Densus 88 Ungkap Lebih dari 300 Anak Rentan Ekstremisme
Lenterafakta.com – Densus 88 ungkap lebih dari 300 anak di Indonesia yang terhubung dengan True Crime Community (TCC), komunitas di ruang digital yang dinilai dapat meningkatkan kerentanan terhadap rekrutmen ekstremisme berbasis kekerasan. Temuan tersebut menyoroti pentingnya perlindungan anak di internet, terutama bagi mereka yang menghadapi tekanan sosial dan psikologis.
Asesmen awal Direktorat Identifikasi dan Deteksi Sosial (Idensos) Densus 88 Antiteror Polri menunjukkan bahwa kerentanan anak tidak selalu berawal dari dorongan ideologi. Anak dapat mencari penerimaan, perhatian, atau pelarian di komunitas daring ketika sedang menghadapi persoalan di rumah, sekolah, maupun lingkungan pergaulan.
Interaksi digital yang berlangsung intens dapat membuat paparan konten kekerasan semakin dekat dengan keseharian remaja. Risiko dapat meningkat apabila seorang anak mengalami kesepian, konflik keluarga, perundungan, atau trauma yang belum tertangani secara memadai.
Faktor Risiko pada Anak di Ruang Digital
Kastgaswil Sumbar Kombes Pol Jim Berlian Birnes menyebut sejumlah faktor yang dapat meningkatkan kerentanan anak terhadap tindakan ekstremistis. Faktor tersebut antara lain keluarga tidak harmonis, minim perhatian orang tua, pengalaman perundungan, trauma psikologis, serta paparan konten kekerasan di platform digital.
“Faktor risiko dominan mencakup keluarga yang tidak harmonis (broken home), kurangnya perhatian orang tua, pengalaman menjadi korban perundungan (bullying), trauma psikologis, hingga paparan konten kekerasan di ruang digital,” ujar Jim.
Faktor-faktor itu tidak otomatis membuat anak melakukan tindakan kekerasan. Namun, persoalan yang terjadi bersamaan dapat membuat anak lebih mudah dipengaruhi, bertindak impulsif, atau menerima narasi kekerasan tanpa pertimbangan yang matang.
Densus 88 ungkap lebih dari 300 anak sebagai pengingat bahwa pendekatan penanganan harus mengutamakan perlindungan dan pemulihan. Anak yang terpapar paham ekstremisme dipandang sebagai korban yang membutuhkan pendampingan sesuai kebutuhan perkembangan mereka, bukan semata-mata penindakan hukum.
Peran Sekolah dan Keluarga dalam Pencegahan
Keterlibatan anak dalam tindakan ekstremisme telah ditemukan di sejumlah satuan pendidikan, termasuk SMAN 72 Jakarta Utara, SMAN 3 Kalimantan Barat, dan MAN 3 Padang. Kejadian yang melibatkan anak juga kembali tercatat di Kubu Raya, Kalimantan Barat, meskipun intervensi telah dilakukan.
Sekolah dapat berperan dalam mendeteksi perubahan perilaku sejak dini. Guru, konselor, dan teman sebaya dapat memperhatikan tanda seperti anak menarik diri, mengalami tekanan berat, menjadi korban perundungan, atau menunjukkan ketertarikan berlebihan pada materi kekerasan.
Di Sumatera Barat, Satgaswil Densus 88 mengidentifikasi 16 Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK) yang terpapar radikalisme. Sebagian telah memasuki fase dewasa awal, sehingga pendampingan berkelanjutan diperlukan agar pemulihan tidak terhenti di tengah jalan.
Tantangan Pendampingan Anak
Penanganan di lapangan masih menghadapi resistensi keluarga serta keterbatasan layanan pemerintah daerah. Ketika persoalan dianggap sebagai aib atau tidak dipahami sebagai kebutuhan perlindungan anak, proses pendampingan dapat menjadi lebih sulit.
Belum tersedianya sistem rujukan yang terintegrasi juga menjadi tantangan. Anak yang membutuhkan layanan psikologis, perlindungan sosial, pendampingan keluarga, dan dukungan pendidikan memerlukan koordinasi antarlembaga agar kebutuhan mereka dapat ditangani secara utuh.
Standar nasional untuk asesmen dan rehabilitasi anak yang terpapar radikalisme juga belum tersedia secara khusus. Pedoman yang jelas dibutuhkan agar kualitas penanganan tidak bergantung sepenuhnya pada kapasitas masing-masing daerah.
FAQ: Perlindungan Anak dari Paparan Ekstremisme
Apa yang dapat dilakukan orang tua jika anak sering mengakses konten kekerasan?
Orang tua dapat memulai percakapan tanpa menghakimi, menanyakan alasan anak tertarik pada konten tersebut, dan memperhatikan perubahan perilakunya. Jika anak tampak tertekan, menarik diri, atau mengalami masalah serius, keluarga dapat mencari dukungan dari guru, konselor, atau tenaga profesional yang sesuai.
Mengapa sekolah penting dalam pencegahan?
Sekolah menjadi lingkungan yang dekat dengan kehidupan anak dan dapat melihat perubahan perilaku lebih awal. Dukungan guru, konselor, serta budaya sekolah yang menolak perundungan dapat membantu anak merasa aman untuk meminta pertolongan.
Apakah semua anak yang mengikuti komunitas daring berisiko menjadi ekstremis?
Tidak. Keikutsertaan dalam komunitas daring tidak otomatis berarti seorang anak akan melakukan tindakan ekstremisme. Risiko perlu dilihat dari berbagai kondisi, termasuk situasi keluarga, kesehatan psikologis, pengalaman perundungan, serta paparan konten kekerasan yang terus-menerus.

