Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Mendiktisaintek Video Call Mahasiswa Undana yang Depresi Ujian Skripsi Ditolak 12 Kali

Michael Miller - lenterafakta.com 3 mins read

Mendiktisaintek Video Call Mahasiswa Undana menjadi sorotan publik setelah Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto secara langsung

Mendiktisaintek Video Call Mahasiswa Undana yang Depresi Ujian Skripsi Ditolak 12 Kali

Mendiktisaintek Video Call Mahasiswa Undana: Dukungan Usai Skripsi Ditolak 12 Kali

Lenterafakta.com – Mendiktisaintek Video Call Mahasiswa Undana menjadi sorotan publik setelah Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto secara langsung menghubungi mahasiswi semester 10 jenjang S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana, JT. Kasus ini viral ketika JT ditolak sebanyak 12 kali dalam ujian skripsinya. Melalui video call, Brian Yuliarto menyampaikan jaminan penuh bahwa studi JT akan segera diselesaikan. Dalam rekaman yang menyebar luas, JT terlihat menangis sambil dipeluk oleh anggota keluarganya yang mendampingi.

Kepedulian Pemerintah Pusat terhadap Mahasiswa

Rektor Undana, Prof. Jefri, menceritakan momen interaksi antara Mendiktisaintek dengan JT secara detail. Menurut Jefri, pemerintah pusat menunjukkan kepedulian tinggi terhadap kondisi JT, baik dari segi kesehatan maupun permasalahan akademik yang dialaminya. Brian Yuliarto tidak hanya memberikan semangat, tetapi juga memastikan bahwa seluruh proses akademik JT dapat berjalan lancar. Dukungan ini menjadi harapan baru bagi JT yang sempat mengalami gangguan kesehatan akibat tekanan ujian.

“Pak Menteri sudah berkomunikasi langsung melalui video call dengan adik Jesika, menanyakan kesehatannya dan memastikan bahwa Kementerian mendukung penyelesaian studinya hingga menjadi sarjana,” kata Jefri.

Rektor Undana tersebut juga mengungkapkan bahwa ia beserta tim mengunjungi Rumah Sakit Wirasakti Kupang pada Sabtu (1/8/2026) untuk menjenguk JT. Kunjungan ini dilakukan setelah Jefri kembali dari perjalanan luar kota. Tujuannya adalah memastikan kampus hadir mendampingi mahasiswa yang sedang menghadapi berbagai persoalan. Kehadiran rektor dan tim ini menjadi bukti nyata komitmen universitas terhadap kesejahteraan mahasiswinya.

“Jadi saya baru bisa hadir ke sini karena baru tiba dari luar kota. Kami datang untuk melihat dan minimal memberikan dukungan serta menyampaikan bahwa secara kelembagaan universitas mendukung dan berkomitmen menyelesaikan permasalahan yang dihadapi mahasiswa. Kami hadir untuk mereka,” ucapnya.

Dalam pertemuan dengan keluarga dan Jesika, Jefri menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah proses pemulihan kesehatan. Undana juga menjamin bahwa seluruh hak akademik Jesika akan tetap dipenuhi. Prosedur yang lebih baik akan diterapkan agar tidak terjadi hal serupa di masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa universitas tidak hanya memberikan dukungan emosional, tetapi juga perbaikan sistemik.

“Kami meminta supaya keluarga dan adik Jesika fokus dulu pada pemulihan kesehatannya. Terkait kelanjutan studi dan proses akademik selanjutnya, kami pastikan ke depan adik Jesika akan memperoleh seluruh haknya. Hak untuk menyelesaikan studi tetap akan kami penuhi dengan prosedur yang lebih baik sehingga tidak lagi terjadi hal-hal seperti yang dialami saat ini,” tegasnya.

Jefri menambahkan bahwa kondisi Jesika mulai menunjukkan perkembangan positif meskipun masih dalam tahap pemulihan. Ia menjelaskan bahwa Jesika sudah merasa kondisinya lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya, meskipun masih ada beberapa kendala kesehatan yang dihadapi. Perkembangan ini memberikan harapan bahwa proses akademik dapat segera dilanjutkan dengan lancar.

Sebelumnya, Dekan FKM Undana, Prof. Dr. Ir. Apris A. Adu, S.Pt, menyatakan bahwa sejak kabar tersebut mencuat pada Rabu (28/7/2026) pagi, pimpinan fakultas langsung menggelar rapat koordinasi. Rapat ini dihadiri wakil dekan, kepala tata usaha, ketua program studi, hingga operator untuk mengumpulkan data riwayat akademik JT. Dosen pembimbing dan dosen penguji juga diminta menghadap untuk dimintai klarifikasi.

Proses pemeriksaan terhadap salah satu dosen penguji mengalami sedikit penundaan karena yang bersangkutan sedang berduka atas meninggalnya anggota keluarga. Apris menjelaskan bahwa mereka memberikan kesempatan satu sampai dua hari agar dosen tersebut dapat melewati masa dukanya. Setelah itu, informasi lengkap akan diperoleh dari semua pihak.

“Kami memberikan kesempatan satu sampai dua hari agar beliau dapat melewati masa dukanya. Setelah itu kami akan memperoleh informasi secara lengkap dari semua pihak,” jelas Apris, dikutip dari Kompas.com pada Jumat (31/7/2026).

Hingga saat ini, JT memang kondisinya cukup membaik, namun keluarga membatasi penjenguk. Hal ini dikarenakan JT masih mengalami kesulitan bergerak pasca serangan panik yang menimpanya. Sementara itu, pihak Undana terus menyelidiki penyebab JT hingga 12 kali gagal sidang. Jefri menjelaskan bahwa kampus telah berkomunikasi dengan dosen penguji HT, serta pihak fakultas, dosen, dan kaprodi melalui kunjungan langsung, telepon, dan video call.

“Intinya saat ini kami memprioritaskan bagaimana Jesika bisa sembuh dan pulih. Setelah itu, universitas, fakultas, dan program studi akan mengawal penyelesaian studinya agar dapat diselesaikan sesuai rencana, mulai dari proposal hingga skripsinya,” sambungnya.

Join the discussion