Pramono Tegaskan Komitmen Memimpin Jakarta untuk Semua Pemeluk Agama
Lenterafakta.com – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan komitmennya untuk memimpin Ibu Kota tanpa membedakan agama, ras, maupun etnis. Penegasan itu disampaikan saat ia meresmikan Gedung Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Taman Harapan Pionir Jakarta di Jalan SMA 14/Swadaya II, Cililitan, Jakarta Timur, pada Minggu, 25 Oktober 2026.
Dalam sambutannya, Pramono menyatakan bahwa jabatan gubernur mengharuskannya memberikan pelayanan dan perlakuan yang setara kepada seluruh warga Jakarta. Ia menempatkan keberagaman sebagai bagian penting dari kehidupan kota yang harus dijaga melalui sikap terbuka serta kebijakan yang memberi ruang bagi semua kelompok.
“Sebagai Gubernur Jakarta, saya harus menjadi gubernur bagi semua agama, semua ras, semua etnis, dan tidak boleh membedakan terhadap hal itu,” kata Pramono.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana peresmian rumah ibadah yang menjadi bagian dari kehidupan komunitas Advent di kawasan Cililitan. Kehadiran gedung gereja baru tidak hanya berkaitan dengan aktivitas ibadah, tetapi juga menjadi ruang berkumpul dan memperkuat hubungan sosial antarwarga di sekitarnya.
Kedekatan Sejak Masa Kecil
Pramono juga membagikan cerita mengenai kedekatannya dengan komunitas Gereja Advent sejak masih kecil. Meski ia memeluk agama Islam, sebagian keluarga besarnya dari garis ayah merupakan penganut Advent. Pengalaman keluarga itu, kata dia, membuatnya sejak awal mengenal lingkungan gereja tersebut.
“Saya harus menyampaikan secara terbuka bahwa keluarga besar saya dari bapak saya, bapak saya Islam, tapi adiknya dan kakaknya Advent,” ujar dia.
Ia menggambarkan keluarga Advent yang dikenalnya sebagai lingkungan yang membawa keteduhan, ketenteraman, dan rasa damai. Bagi Pramono, pengalaman personal tersebut ikut membentuk pemahamannya bahwa rumah ibadah dapat menjadi tempat doa yang terbuka secara makna bagi siapa pun yang mencari ketenangan.
“Sehingga saya dari kecil mengenal betul bahwa keluarga Gereja Advent ini selalu dengan kesejukan, kedamaian, ketenangan, menjadi rumah doa bagi siapa saja,” tutur Pramono.
Pesan itu menekankan bahwa perbedaan keyakinan di dalam keluarga maupun masyarakat tidak harus menjadi jarak. Dalam kehidupan kota yang dihuni warga dari beragam latar belakang, saling menghormati menjadi dasar agar ruang bersama tetap terasa aman dan nyaman.
Ruang Publik untuk Perayaan Keagamaan
Pramono mengatakan komitmen tersebut tidak berhenti sebagai pernyataan dalam seremoni. Ia menyebut pemerintahannya telah berupaya menghadirkan ruang bagi berbagai komunitas keagamaan melalui kegiatan dan perayaan di Jakarta.
Ia mencontohkan pelaksanaan perayaan Natal, Imlek, serta Nyepi yang mendapat ruang di kawasan publik Ibu Kota. Dalam perayaan Natal, kegiatan Christmas Carol kolosal di Bundaran Hotel Indonesia diikuti lebih dari 2.500 orang. Kegiatan itu menjadi salah satu contoh penggunaan ruang kota untuk ekspresi keagamaan dan kebersamaan warga.
Pramono juga menyinggung perayaan Imlek yang berlangsung di sejumlah gedung di Jakarta. Selain itu, pawai ogoh-ogoh menjelang Nyepi pernah melintasi jalur dari kawasan Bundaran HI menuju Jalan MH Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman di Jakarta Pusat.
Elemen budaya Bali pun pernah hadir di salah satu titik paling dikenal di Jakarta. Pramono menyebut penjor, ornamen yang lekat dengan tradisi masyarakat Bali, pernah dipasang di Bundaran HI selama hampir dua pekan. Kehadiran simbol budaya dan keagamaan di ruang publik dapat menjadi pengingat bahwa Jakarta tumbuh dari keragaman warganya.
Komitmen terhadap Kesetaraan Warga
Peresmian Gedung GMAHK Taman Harapan Pionir Jakarta menjadi momentum bagi Pramono untuk kembali menyampaikan pandangannya tentang kepemimpinan yang merangkul seluruh kelompok. Ia menekankan bahwa identitas keagamaan, ras, dan etnis tidak semestinya menentukan kualitas pelayanan yang diterima warga dari pemerintah.
Jakarta merupakan kota dengan aktivitas sosial yang padat, beragam komunitas, serta kebutuhan ruang bersama yang besar. Dalam kondisi tersebut, kehadiran kebijakan yang menghormati keberagaman memiliki arti penting karena berkaitan langsung dengan rasa memiliki warga terhadap kotanya.
Bagi warga, komitmen kesetaraan itu dapat tercermin dalam kesempatan yang sama untuk menjalankan kegiatan keagamaan, merayakan tradisi, dan menggunakan fasilitas publik secara tertib. Sikap saling menghargai juga diperlukan agar perbedaan yang ada tidak berubah menjadi hambatan dalam kehidupan bertetangga.
Pramono menempatkan dirinya sebagai gubernur untuk seluruh warga Jakarta. Melalui pernyataan di Cililitan, ia menegaskan kembali bahwa keberagaman agama, ras, dan etnis merupakan kenyataan yang harus dijaga dengan perlakuan adil serta ruang yang setara bagi semua pihak.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Pramono Janji Jadi Gubernur Semua Agama?
Pramono Janji Jadi Gubernur Semua Agama is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Pramono Janji Jadi Gubernur Semua Agama matter?
Pramono Janji Jadi Gubernur Semua Agama matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

