Ruang Aman Perempuan Gaza, Tempat Berbagi Luka dan Harapan di Tengah Perang
Di tengah konflik yang melanda Gaza, sebuah inisiatif memberikan ruang bagi perempuan untuk memulihkan diri. Program Collective Development Projects
Ruang Aman Perempuan Gaza Tempat Berbagi Luka dan Harapan di Tengah Perang: Inisiatif Mendukung Korban Konflik
Lenterafakta.com – Di tengah konflik yang melanda Gaza, sebuah inisiatif memberikan ruang bagi perempuan untuk memulihkan diri. Program Collective Development Projects menyediakan fasilitas khusus di mana para wanita dapat berbagi pengalaman, mendapatkan pendampingan psikologis, dan saling mendukung satu sama lain. Kegiatan ini berlangsung di Sekolah Al-Farah dan telah menarik perhatian banyak peserta yang membutuhkan tempat untuk mengekspresikan perasaan mereka. Inisiatif ini menjadi simbol harapan bagi para perempuan yang kehilangan tempat tinggal, keluarga, dan rasa aman.
Tempat Beristirahat bagi Para Perempuan Gaza yang Kehilangan
Setiap pagi, Ola Saleh memastikan semua kebutuhan lima anaknya terpenuhi sebelum meninggalkan tenda tempat tinggal mereka di Kamp Al-Amal, Deir el-Balah. Perjalanan singkat sekitar lima menit membawanya menuju sebuah tenda yang berfungsi sebagai tempat aman bagi perempuan korban perang. Di sana, ia dapat melupakan sejenak beban sebagai ibu tunggal, kesulitan hidup di pengungsian, serta duka mendalam setelah kehilangan sang suami.
Abdul Jalil Saleh, suami Ola yang berusia 43 tahun, meninggal dunia pada bulan Agustus. Pria tersebut tewas saat keluar rumah untuk membeli bahan makanan dan kebutuhan pokok. “Dia tewas seketika. Saya masih tidak tahu apakah itu penembak jitu atau helikopter,” kata Ola sambil menangis.
“Setiap hari lebih sulit daripada hari sebelumnya. Tanggung jawab saya terus bertambah dan ketidakhadirannya semakin terasa berat,” katanya, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (29/7/2026).
Kini, Ola harus membesarkan lima anak yang berusia antara 5 hingga 17 tahun seorang diri. Kematian Abdul membuat ia kehilangan pasangan sekaligus satu-satunya pencari nafkah keluarga. Menurut data UN Women, sekitar 16.000 perempuan di Gaza kehilangan suami sejak perang pecah pada Oktober 2023. Kondisi tersebut membuat sekitar satu dari tujuh keluarga di Gaza kini dipimpin oleh perempuan.
Mengapa Ruang Aman Diperlukan
Sebagian besar perempuan yang kehilangan suami tidak memiliki waktu dan ruang untuk berduka. Mereka harus berjuang mencari makanan, air, dan kebutuhan dasar di tengah keterbatasan kamp pengungsian. Koordinator lapangan ruang aman perempuan, Alaa Daoud (29), menjelaskan bahwa program ini dirancang agar para perempuan dapat mengekspresikan perasaan secara bebas serta mendapatkan dukungan psikologis dan praktis.
“Setiap perempuan datang dengan pengalamannya sendiri, hal-hal yang telah dia alami dan hal-hal yang ingin dia ubah,” kata Daoud.
Program yang digelar di Sekolah Al-Farah juga membahas berbagai persoalan yang semakin berat selama perang. Mulai dari tekanan keluarga, kesulitan ekonomi, kesehatan mental, hingga cara merawat anak di pengungsian. Jumlah peserta terus bertambah sejak kegiatan dimulai. Sekitar 60 perempuan hadir pada hari pertama, kemudian meningkat menjadi 65 orang pada hari kedua dan mencapai 70 hingga 75 peserta pada pertemuan berikutnya.
Harapan di Tengah Kesedihan
Bagi Ola, sesi tersebut tidak menghapus kesedihannya, tetapi membuat beban itu terasa lebih ringan. “Saya pergi dengan secercah harapan dan energi positif. Itu tidak cukup untuk menghilangkan semua yang saya alami, tetapi itu membantu saya untuk terus maju,” ucap dia.
Peserta lainnya, Suad al-Gharabali (63), menggunakan ruang tersebut untuk berbagi pengalaman kepada para ibu muda. Ia kehilangan rumahnya di Shujaiya, Kota Gaza, serta dua putranya yang berusia 24 dan 35 tahun dalam serangan udara terpisah. Meski masih berduka, Suad berusaha menjadikan pengalaman hidupnya sebagai pelajaran bagi perempuan lain. “Saya senang dengan pertemuan-pertemuan ini karena memberikan kesadaran,” katanya.
Menurut Daoud, ruang aman tidak hanya memberikan konseling, tetapi juga menjadi bentuk pengakuan terhadap besarnya beban yang ditanggung perempuan Gaza. Mereka menghadapi kemiskinan, kehilangan anggota keluarga, pengungsian, serta tanggung jawab membesarkan anak di tengah perang. Ketika perjuangan tersebut diakui, para perempuan merasa bahwa pengorbanan dan penderitaan mereka tidak diabaikan.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa meskipun perang menghancurkan segalanya, harapan tetap bisa tumbuh. Melalui ruang aman perempuan Gaza tempat berbagi luka dan harapan, para korban konflik menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup. Program ini tidak hanya membantu pemulihan psikologis, tetapi juga membangun solidaritas antar perempuan yang mengalami nasib serupa. Dengan dukungan yang tepat, mereka dapat menjadi lebih kuat dan memberikan contoh bagi generasi mendatang.
