Partisipasi Publik Dinilai Penting untuk Arah Indonesia
Lenterafakta.com – Wakil Menteri Dalam Negeri RI Bima Arya Sugiarto mengajak masyarakat terus menyampaikan gagasan serta kritik konstruktif demi mendorong perbaikan kebijakan publik. Pesan itu ia sampaikan dalam kegiatan Pasar Gagasan bertema “Indonesia Besok” di Menara Kompas, Jakarta Barat, Rabu (28/10/2026).
Bima menekankan bahwa suara warga memiliki posisi penting dalam perjalanan bangsa. Ruang partisipasi, baginya, tidak seharusnya berhenti pada kegiatan formal atau seremoni, melainkan perlu menghasilkan pertukaran pemikiran yang bisa memperkaya keputusan bersama.
“Saya titip kepada teman-teman semua di sini, jangan pernah berhenti melontarkan gagasan dan bersuara,” kata Bima.
Gagasan sebagai Penjaga Arah Masa Depan
Keberanian mengemukakan pandangan disebut Bima sebagai salah satu unsur yang menentukan arah Indonesia pada masa depan. Ia mengingatkan adanya risiko ketika masyarakat memilih diam, terutama saat melihat persoalan yang membutuhkan perhatian dan pembaruan.
Dalam penjelasannya, Bima menyinggung istilah devolved future, yakni gambaran masa depan yang mengalami kemunduran akibat tidak adanya perubahan. Ia juga menyebut disowned future, ketika harapan mengenai masa depan gagal diwujudkan dan akhirnya tidak lagi diinginkan.
Kedua istilah tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan tidak terbentuk dengan sendirinya. Gagasan yang diuji melalui diskusi, kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab, serta keterlibatan warga dalam isu publik dapat membantu menjaga agar tujuan pembangunan tidak menjauh dari kebutuhan masyarakat.
“Masalahnya apakah gagasan itu didengar, dilaksanakan, atau tidak, itu bab yang lain, itu cerita yang lain. Tapi kalau bersuara saja tidak, menjual gagasan saja tidak, menurut saya kita akan mengarah kepada disowned future atau devolved future. Jangan gitu ya,” tuturnya.
Pesan tersebut juga menyoroti pentingnya membedakan kritik dengan penolakan semata. Kritik dapat menjadi bagian dari proses memperbaiki kebijakan apabila disertai alasan, pengalaman, dan usulan yang jelas. Dalam kehidupan demokratis, perbedaan pandangan dapat membuka kesempatan untuk melihat persoalan dari sudut yang sebelumnya belum diperhatikan.
Tantangan Pemerintah dalam Merespons Kritik
Bima mengakui bahwa jabatan di pemerintahan membawa tantangan tersendiri, termasuk dalam menerima masukan publik dan menjelaskan kebijakan. Sebagai wakil menteri, ia menyatakan perlu menempatkan kepentingan bangsa sebagai pertimbangan utama di tengah beragam tuntutan dan pandangan yang muncul.
“Sebagai Wamen saya diuji, bagaimana merespons ini dan bagaimana mengartikulasikan kebijakan, dan bagaimana menempatkan kepentingan bangsa di atas semuanya,” kata Bima.
Pernyataan itu menggambarkan bahwa komunikasi kebijakan bukan sekadar menyampaikan keputusan pemerintah. Ada kebutuhan untuk menjelaskan tujuan, dampak, serta alasan di balik sebuah langkah agar masyarakat dapat memahami konteksnya. Pada saat yang sama, masukan dari publik dapat membantu pemerintah mengenali persoalan yang mungkin tidak terlihat dari tingkat pengambilan keputusan.
Partisipasi warga dapat hadir dalam banyak bentuk, mulai dari menyampaikan pendapat di forum diskusi, menulis gagasan, terlibat dalam komunitas, hingga mengawasi pelaksanaan program di lingkungan sekitar. Keterlibatan semacam ini tidak harus selalu berada dalam panggung besar. Perhatian terhadap persoalan sehari-hari juga dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih luas.
Indonesia Emas 2045 sebagai Kerja Bersama
Bima menegaskan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak dapat dipikul oleh Presiden Prabowo Subianto maupun Kabinet Merah Putih saja. Ia menggunakan gambaran orkestra untuk menjelaskan bahwa pembangunan membutuhkan kontribusi dari banyak pihak, dengan peran yang saling melengkapi.
“Orkestrasi ini enggak bisa dimainkan oleh Pak Prabowo sendiri, enggak bisa. Orkestra ini enggak bisa diserahkan kepada Kabinet Merah Putih,” ucapnya.
Dalam sebuah orkestra, hasil yang baik bergantung pada keselarasan banyak pemain. Gambaran itu digunakan untuk menekankan bahwa rakyat, pemerintah, kelompok masyarakat, dunia pendidikan, pelaku usaha, serta ruang-ruang pertukaran gagasan sama-sama memiliki peran dalam menentukan kualitas masa depan Indonesia.
“Orkestra ini juga adalah milik semua yang menulis di Kompas opini hari ini. Dan bagaimana orkestra itu bisa dimainkan dengan baik adalah ujian bagi kita semua,” ujarnya.
Ajakan untuk terus bersuara tidak berarti setiap gagasan harus langsung menjadi kebijakan. Proses penyaringan, perdebatan, dan penyesuaian tetap diperlukan. Namun, gagasan yang tidak pernah disampaikan tidak akan memperoleh kesempatan untuk diuji, dikembangkan, atau menjadi bagian dari solusi.
Menjelang target Indonesia Emas 2045, percakapan tentang pendidikan, kesempatan, pelayanan publik, tata kelola, dan kesejahteraan membutuhkan keterlibatan yang luas. Setiap warga dapat mengambil bagian sesuai kapasitasnya: mengemukakan usul yang relevan, menjaga ruang dialog tetap sehat, serta ikut memastikan kepentingan bersama tidak terabaikan.
Bima menempatkan keberanian menyampaikan pemikiran sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Masa depan Indonesia, dalam pandangan itu, bukan karya satu tokoh atau satu lembaga, melainkan hasil dari kesediaan banyak orang untuk ikut berpikir, berbicara, dan bekerja bagi tujuan yang lebih besar.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Wamendagri?
Wamendagri is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Wamendagri matter?
Wamendagri matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

