Lenterafakta.com – Pergantian Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menandai pergantian nakhoda ketiga di Kementerian Keuangan dalam dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Suahasil, yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak 2019, kini menghadapi sejumlah pekerjaan rumah fiskal. Mulai dari memperkuat penerimaan negara, memastikan belanja pemerintah memberikan dampak ekonomi, hingga menjaga defisit dan beban utang tetap terkendali.
Di tengah ambisi pemerintah menjalankan program prioritas, Suahasil juga dituntut menjaga kepastian kebijakan fiskal dan kepercayaan investor. Pengalamannya di Kementerian Keuangan menjadi modal untuk menjalankan tugas tersebut, tetapi belum tentu menjamin keberhasilannya menghadapi tekanan politik dan menentukan prioritas anggaran. Pergantian Purbaya kepada Suahasil memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah.
Dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, posisi Menteri Keuangan telah diisi Sri Mulyani Indrawati, Purbaya Yudhi Sadewa, dan Suahasil Nazara. Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad menilai, pergantian Menteri Keuangan harus diikuti upaya menjaga kesinambungan kebijakan fiskal. Menurut dia, pergantian tersebut memberi sinyal bahwa Presiden ingin memperkuat kepastian kebijakan dan kepercayaan pasar.
Pengalaman Suahasil sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dinilai menjadi modal untuk menjaga kesinambungan pengelolaan fiskal. "Namun, pergantian figur belum otomatis berarti perubahan arah kebijakan. Yang perlu diantisipasi ialah penyesuaian prioritas belanja, strategi penerimaan pajak, dan pembiayaan defisit.
Ukurannya harus jelas: APBN mampu menggerakkan ekonomi dan menjaga daya beli, dengan utang serta beban bunga tetap terkendali," katanya kepada Kompas.com pada Selasa (20/10/2026). Pandangan lain disampaikan ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli. Ia melihat pergantian Purbaya kepada Suahasil lebih berkaitan dengan konsolidasi politik daripada hasil pekerjaan Menteri Keuangan sebelumnya.
Dipo menilai, perbedaan antara para Menteri Keuangan lebih terlihat dari gaya komunikasi. Sementara itu, secara substansi, ia belum melihat perbedaan mendasar dalam arah kebijakan fiskal di antara Sri Mulyani, Purbaya, dan Suahasil. Menurut Dipo, ketiganya tetap menempatkan program prioritas sebagai bagian besar dari belanja negara.
Beban pembayaran bunga utang juga masih menjadi persoalan penting, sedangkan transfer ke daerah mendapat porsi yang relatif terbatas. "Kalau mengenai persepsi sih gaya komunikasi cara pembawaan itu sudah pasti tetapi kalau melihat kebijakan dan angka saya harus jujur bahwa tidak ada perbedaan gitu," ujar Dipo kepada Kompas.com pada Selasa (20/10/2026). Sementara itu, ekonom INDEF Rizal Taufikurahman menilai, pergantian Purbaya kepada Suahasil dapat dibaca sebagai upaya memulihkan kredibilitas fiskal melalui penguatan kendali teknokratis.
Namun, menurut dia, pergantian pejabat belum membuktikan adanya perubahan arah kebijakan. "Pergantian Purbaya ke Suahasil dapat dibaca sebagai upaya memulihkan kredibilitas fiskal melalui penguatan kendali teknokratis, tetapi belum membuktikan perubahan arah kebijakan," ujarnya. Rizal menyoroti pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,11 persen serta perlambatan pertumbuhan dari 5,61 persen pada kuartal I menjadi 5,29 persen pada kuartal II 2026.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa percepatan ekonomi belum berkelanjutan. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai, penunjukan Suahasil juga membawa pesan mengenai pentingnya sinkronisasi kelembagaan, terutama dalam koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Danantara. Menurut Rahma, pengalaman Suahasil di lingkungan Kementerian Keuangan dapat mendukung kesinambungan kebijakan dan koordinasi antarlembaga.
Ia juga melihat penunjukan tersebut sebagai upaya menjaga keseimbangan antara dorongan pertumbuhan ekonomi dan kehati-hatian fiskal. Kamrussamad mengingatkan, dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, posisi Menteri Keuangan telah diisi tiga figur. Purbaya menjabat sejak 8 September 2025, sedangkan Suahasil sejak 14 September 2026.
Ia mencontohkan, pengumuman pergantian Sri Mulyani diikuti penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,3 persen pada 8 September 2025. Namun, pergerakan pasar dalam satu hari belum cukup untuk membuktikan hilangnya kepercayaan investor dalam jangka panjang. Karena itu, Kamrussamad menilai pemerintah perlu memastikan konsistensi aturan perpajakan, disiplin APBN, dan kepastian pelaksanaan program agar pergantian kepemimpinan tidak menambah ketidakpastian bagi investor.
Penguatan penerimaan negara menjadi pekerjaan rumah berikutnya bagi Suahasil.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Tiga Kali Ganti Menkeu dalam Dua Tahun?
Tiga Kali Ganti Menkeu dalam Dua Tahun is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Tiga Kali Ganti Menkeu dalam Dua Tahun matter?
Tiga Kali Ganti Menkeu dalam Dua Tahun matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

