3 Hewan yang Pernah Direkrut CIA Jadi Mata-mata, Bukan Cuma Kucing
Selama masa Perang Dingin, berbagai negara berlomba menciptakan teknik pengintaian yang inovatif. Central Intelligence Agency (CIA) tidak hanya mengandalkan
Tiga Binatang yang Pernah Menjadi Agen Rahasia CIA
Lenterafakta.com – Selama masa Perang Dingin, berbagai negara berlomba menciptakan teknik pengintaian yang inovatif. Central Intelligence Agency (CIA) tidak hanya mengandalkan manusia, tetapi juga memanfaatkan makhluk hidup lainnya untuk misi-misi rahasia. Meskipun kucing sering disebut sebagai hewan mata-mata, sebenarnya ada dua spesies lain yang pernah mendapat tugas serupa.
Anjing Penjejak Bahan Peledak
Sebelum membahas proyek-proyek eksotis, penting untuk diketahui bahwa anjing merupakan bagian integral dari Security Protective Service (SPS) milik CIA. Tugas utama mereka bukan sebagai mata-mata konvensional, melainkan sebagai penjaga keamanan gedung-gedung penting dan keselamatan para pegawai badan intelijen tersebut.
Keunggulan anjing terletak pada indra penciumannya yang luar biasa. CIA menyatakan bahwa kemampuan hidung anjing mencapai 10.000 kali lebih tajam dibandingkan manusia. Sebagai ilustrasi, jika terdapat dua juta tong berisi apel segar, seekor anjing tetap bisa menemukan satu apel busuk yang tersembunyi di antara tong-tong tersebut.
Setelah melalui proses pelatihan selama beberapa minggu, anjing-anjing ini mampu mengenali puluhan jenis bahan peledak. Yang lebih menakjubkan, mereka dapat mendeteksi lebih dari 20.000 kombinasi campuran peledak yang berbeda, bahkan ketika bahan tersebut telah bercampur dengan berbagai zat kimia lainnya.
Merpati Fotografer Rahasia
Salah satu proyek paling menarik selama Perang Dingin adalah pemanfaatan merpati sebagai fotografer lapangan. Kantor Penelitian dan Pengembangan CIA berhasil merancang kamera berukuran mini dan ringan yang dapat dipasang pada tubuh burung tersebut.
Kamera ini diikat pada dada merpati menggunakan sabuk kecil. Setelah dilepaskan di atas wilayah rahasia negara asing yang menjadi sasaran pemantauan, burung akan terbang kembali ke markas. Selama perjalanan pulang, kamera secara otomatis merekam foto-foto sepanjang rute terbang.
Alasan utama memilih merpati adalah karena keberadaan mereka yang sangat umum. Tidak ada orang yang akan curiga bahwa seekor merpati biasa sedang melakukan tugas pemotretan untuk CIA. Burung-burung ini mampu menyamar sempurna di antara ribuan merpati lainnya di kota-kota besar.
Kucing dengan Mikrofon di Telinga
Proyek Acoustic Kitty mungkin merupakan yang paling terkenal di antara semua operasi hewan CIA. Dimulai pada tahun 1964, para ilmuwan mencoba memanfaatkan seekor kucing yang telah dimodifikasi untuk merekam percakapan terbuka, seperti dialog antara agen asing dan pengendalinya di taman kota.
Modifikasi yang dilakukan cukup rumit. Para peneliti memasang mikrofon kecil di salah satu telinga kucing, menanamkan pemancar radio mini di bawah kulitnya, serta menyembunyikan antena di dalam bulu-bulu hewan tersebut.
Dari segi teknologi, sistem ini berfungsi dengan baik. Namun, kesulitan dalam mengendalikan kucing menjadi alasan utama penghentian proyek pada tahun 1967. Hingga saat ini, Acoustic Kitty belum pernah digunakan dalam operasi nyata.
Ada satu rumor menarik yang beredar tentang proyek ini. Konon, percobaan pertama langsung berakhir tragis ketika kucing tertabrak taksi atau bus di jalan raya. CIA menjelaskan bahwa cerita tersebut berasal dari seorang mantan pejabat yang pada tahun 1979 mengaku hanya sedang bercanda. Sayangnya, banyak orang, termasuk sebagian pegawai CIA sendiri, menganggap cerita itu sebagai fakta sehingga mitos tersebut terus menyebar hingga kini.
Operasi-operasi ini sebagian besar masih dirahasiakan hingga dokumen-dokumen terkait dibuka untuk publik pada tahun 2001. Informasi ini juga telah dikonfirmasi melalui laman resmi CIA pada Senin (22/4/2024), membuktikan bahwa dunia mata-mata tidak selalu identik dengan manusia.
