Lenterafakta.com – Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan bahwa gempa besar pasti memicu gempa susulan. Ia menyebut, gempa terbagi menjadi gempa awal (foreshock), gempa utama (mainshock), dan gempa susulan (aftershock). Gempa utama adalah peristiwa pelepasan energi terbesar dengan magnitudo tertinggi.
Sementara itu, gempa susulan merupakan getaran yang menyertainya dalam rentang area robekan patahan (rupture zone). “Setiap gempa bermagnitudo kuat membawa keniscayaan mekanis bahwa gempa susulan pasti dan harus terjadi sebagai bagian tak terpisahkan dari proses alamiah Bumi,” kata Daryono melalui keterangan yang diterima Kompas.com, Kamis (20/8/2026). Lantas, bagaimana mekanisme gempa besar dan gempa susulan tersebut terjadi?
Gempa utama secara teknis terjadi ketika energi potensial yang terkumpul pada retakan batuan atau patahan (fault) melampaui batas elastisitasnya. Batuan tersebut patah dan bergeser secara mendadak atau tiba-tiba. Meski begitu, patahan besar yang robek ratusan kilometer tidak langsung menjadi pulih begitu saja.
“Patahan meninggalkan bidang rekahan yang penuh dengan titik-titik ketegangan sisa (residual stress),” terang Daryono. Saat gempa utama merobek bidang patahan besar dan melepaskan energi raksasa, tatanan batuan di sekitarnya tidak serta-merta langsung berada dalam posisi yang rapi serta stabil. Pelepasan tekanan masif tersebut justru memindahkan sebagian tegangan sisa ke area batuan di sekitarnya.
“Sehingga runtunan gempa susulan menjadi mekanisme fisika yang wajib dilalui oleh kerak Bumi untuk menyesuaikan kembali posisinya, mengurai sisa-sisa ketegangan, dan secara bertahap menemukan titik keseimbangan baru,” tutur Daryono. Gempa susulan pada hakikatnya adalah penyesuaian mekanis mikro saat batuan di sekitar bidang patahan tersebut bergeser perlahan untuk mencari posisi kestabilan baru. Menurut Daryono, pola terjadinya gempa susulan setelah gempa utama dapat dijelaskan melalui Hukum Omori-Utsu.
Hukum tersebut menjelaskan bahwa jumlah atau frekuensi gempa susulan paling tinggi terjadi sesaat setelah gempa utama, kemudian terus menurun seiring bertambahnya waktu. Dengan kata lain, semakin lama jarak waktu dari gempa utama, semakin jarang gempa susulan terjadi. Namun, penurunan frekuensi tersebut tidak berarti gempa susulan yang terjadi kemudian pasti lebih kecil.
Gempa susulan dengan magnitudo cukup besar masih dapat terjadi meskipun sudah beberapa waktu berlalu. “Meskipun frekuensinya meluruh, magnitudo dari satu atau dua gempa susulan bisa saja cukup besar hingga merusak bangunan yang struktur dasarnya sudah melemah akibat getaran pertama,” ujar Daryono. Berdasarkan sudut pandang redistribusi tegangan (Coulomb stress change), setiap kali batuan patah akan melepaskan beban tekanan di satu titik.
Namun, kondisi seperti itu akan memindahkan sebagian tekanannya ke titik di sekitarnya. Jadi gempa susulan merupakan bukti proses ilmiah Bumi yang sedang merilis energi tersisa secara bertahap. “Tanpa adanya gempa-gempa susulan kecil ini, tekanan sisa akan tertahan di dalam kerak Bumi dan berisiko meledak lepas menjadi gempa besar berikutnya di kemudian hari,” ujar Daryono.
Kemudian, Daryono menjelaskan bahwa penentuan status gempa awal, utama, dan susulan bersifat retrospektif. Maksudnya, status gempa hanya bisa dipastikan setelah peristiwa berlalu. “Sebuah getaran M 5,5 yang awalnya dikira sebagai gempa utama, akan langsung direklasifikasi sebagai gempa awal jika beberapa hari kemudian muncul gempa M 7,2 di titik yang sama,” ungkap Daryono.
Untuk mengunci kepastian gempa susulan, para seismolog akan memverifikasi tiga parameter ketat, antara lain: Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Gempa Besar Pasti Diikuti Gempa Susulan?
Gempa Besar Pasti Diikuti Gempa Susulan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Gempa Besar Pasti Diikuti Gempa Susulan matter?
Gempa Besar Pasti Diikuti Gempa Susulan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
