Tekanan Saham AI China Belum Mengubah Arah Harga Memori
Lenterafakta.com – Penurunan tajam saham perusahaan kecerdasan buatan dan semikonduktor di China belum serta-merta menjadi kabar baik bagi pembeli RAM maupun SSD. Walau valuasi perusahaan teknologi di negara tersebut terkoreksi dalam, kebutuhan chip memori untuk pusat data berskala besar masih sangat kuat dan pasokan belum mampu mengejarnya.
Indeks teknologi China STAR50, yang memuat sejumlah emiten AI dan semikonduktor penting, telah turun sekitar 40 persen dalam waktu kurang dari empat bulan. Koreksi ini menghapus nilai pasar sekitar 480 miliar dollar AS, setara kurang lebih Rp 8.640 triliun. Kondisi tersebut dipandang sebagai pecahnya gelembung pada saham-saham AI yang sebelumnya melonjak tinggi.
Manajer investasi Beijing, Dong Baozhen, menyebut gelembung saham AI kini mulai pecah. Dampak sentimen itu juga terasa pada CXMT, produsen chip DRAM asal China. Dalam sebulan terakhir, nilai saham perusahaan tersebut telah menyusut lebih dari seperempat.
Harga RAM dan SSD belum menunjukkan tanda melandai
Turunnya saham teknologi tidak otomatis mencerminkan perubahan cepat pada harga komponen memori. Pasar saham menilai ekspektasi investor terhadap perusahaan, sedangkan harga RAM dan SSD dipengaruhi pula oleh kapasitas produksi, kontrak pembelian, kebutuhan server, serta ekspansi infrastruktur komputasi.
Analis IDC Indonesia, Vanessa Aurelia, menilai pelemahan STAR50 belum cukup untuk dijadikan petunjuk bahwa memori akan segera lebih murah. Harga komponen tersebut masih bergerak naik dalam pembaruan pasar terakhir.
“Apa pun yang terjadi di indeks tersebut, sepertinya belum bisa menjadi salah satu tanda kalau harga memori akan turun sebentar lagi, karena update terakhir harganya masih meningkat,” kata Vanessa.
Permintaan terutama datang dari hyperscaler, yaitu operator cloud dan pusat data raksasa seperti Amazon Web Services, Microsoft, serta Google. Perusahaan-perusahaan ini membutuhkan memori dalam volume besar untuk menjalankan layanan komputasi awan, server, dan beban kerja AI.
Selama kebutuhan hyperscaler tetap tinggi, produsen memori menghadapi tekanan untuk memenuhi pesanan yang besar. Ketika suplai belum cukup cepat mengejar permintaan, harga chip cenderung bertahan atau naik. IDC memproyeksikan tren kenaikan harga memori masih berlangsung hingga kuartal IV-2026 dan dapat berlanjut sampai 2027.
DRAM dan NAND sama-sama diproyeksikan naik
Kenaikan ini mencakup dua jenis chip yang dekat dengan pengguna perangkat elektronik. DRAM merupakan memori kerja yang digunakan sebagai RAM pada PC, laptop, ponsel, dan server. Semakin besar kapasitas RAM, semakin banyak data yang dapat diproses perangkat secara aktif tanpa harus terus-menerus mengakses penyimpanan.
Sementara itu, NAND flash menjadi fondasi media penyimpanan seperti SSD. Chip ini menyimpan data secara permanen, termasuk sistem operasi, aplikasi, dokumen, foto, dan file lainnya. Biaya NAND memiliki pengaruh terhadap harga SSD serta kapasitas penyimpanan yang dapat ditawarkan produsen perangkat.
TrendForce memperkirakan harga kontrak DRAM konvensional meningkat 10 hingga 15 persen pada kuartal IV-2026 dibandingkan kuartal sebelumnya. Harga kontrak merujuk pada nilai transaksi chip dari pabrik kepada pembeli besar, misalnya produsen komputer dan server, sehingga perubahannya dapat memengaruhi biaya produksi perangkat di tahap berikutnya.
Untuk NAND flash, proyeksi kenaikannya bahkan berada di kisaran 15 hingga 20 persen pada kuartal IV-2026 dibanding kuartal III. Artinya, tekanan biaya tidak hanya berpotensi dirasakan oleh pasar RAM, tetapi juga segmen penyimpanan berbasis SSD.
Dampak bagi smartphone dan perangkat konsumen
Bagi konsumen, kenaikan harga kontrak belum selalu langsung terlihat pada label harga di toko. Produsen perangkat biasanya memiliki persediaan komponen, jadwal kontrak, dan strategi penyerapan biaya yang berbeda-beda. Namun, apabila harga memori meningkat dalam periode panjang, biaya tersebut dapat diteruskan secara bertahap ke produk akhir.
Vanessa melihat situasi ini berpotensi mendorong harga smartphone lebih tinggi hingga 2027, bahkan 2028. Ponsel modern semakin membutuhkan RAM dan penyimpanan yang lebih besar untuk menjalankan sistem operasi, aplikasi, kamera beresolusi tinggi, serta berbagai fitur berbasis AI.
Karena itu, pelemahan saham AI di China perlu dipisahkan dari kondisi pasokan chip memori global. Nilai perusahaan teknologi dapat berubah cepat akibat sentimen pasar, sedangkan industri memori bergerak melalui siklus produksi dan kontrak yang lebih panjang. Kejatuhan indeks saham belum cukup untuk mengubah fakta bahwa permintaan pusat data masih menopang pasar memori.
Situasi di Amerika Serikat juga belum menunjukkan koreksi sedalam China. Indeks teknologi Nasdaq hanya turun sekitar 6 persen dari rekor tertinggi yang dibukukan tiga pekan sebelumnya. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap saham AI tidak berlangsung seragam di seluruh pasar.
Bagi calon pembeli laptop, PC, SSD, atau smartphone, perkembangan harga memori layak diperhatikan, terutama untuk perangkat dengan kapasitas RAM dan penyimpanan besar. Meski saham AI China terkoreksi tajam, indikator industri yang ada masih mengarah pada kenaikan biaya chip memori dalam waktu dekat.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Bubble AI China Pecah Akankah Demam?
Bubble AI China Pecah Akankah Demam is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Bubble AI China Pecah Akankah Demam matter?
Bubble AI China Pecah Akankah Demam matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

