berkembang biak. Sebaliknya, pada musim kemarau dengan suhu lebih panas dan udara kering, populasi serangga ini cenderung menurun karena perkembangan larva terhambat oleh kondisi lingkungan yang tidak mendukung.
Gejala Kulit dan Cara Mengatasinya
Setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap paparan kamitetep. Ratna menjelaskan bahwa gejala yang muncul bervariasi tergantung tingkat sensitivitas kulit masing-masing individu. Bagi sebagian orang, kontak ringan saja sudah cukup untuk menimbulkan iritasi.
“Tanda pada kulit jika sudah terkena kamitetep adalah bisa berupa ruam atau bintik kemerahan yang terasa gatal,” ujarnya.
Reaksi alergi ringan hingga pembengkakan juga dapat terjadi pada mereka yang memiliki kulit sensitif. Namun, kabar baiknya adalah kulit umumnya akan pulih secara alami dalam kurun waktu 3 hingga 7 hari tanpa penanganan khusus. Menggunakan lotion atau krim anti-gatal dapat mempercepat proses penyembuhan dan mengurangi ketidaknyamanan.
Langkah Efektif Membasmi dan Mencegah Kamitetep
Kunci utama dalam mengatasi kamitetep adalah menjaga kebersihan dan kelembapan rumah. Serangga ini berkembang pesat di lingkungan yang lembap dan kotor, sehingga pembersihan rutin menjadi sangat penting. Ratna menekankan bahwa pembersihan tidak boleh hanya fokus pada serangga yang terlihat, tetapi juga area sekitarnya.
“Jangan hanya membersihkan yang ada ngengatnya, tapi lingkungan sekitarnya,” kata Ratna.
Beberapa langkah pencegahan yang sangat disarankan antara lain menggunakan kapur barus atau kamper. Alat ini bisa membantu mengusir ngengat yang ada dalam kulit kamitetep dan menjaga kesegaran lemari atau gudang. Selain itu, penyemprotan insektisida juga merupakan alternatif pengendalian yang efektif. Sesuai informasi dari Kompas.com (25/1/2026), insektisida dapat digunakan secara hati-hati pada area yang sering menjadi tempat bersarang, seperti bawah lemari, gudang, dan garasi.
Perawatan pakaian yang tepat juga berperan penting dalam pencegahan. Hindari kebiasaan menggantung pakaian kotor atau pakaian yang jarang dipakai di dinding. Sebaiknya pakaian segera dicuci dan dijemur hingga kering di bawah sinar matahari untuk membunuh larva yang mungkin menempel. Dengan menjaga rumah tetap bersih, kering, dan memiliki sirkulasi udara yang baik, risiko munculnya kamitetep dapat dikurangi secara signifikan.
(Kompas.com/Alinda Hardiantoro, Retia Kartika Dewi | Editor: Tri Indriawati, Inten Esti Pratiwi)
