Regional

Penyerangan oleh OTK di Humbahas : 8 Orang Terluka, 13 Rumah dan 15 Kendaraan Rusak

codex-17ab08e2f390412787d5a997b8b7460e

Penyerangan oleh OTK di Humbahas, 8 Warga Terluka

Lenterafakta.com – Penyerangan oleh OTK di Humbahas mengakibatkan delapan warga mengalami luka-luka di Desa Matiti, Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (12/9/2026) itu juga menyebabkan kerusakan pada rumah warga, tempat usaha, dan sejumlah kendaraan di sekitar lokasi.

Polisi masih menyelidiki kejadian tersebut untuk mengungkap identitas orang tidak dikenal yang diduga terlibat. Selain mencari pelaku, penyidik juga mendalami rangkaian peristiwa serta motif di balik penyerangan yang menimbulkan kerugian bagi warga Desa Matiti.

Para korban telah membuat laporan resmi kepada kepolisian. Langkah itu kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan terhadap korban dan saksi yang mengetahui atau berada di sekitar lokasi saat penyerangan berlangsung.

13 Rumah dan Resto Gracia Dilaporkan Rusak

Kasi Humas Polres Humbahas Bripda Jafar Simanjuntak menjelaskan bahwa kerusakan akibat penyerangan tidak hanya mengenai kendaraan. Sebanyak 13 unit rumah warga dan satu unit Resto Gracia dilaporkan mengalami kerusakan dalam kejadian tersebut.

Kerusakan juga tercatat pada berbagai jenis kendaraan. Polisi mendata tujuh kendaraan roda empat, satu kendaraan roda enam, dan tujuh kendaraan roda dua yang mengalami kerusakan. Total kendaraan yang terdampak mencapai 15 unit.

“Akibat kejadian tersebut, terdapat kerusakan 13 unit rumah, 1 unit Resto Gracia, 7 unit kendaraan roda empat, 1 unit kendaraan roda enam dan 7 unit kendaraan roda dua,” ujar Jafar.

Kerusakan pada rumah dan kendaraan menunjukkan dampak luas dari penyerangan oleh OTK di Humbahas terhadap kehidupan warga. Bangunan tempat tinggal, aktivitas usaha, dan sarana mobilitas warga sama-sama terdampak, sehingga proses pendataan kerugian masih menjadi bagian dari penanganan perkara.

Polisi Periksa Korban dan Saksi

Setelah kejadian, korban menempuh jalur hukum dengan melaporkan peristiwa itu kepada pihak kepolisian. Aparat kemudian meminta keterangan dari korban maupun saksi untuk menyusun kronologi secara utuh dan menelusuri pihak yang diduga melakukan penyerangan.

“Korban telah membuat laporan resmi ke pihak kepolisian, laporan tersebut telah ditindaklanjuti, dan saat ini korban serta para saksi sudah dimintai keterangan dalam proses penyelidikan,” ungkap Jafar.

Keterangan dari korban dan saksi diperlukan untuk membantu penyidik mengetahui situasi sebelum, saat, dan setelah peristiwa berlangsung. Informasi mengenai kondisi lokasi, kerusakan yang ditemukan, serta pihak yang berada di sekitar area kejadian dapat menjadi bagian dari bahan penyelidikan.

Hingga saat ini, identitas pelaku belum diungkap. Polisi masih melanjutkan proses penyelidikan untuk memastikan fakta-fakta yang berkaitan dengan kasus tersebut, termasuk dugaan motif dan pihak yang harus bertanggung jawab atas korban luka serta kerusakan harta benda warga.

Video Kondisi Lokasi Beredar di Media Sosial

Kasus penyerangan di Desa Matiti sempat menjadi perhatian setelah video kondisi lokasi beredar di media sosial. Rekaman yang diunggah akun Instagram @medantalkviral memperlihatkan sejumlah bangunan warga dalam keadaan rusak setelah kejadian.

Dalam salah satu video, terlihat bangunan yang disebut sebagai grosir barang pecah belah. Perekam juga menyoroti kondisi warung dan menyebut uang yang sebelumnya berada di laci sudah tidak ditemukan setelah tempat tersebut mengalami kerusakan.

“Ini kondisinya hancur, tadi ada uang di laci ini, laci hancur tidak ada sisa uang di tempat ini, ini kan posisinya warung rokok dicuri gak tahu lagi lah barang yang diambil,” ujar perekam video.

Rekaman lain memperlihatkan seorang pemilik rumah perempuan tampak lemas, sementara perempuan lain menangis ketika melihat kondisi rumahnya. Kaca bangunan dan perabotan di dalam rumah terlihat berantakan dalam video yang beredar tersebut.

Sejumlah kendaraan juga tampak mengalami kerusakan. Dalam rekaman itu terlihat bus dan mobil yang terdampak, termasuk salah satu kendaraan yang berada dalam posisi terbalik. Gambaran tersebut memperlihatkan besarnya dampak penyerangan oleh OTK di Humbahas terhadap warga di lokasi.

Warga Menunggu Perkembangan Penyelidikan

Perkara ini mendapat perhatian karena melibatkan delapan korban luka serta kerusakan pada 13 rumah, satu resto, dan 15 kendaraan. Bagi warga Desa Matiti, pengungkapan pelaku menjadi penting untuk memperoleh kejelasan atas peristiwa yang terjadi di lingkungan mereka.

Proses pemeriksaan korban dan saksi diharapkan dapat membantu polisi merangkai fakta secara lebih lengkap. Warga yang memiliki informasi terkait kejadian dapat menyampaikan keterangan secara jelas kepada penyidik agar penanganan kasus berjalan berdasarkan bukti dan kesaksian yang tersedia.

FAQ Penyerangan oleh OTK di Humbahas

Di mana penyerangan oleh OTK di Humbahas terjadi?

Peristiwa itu terjadi di Desa Matiti, Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.

Kapan kejadian tersebut berlangsung?

Penyerangan dilaporkan terjadi pada Sabtu, 12 September 2026.

Berapa jumlah warga yang terluka?

Sebanyak delapan orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat kejadian tersebut.

Apa saja kerusakan yang tercatat?

Polisi mencatat 13 rumah, satu unit Resto Gracia, tujuh kendaraan roda empat, satu kendaraan roda enam, dan tujuh kendaraan roda dua mengalami kerusakan.

Apakah pelaku sudah terungkap?

Belum. Kepolisian masih melakukan penyelidikan dan telah meminta keterangan dari korban serta saksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *