Tren “Mini You & You Now” di Instagram Ternyata Dipakai untuk Melatih AI? Ini Kata Pakar Siber
Platform media sosial Instagram saat ini sedang digandrungi dengan fenomena Tren Mini You You Now . Konsep yang sedang viral ini mengajak para pengguna untuk
Tren Mini You You Now di Instagram untuk Melatih AI
Lenterafakta.com – Platform media sosial Instagram saat ini sedang digandrungi dengan fenomena Tren Mini You You Now. Konsep yang sedang viral ini mengajak para pengguna untuk membandingkan foto diri mereka saat masih kecil dengan gambar terkini. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan menarik mengenai penggunaan konten tersebut. Beberapa sumber mengklaim bahwa Tren Mini You You Now ternyata dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran bagi kecerdasan buatan atau AI.
Perkembangan ini bermula dari sebuah unggahan di Instagram pada hari Rabu, 29 Juli 2026. Akun tersebut menyampaikan kebutuhan akan data perbandingan wajah manusia dari masa bayi hingga dewasa. Dalam pesannya, disebutkan rencana untuk memanfaatkan Tren Mini You You Now sebagai bagian dari proyek rahasia. “Saya membutuhkan data perbandingan wajah manusia saat masih bayi dengan wajah mereka sekarang untuk proyek rahasia. Siap, Pak. Saya coba bikin tren ‘MINI YOU & YOU NOW’ di Instagram,” tulis akun tersebut dengan jelas.
Klarifikasi dari Pakar Keamanan Siber
Alfons Tanujaya, pakar keamanan siber yang berafiliasi dengan Vaksincom, memberikan penjelasan resmi mengenai isu ini. Ia menegaskan bahwa perusahaan Meta secara resmi telah mengakui bahwa foto serta teks yang dipublikasikan secara umum akan digunakan dalam proses pelatihan AI. Pernyataan ini tidak hanya berlaku untuk Tren Mini You You Now, melainkan juga mencakup berbagai jenis foto dan konten publik lainnya yang diunggah oleh pengguna media sosial.
“Tren ‘mini you and you now’ atau sejenis, misalnya ’10 years ago’ dan seterusnya, memang secara terbuka diakui oleh Meta. Foto dan teks publik yang terbuka akan digunakan untuk melatih AI,” kata Alfons saat dihubungi Kompas.com, Kamis (30/7/2026).
Menurut Alfons, penting bagi pengguna media sosial untuk menyadari bahwa data yang berpotensi digunakan tidak terbatas hanya pada foto-foto yang diunggah dalam tren tertentu. Semua foto yang dipublikasikan, terlepas dari konteksnya, dapat menjadi bagian dari dataset AI. “Tapi perlu menjadi catatan penting, semua foto dan bukan hanya terbatas pada foto-foto event seperti ‘mini you’ dan lainnya. Itu yang perlu disadari pengguna media sosial,” ujarnya.
Dampak dan Risiko bagi Pengguna Media Sosial
Alfons menilai bahwa penggunaan foto untuk melatih AI umumnya tidak menimbulkan kerugian secara langsung bagi pemilik foto. AI tidak mengandalkan satu foto tertentu sebagai objek utama. Sebaliknya, sistem AI mempelajari pola dari kumpulan data dalam jumlah sangat besar yang dapat terdiri dari ratusan ribu hingga jutaan foto. Melalui proses tersebut, model AI dapat menjadi semakin canggih dan mampu membuat prediksi berdasarkan pola yang telah dipelajari.
Sebagai contoh, AI dapat memperkirakan seperti apa wajah seseorang pada puluhan tahun mendatang berdasarkan foto yang tersedia saat ini. “Ancamannya bukan pada foto yang diunggah, tetapi pada kemampuan model AI yang semakin canggih sehingga bisa menghasilkan prediksi atau gambaran wajah seseorang di masa depan dengan tingkat kemiripan yang tinggi,” jelasnya.
Di sisi lain, Alfons mengingatkan bahwa risiko dapat meningkat ketika orangtua terlalu sering membagikan foto dan informasi pribadi anak di media sosial atau melakukan sharenting. Semakin banyak foto dan informasi pribadi yang dipublikasikan, semakin besar pula peluang data tersebut dimanfaatkan oleh pihak lain untuk berbagai bentuk eksploitasi. “Semakin banyak foto dan informasi pribadi yang dipublikasikan, semakin besar pula peluang data tersebut dimanfaatkan pihak lain untuk berbagai bentuk eksploitasi,” pungkas Alfons.
