Skandal Berlian Guncang Vietnam, Warga Jual Kembali Perhiasan dengan Harga Murah
Kawasan perdagangan perhiasan di Ho Chi Minh City kini terasa hening secara luar biasa. Pelanggan yang biasanya ramai datang untuk melihat-lihat cincin
Krisis Kepercayaan di Industri Perhiasan Vietnam Pasca Skandal Berlian Ilegal
Lenterafakta.com – Kawasan perdagangan perhiasan di Ho Chi Minh City kini terasa hening secara luar biasa. Pelanggan yang biasanya ramai datang untuk melihat-lihat cincin tunangan atau kalung, kini membawa kuitansi lama dan sertifikat demi menjual kembali berlian yang tak lagi mereka percayai. Kondisi ini terjadi setelah kepolisian membongkar apa yang diduga sebagai jaringan penyelundupan berlian terbesar di Vietnam. Kasus ini memicu kepanikan massal di kalangan pembeli dan guncangan hebat pada industri perhiasan negara tersebut.
Dilansir dari Straits Times, Senin (3/8/2026), pihak kepolisian mengungkapkan lebih dari 30.000 butir berlian ilegal senilai lebih dari 1,5 triliun dong (sekitar Rp 945 miliar) diselundupkan ke Vietnam selama dua tahun terakhir. Barang-barang mewah tersebut didatangkan dari India melalui jalur Hong Kong, lalu disembunyikan di dalam koper, sepatu, hingga pakaian para pelaku.
Manipulasi Sertifikat dan Dampak pada Konsumen
Di dalam laboratorium sertifikasi permata, berlian yang diselundupkan tersebut dihapus grafir laser Gemological Institute of America (GIA) aslinya. Pelaku kemudian mengukir ulang dan menerbitkan laporan sertifikasi palsu yang menggelembungkan kualitas batu permata tersebut agar dapat dijual dengan harga jauh lebih tinggi di pasaran.
Saat ini aparat berwenang masih menyelidiki seberapa luas berlian bermasalah tersebut telah beredar di pasar domestik, sementara puluhan toko perhiasan memilih tutup sementara. “Saya benar-benar khawatir,” ujar Thanh Hang, pemilik toko pakaian online di Ho Chi Minh City yang pernah membeli cincin berlian. Batu permata miliknya disertifikasi oleh PNJ Laboratory, salah satu anak perusahaan yang kini tengah diselidiki.
“Kami akan menyelesaikan pembayarannya tahun depan,” kata Hang menirukan respons dari pihak toko perhiasan tersebut.
Hang mengaku sempat mendatangi toko tempat ia membeli perhiasan untuk meminta pengembalian uang (refund), namun menemukan cabangnya telah tutup. Ketika akhirnya berhasil menghubungi pihak perusahaan, jawaban yang didapat sangat tidak memuaskan.
Perusahaan Terbesar Vietnam Terjerat Kasus
Penyidikan kriminal ini menyeret dua merek perhiasan terbesar di Vietnam, yaitu Phu Nhuan Jewelry (PNJ) dan Saigon Jewelry Company (SJC). PNJ, perusahaan perhiasan publik terbesar di Vietnam, mengklaim tidak ada berlian terlarang yang masuk ke jaringan ritel mereka setelah polisi menahan mantan pimpinan anak perusahaan sertifikasi permatanya. Pihak PNJ menegaskan dugaan hukum tersebut hanya berkaitan dengan oknum mantan eksekutif, bukan korporasi.
Meski demikian, Chief Executive Officer (CEO) PNJ Phan Quoc Cong mengakui bahwa rentetan peristiwa ini telah menjadi momen krisis bagi seluruh industri. Dampak skandal ini terasa sangat cepat. Hampir separuh nilai pasar PNJ terhapus, otoritas terkait memperluas inspeksi pasar perhiasan, dan konsumen makin meragukan nilai asli perhiasan yang mereka miliki.
Manajer Tam Luxury Diamond di Ho Chi Minh City mengungkapkan, dalam sehari ia bisa menerima hingga 100 pelanggan yang datang untuk mengembalikan atau menjual kembali batu permata mereka. Sebaliknya, pembeli baru kini sangat langka. Gelombang penangkapan pemilik toko perhiasan terkemuka pada pertengahan Juli 2026 juga memicu beberapa peritel terkenal, termasuk Kim Ly Gold Shop, untuk menangguhkan operasinya.
Regulasi Baru Diperlukan untuk Pasar Berlian
Kementerian Perdagangan Vietnam bahkan menjadwalkan inspeksi sebulan penuh pada Agustus 2026 yang berfokus pada asal-usul produk dan pelabelan batu permata serta logam mulia. Sementara itu, rantai perhiasan besar lainnya, Saigon Jewelry Company (SJC), berada dalam tekanan setelah polisi menahan empat orang terkait jaringan penyelundupan lain. Jaringan tersebut diduga memasok lebih dari 3,400 berlian berkualitas rendah senilai sekitar 500 miliar dong (sekitar Rp 315 miliar) ke jaringan ritel SJC antara tahun 2022 hingga 2024.
Hingga kini, SJC belum memberikan pernyataan publik. Wakil Ketua Asosiasi Pedagang Emas Vietnam (VGTA), Huynh Trung Khanh, menegaskan bahwa pemerintah perlu segera menerapkan kerangka regulasi yang tepat untuk pasar berlian. “Lembaga sertifikasi permata independen sangat diperlukan untuk memperkuat pengawasan serta menghadirkan transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar di pasar,” ujar Khanh.
Bagi banyak keluarga di Vietnam, pembelian berlian bukan sekadar barang mewah, melainkan instrumen penyimpan kekayaan dan simbol prestise. Data bea cukai menunjukkan Vietnam mengimpor lebih dari 122 juta dollar AS (sekitar Rp 1,9 triliun) berlian pada paruh pertama tahun 2026, yang sebagian besar berasal dari India dan Hong Kong.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Skandal Berlian Guncang Vietnam Warga Jual?
Skandal Berlian Guncang Vietnam Warga Jual is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Skandal Berlian Guncang Vietnam Warga Jual matter?
Skandal Berlian Guncang Vietnam Warga Jual matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
