Guru Besar UGM Ungkap Risiko Minum Parasetamol Setiap Hari – Liver Bisa Terdampak
l Setiap Hari Guru Besar UGM Ungkap Risiko Minum - Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penggunaan obat, Guru Besar UGM menyampaikan risiko
Guru Besar UGM Ungkap Risiko Minum Parasetamol Setiap Hari
Guru Besar UGM Ungkap Risiko Minum – Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penggunaan obat, Guru Besar UGM menyampaikan risiko serius dari minum parasetamol secara rutin. Parasetamol, atau acetaminophen, adalah obat bebas yang sering digunakan untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang serta demam. Meski populer karena keamanannya dalam dosis wajar, konsumsi parasetamol setiap hari bisa membawa dampak negatif, khususnya pada organ hati.
Konsumsi Parasetamol Berlebihan dan Kesehatan Hati
Menurut penjelasan Guru Besar Farmasi UGM, Zullies Ikawati, parasetamol aman ketika dikonsumsi sesuai dosis dan indikasi. Namun, penggunaannya dalam jangka panjang tanpa pengawasan dapat menyebabkan efek samping serius. Zullies mengingatkan bahwa hati adalah organ utama yang bertugas memetabolisme parasetamol, sehingga risiko kerusakan hati meningkat jika obat ini digunakan secara berlebihan.
“Minum parasetamol setiap hari tanpa batas waktu bisa memicu penumpukan zat toksik di hati, yang berpotensi merusak sel-sel organ tersebut,” kata Zullies dalam wawancara dengan Kompas.com, Kamis (18/6/2026).
Menurut penelitian, kerusakan hati akibat parasetamol bisa terjadi dalam kondisi tertentu, seperti konsumsi dosis tinggi, kebiasaan minum alkohol, atau penggunaan beberapa produk yang mengandung parasetamol secara bersamaan. Zullies menekankan bahwa perlu ada kesadaran masyarakat tentang kapan dan bagaimana membatasi penggunaannya.
Detoksifikasi dan Efek Jangka Panjang
Parasetamol bekerja dengan cara menghambat sintesis prostaglandin, sebuah senyawa yang terlibat dalam proses peradangan dan nyeri. Meski efeknya efektif, zat ini juga diproses melalui metabolisme hati, yang bisa menghasilkan radikal bebas jika terlalu berlebihan. Zullies menjelaskan bahwa kebiasaan minum obat ini secara rutin tanpa jeda bisa mengganggu fungsi hati secara berkelanjutan.
“Sel-sel hati yang terus-menerus bekerja memetabolisme parasetamol berisiko rusak, terutama jika dosis melebihi batas aman,” tambah Zullies.
Beberapa kasus gagal hati akut tercatat di kalangan masyarakat yang mengonsumsi parasetamol dalam dosis tinggi tanpa konsultasi dokter. Selain itu, dampak jangka panjang seperti penurunan fungsi hati atau peningkatan risiko penyakit hati bisa terjadi, terutama pada individu dengan predisposisi kesehatan tertentu.
Alternatif dan Langkah Pencegahan
Zullies menyarankan untuk menghindari penggunaan parasetamol secara berlebihan dan melibatkan tenaga medis dalam pengelolaannya. Ia menekankan bahwa nyeri atau demam yang terjadi setiap hari bukanlah alasan untuk mengandalkan obat ini secara terus-menerus. “Tidak semua gejala perlu diatasi dengan parasetamol; ada cara lain yang lebih tepat,” tambahnya.
Langkah pencegahan yang direkomendasikan meliputi membatasi dosis harian, menghindari penggunaan bersamaan dengan obat lain yang mengandung parasetamol, serta memperhatikan durasi penggunaan. Jika seseorang merasa membutuhkan parasetamol secara rutin, disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan hati secara berkala.
Kerusakan Ginjal dan Organ Lain
Dalam penjelasannya, Zullies juga menyebutkan bahwa penggunaan parasetamol dalam dosis tinggi jangka panjang memiliki risiko terhadap fungsi ginjal. Meski probabilitasnya lebih rendah dibandingkan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), kebiasaan mengonsumsi parasetamol secara berlebihan tetap perlu diwaspadai.
“Parasetamol juga bisa berdampak pada ginjal jika dikonsumsi dalam dosis tinggi secara rutin, terutama pada usia lanjut atau individu dengan penyakit bawaan,” terang Zullies.
Kerusakan ginjal akibat parasetamol biasanya terjadi setelah penggunaan jangka panjang, dan gejalanya mungkin tidak terdeteksi secara dini. Zullies menyarankan untuk memperhatikan konsistensi penggunaan obat serta mengganti dengan alternatif lain jika diperlukan.
Kapan Parasetamol Harus Digunakan?
Parasetamol dianjurkan untuk digunakan dalam kondisi seperti nyeri ringan, demam ringan, atau kejang akibat panas. Namun, dalam kondisi seperti nyeri kronis atau migrain, dokter sering menyarankan kombinasi dengan obat lain atau penyesuaian dosis. Zullies menyoroti bahwa penggunaan harian harus didasari kebutuhan medis, bukan kebiasaan atau keinginan pribadi.
“Minum parasetamol setiap hari bisa menjadi solusi sementara, tapi sebaiknya dihindari jika gejala bisa diatasi dengan cara lain,” jelas Zullies.
Menurut Zullies, masyarakat perlu memahami bahwa parasetamol bukanlah obat penyembuh, melainkan alat bantu untuk mengurangi gejala. Oleh karena itu, konsumsi harian harus dipantau, terutama pada anak-anak, orang tua, atau individu dengan riwayat penyakit hati.
Penting untuk mencari penyebab nyeri atau demam secara akurat sebelum mengandalkan parasetamol. Zullies menekankan bahwa penggunaan berlebihan tidak hanya memperburuk kondisi, tetapi juga bisa menyebabkan efek samping yang tidak terduga. Dengan kesadaran ini, masyarakat dapat mengambil langkah lebih bijak dalam penggunaan obat tersebut.
