Regional

Karhutla di Maros-Pangkep Sempat Dekati Lukisan Gua Prasejarah, Titik Api Masih Dipantau

codex-73473e144c6b434c922e8bffa0d17c2a

Karhutla di Maros-Pangkep Sempat Dekati Gua Prasejarah

Lenterafakta.com – Karhutla di Maros Pangkep sempat mendekati kawasan gua prasejarah di Taman Nasional Geopark Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Meski demikian, api tidak mencapai lokasi lukisan gua. Titik kebakaran dilaporkan berada sekitar 800 meter hingga 1 kilometer dari kawasan tersebut.

Kondisi ini memicu perhatian karena gua di kawasan itu menyimpan lukisan prasejarah yang diperkirakan berusia sekitar 51.200 tahun. Lukisan tersebut menggambarkan sosok menyerupai manusia yang berinteraksi dengan babi.

“Kalau hampir sampai ya mungkin terdampak sekadar asap begitu, kalau api tidak sampai ke situ (lukisan di gua). Ada sekitar 800 meter sampai 1 kilometer dari titik kebakaran,” ujar Muhammad Ikfar saat dikonfirmasi, Selasa (27/10/2026).

Muhammad Ikfar merupakan Komandan Regu 1 Manggala Agni Kementerian Kehutanan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Ia mengatakan pemantauan tetap dilakukan karena kemungkinan munculnya titik api baru masih ada, terutama di lokasi yang sulit dijangkau.

Titik Kebakaran Muncul Sejak Akhir September

Karhutla di Maros Pangkep sempat terjadi di sejumlah lokasi sejak akhir September 2026. Area terdampak berada di zona inti dan zona rimba taman nasional, termasuk wilayah Kecamatan Minasatene dan Kecamatan Balocci.

Wilayah penanganan di Kecamatan Minasatene mencakup Kelurahan Minasatene, Kelurahan Kalabirang, dan Desa Panaikang. Sementara di Kecamatan Balocci, kebakaran berkaitan dengan Kelurahan Balocci Baru, Kelurahan Kassi, dan Kelurahan Jenai.

Kebakaran pertama tercatat pada 30 September di Kampung Bulu, Kelurahan Minasatene. Setelah itu, titik api muncul pada 10 Oktober di Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, lalu kembali ditemukan pada 22 Oktober di Kampung Mattubbu, Desa Panaikang.

Setelah api utama berhasil dikendalikan, petugas tetap memantau lokasi bekas kebakaran. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi bara yang tersisa kembali menyala di area kering atau tertutup vegetasi.

Medan Karst Menyulitkan Pemadaman

Penanganan kebakaran melibatkan Manggala Agni, Damkar Pangkep, Damkar PT Semen Tonasa, BPBD Pangkep, Polsek, dan Koramil setempat. Namun, karakter perbukitan karst menjadi salah satu hambatan terbesar dalam operasi pemadaman.

Kontur yang terjal serta minimnya akses membuat petugas tidak dapat menjangkau seluruh bagian karst dengan aman. Risiko keselamatan menjadi pertimbangan ketika api berada di puncak, tebing, atau lereng yang sulit dilalui.

“Kendala utamanya itu kalau sudah naik ke puncak karst, kami tidak bakal ambil risiko sampai ke atas karena tidak ada akses juga,” katanya.

Petugas memusatkan penanganan di kaki karst dan tebing yang berpotensi mengancam permukiman warga. Peralatan untuk memanjat juga tidak direkomendasikan digunakan ketika kebakaran masih berlangsung.

“Baru peralatan untuk memanjat pun tidak direkomendasikan pada saat kebakaran. Jadi kami hanya melakukan penanganan di kaki karst, tebing yang berpeluang ke pemukiman warga,” lanjutnya.

Pasokan Air Didukung Mobil Tangki

Selain medan, ketersediaan air menjadi kendala di beberapa titik. Untuk mendukung pemadaman, tim menggunakan kendaraan tangki suplai dari Damkar Pangkep dan PT Semen Tonasa.

“Di beberapa titik yang debit airnya kurang, kami berkolaborasi sama tangkinya itu,” ujar Ikfar.

Air digunakan bukan hanya untuk memadamkan api, tetapi juga membasahi area yang telah terbakar agar bara tidak kembali menyala. Karhutla di Maros Pangkep sempat mengkhawatirkan karena berada dekat kawasan bernilai sejarah, sehingga pengamanan pascakebakaran tetap diperlukan.

Api di bagian bawah kawasan disebut telah dikuasai. Namun, pemantauan terus berjalan untuk melindungi kawasan taman nasional, mengurangi risiko terhadap permukiman, dan menjaga gua beserta lukisan prasejarah di kawasan Maros-Pangkep.

FAQ Karhutla di Maros-Pangkep

Apakah api mencapai lukisan gua prasejarah?

Tidak. Api tidak mencapai lokasi lukisan gua, tetapi titik kebakaran sempat berada sekitar 800 meter hingga 1 kilometer dari kawasan gua.

Mengapa pemadaman di kawasan karst sulit dilakukan?

Perbukitan karst memiliki medan terjal dan akses terbatas. Kondisi tersebut membuat petugas harus mengutamakan keselamatan saat menangani api di bagian tinggi atau tebing.

Apakah kebakaran sudah sepenuhnya padam?

Api di bagian bawah telah dikuasai, tetapi petugas masih memantau kawasan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru atau bara yang kembali menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *