Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Benarkah Hobi Jajan Bisa Selamatkan Ekonomi Indonesia dari Kebangkrutan? Ini Kata Ekonom

Mary Taylor - lenterafakta.com 4 mins read

Benarkah Hobi Jajan Bisa Selamatkan Ekonomi Indonesia dari kebangkrutan? Sebuah unggahan yang viral di platform X mengemukakan gagasan menarik mengenai peran

Benarkah Hobi Jajan Bisa Selamatkan Ekonomi Indonesia dari Kebangkrutan? Ini Kata Ekonom

Benarkah Hobi Jajan Bisa Selamatkan Ekonomi Indonesia?

Lenterafakta.com – Benarkah Hobi Jajan Bisa Selamatkan Ekonomi Indonesia dari kebangkrutan? Sebuah unggahan yang viral di platform X mengemukakan gagasan menarik mengenai peran aktivitas jajan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Penulis unggahan tersebut membandingkan situasi Indonesia dengan pengalaman Jepang pada dekade yang hilang di tahun 1990-an, ketika warganya beralih ke pola menabung ekstrem akibat pecahnya gelembung aset properti dan saham. Fenomena ini menjadi bahan diskusi hangat di kalangan masyarakat dan para ahli ekonomi.

Perbandingan dengan Krisis Ekonomi Jepang

Menurut analisis dalam unggahan tersebut, ketakutan masyarakat Jepang untuk mengeluarkan uang guna konsumsi menyebabkan pertumbuhan ekonomi mereka stagnan selama lebih dari satu dekade. Angka pertumbuhan hanya berkisar antara nol hingga satu persen. Kondisi semacam ini dinilai lebih kompleks untuk diatasi dibandingkan dengan masalah inflasi yang lebih mudah dikendalikan melalui kebijakan moneter.

“Indonesia tanpa tukang jajan kayak kita sih udah bangkrut,” tulis akun X @kar********* pada Sabtu (18/7/2026).

“Gue serius guys, bangkrut kalo pada gak jajan. Kejadiannya mirip Japan’s Lost Decade pas tahun 90-an, bubble aset properti dan saham mereka pecah. Akibatnya, masyarakat dan perusahaan2 di sana panik, terus lebih milih nabung ekstrim dan fokus bayar utang. Mereka jadi takut banget ngeluarin duit buat konsumsi. Efeknya? Pertumbuhan ekonomi Jepang cuma mentok di 0-1% doang selama lebih dari 10 tahun. Kondisi ekonomi yg stagnan kek gitu lebih sulit buat disembuhin dibanding inflasi. Jadi kalo ada yg bilang, ‘jajan mulu lu pasti banyak duit’, jawab aja ‘GINI-GINI GW PENGGERAK RODA EKONOMI NEGARA,’ demikian lanjutan unggahan dari akun tersebut.

Perspektif Ekonom UGM

Eddy Junarsin, seorang ekonom dari Universitas Gadjah Mada, memberikan tanggapan positif terhadap pandangan tersebut. Dalam keterangannya kepada Kompas.com pada Sabtu (1/8/2026), ia menegaskan bahwa aktivitas konsumsi masyarakat memang memiliki peran vital dalam menggerakkan roda perekonomian nasional. Konsumsi rumah tangga menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang harus terus didorong.

Eddy menjelaskan bahwa struktur pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (GDP) Indonesia terdiri dari empat pilar utama. Pilar-pilar tersebut meliputi konsumsi, investasi, belanja pemerintah, serta ekspor dan impor. Kontribusi rumah tangga terhadap GDP saat ini tercatat sebesar 54,36 persen. Angka ini masih memiliki ruang untuk didorong menuju kisaran 60 hingga 65 persen melalui peningkatan daya beli masyarakat.

“Ada benarnya. Komposisi pertumbuhan ekonomi (GDP) terdiri dari konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan ekspor-impor,” ujar Eddy ketika dihubungi Kompas.com pada Sabtu (1/8/2026).

Tantangan Struktur Ekonomi Indonesia

Meskipun potensi konsumsi masih terbuka lebar, Eddy menilai bahwa tantangan terbesar terletak pada rendahnya tingkat investasi. Di sisi lain, belanja pemerintah sudah berada pada level yang relatif besar. Yang menarik, kontribusi ekspor neto atau selisih antara nilai ekspor dan impor justru menunjukkan tren penurunan. Sebelumnya, komponen ini selalu mencatat surplus yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dalam komposisi GDP Indonesia, yang terlalu rendah adalah investasi. Belanja pemerintah sudah relatif besar. Sedangkan net exports (exports – imports) sekarang malah menyusut. Dulunya selalu surplus,” kata Eddy.

Eddy menambahkan bahwa perilaku menabung berlebihan oleh masyarakat dapat menurunkan kontribusi sektor konsumsi terhadap perekonomian. Namun, dorongan untuk meningkatkan pengeluaran tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Masyarakat memerlukan rasa aman terhadap kondisi ekonomi, jaminan masa pensiun, serta kepastian pendidikan dan pekerjaan bagi generasi mendatang sebelum berani menaikkan konsumsi secara signifikan.

“Namun bagaimana orang berani menaikkan konsumsi? Tentunya perlu ada rasa aman bahwa perekonomiannya tumbuh sehat, pensiun aman, generasi mendatang bisa sekolah dan kerja aman, dan lain-lain,” pungkasnya.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Hobi Jajan dan Ekonomi

1. Apakah benar konsumsi masyarakat Indonesia mendominasi GDP?

Ya, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54,36 persen dari GDP Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas belanja masyarakat menjadi penggerak utama perekonomian nasional.

2. Bagaimana hubungan antara menabung dan konsumsi dalam ekonomi?

Menurut ekonom UGM, menabung berlebihan dapat menurunkan kontribusi sektor konsumsi. Namun, masyarakat perlu merasa aman secara ekonomi sebelum berani meningkatkan pengeluaran untuk konsumsi.

3. Apa yang terjadi jika masyarakat Indonesia berhenti jajan?

Berdasarkan analisis unggahan viral, jika masyarakat berhenti jajan, ekonomi Indonesia bisa mengalami stagnasi mirip dengan Jepang pada dekade 1990-an. Pertumbuhan ekonomi bisa turun ke level 0-1 persen.

4. Bagaimana cara meningkatkan konsumsi tanpa membahayakan stabilitas ekonomi?

Peningkatan konsumsi harus diiringi dengan rasa aman ekonomi, jaminan pensiun, dan kepastian masa depan. Hal ini memungkinkan masyarakat berbelanja lebih banyak tanpa khawatir terhadap kondisi keuangan mereka.

Untuk informasi lebih lanjut tentang ekonomi Indonesia, Anda bisa membaca artikel terkait di Kompas.com.

Join the discussion