Lenterafakta.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belakangan melanda sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan. Ada ratusan titik panas yang terdeteksi Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) milik Kementerian Kehutanan (Kemenhut). SiPongi menggunakan pemantauan satelit NASA untuk mendata titik panas dengan tingkat keyakinan tinggi ( Hotspot Confidence Level ).
Per 22 Agustus 2026 pukul 07.30 WIB, Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan titik hotspot terbanyak selama 24 jam terakhir. Adapun NASA menggunakan tiga satelit berbeda dalam pemantauan titik panas yang tersebar di Indonesia. Satelit NASA-Terra/Aqua mencatat ada 169 titik panas dalam kategori High Hotspot Confidence Level.
Kemudian, ada 344 titik yang dikategorikan sebagai Medium Hotspot Confidence Level. Sementara itu, 16 titik ditemukan sebagai Low Hotspot Confidence Level. Dengan begitu, jumlah titik hotspot yang tersebar di Provinsi Kalimantan Barat, sebanyak 529 lokasi.
Setelah itu, Kalimantan Tengah menyusul sebagai provinsi dengan jumlah titik panas per 22 Agustus 2026 pukul 07.30 WIB. Berdasarkan pantauan satelit NASA-Terra/Aqua, High Hotspot Confidence Level yang ada di Kalimantan Tengah tercatat sebanyak 146 titik. Lalu, ada 306 titik Medium Hotspot Confidence Level, serta 21 titik Low Hotspot Confidence Level.
Total, ada 473 titik panas di Kalimantan Tengah. Berikut ini rincian sebaran titik panas di Kalimantan dalam 24 jam terakhir sesuai hasil pantauan tiga satelit NASA yang tercatat di situs SiPongi Kemenhut: Kemenhut menyampaikan, hotspot kategori high confidence level menunjukkan tingkat keyakinan deteksi yang lebih tinggi terhadap adanya anomali panas di suatu wilayah. Dikutip dari Kompas.com, Jumat (21/8/2026), mereka menyebut bahwa jumlah hotspot tidak serta-merta mencerminkan jumlah kejadian kebakaran secara riil.
Pasalnya, menurut Kemenhut, satu kejadian kebakaran berpotensi terdeteksi menjadi beberapa hotspot sekaligus. Dengan begitu, setiap data yang muncul tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan lapangan. Hal tersebut bertujuan untuk memastikan kondisi, lokasi, penyebab, dan luas area yang benar-benar terbakar.
Selain itu, tingginya angka hotspot juga tidak otomatis menggambarkan tingkat kepekatan asap di suatu lokasi kejadian. Adapun sebaran asap dipengaruhi banyak faktor, seperti lokasi kebakaran, arah dan kecepatan angin, serta kelembapan udara. Kemudian, sebaran asap juga dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, karakteristik lahan, hingga akumulasi asap dari berbagai wilayah sekaligus.
Oleh karena itu, data hotspot perlu dikombinasikan dengan data meteorologi, kualitas udara, citra sebaran asap, serta laporan langsung dari lapangan. Berdasarkan data Kemenhut periode Januari-Juni 2026, total area karhutla di skala nasional telah menembus 107.465,47 hektare. Kalbar menjadi provinsi terdampak paling parah dengan area karhutla seluas 28.680,47 hektare.
Posisi berikutnya disusul oleh Riau (15.477,95 hektare), Nusa Tenggara Timur (10.538,30 hektare), Maluku (7.091,07 hektare), serta Papua Selatan (6.281,81 hektare). Pada rentang waktu sama, Kalsel mencatatkan karhutla seluas 383,07 hektar, yang terbagi atas 29,44 hektar tanah gambut dan 353,63 hektar tanah mineral. Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7.
Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Jumlah Titik Hotspot di 5 Provinsi?
Jumlah Titik Hotspot di 5 Provinsi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Jumlah Titik Hotspot di 5 Provinsi matter?
Jumlah Titik Hotspot di 5 Provinsi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
