Mengapa Korban Kekerasan di Bandung Bisa Disekap 3 Tahun Tapi Tak Melarikan Diri? Ini Kata Psikolog
Mengapa Korban Kekerasan di Bandung Bisa Disekap 3 Tahun? Ini Penjelasan Psikolog Mengapa Korban Kekerasan di Bandung Bisa - Korban kekerasan di Bandung, YTR
Mengapa Korban Kekerasan di Bandung Bisa Disekap 3 Tahun? Ini Penjelasan Psikolog
Mengapa Korban Kekerasan di Bandung Bisa – Korban kekerasan di Bandung, YTR, menjadi perhatian publik setelah mengalami penyekapan selama tiga tahun tanpa berusaha melarikan diri. Pertanyaan muncul: mengapa korban kekerasan di Bandung bisa terjebak dalam situasi memprihatinkan ini? Psikolog Ulifa Rahma menjelaskan bahwa ada faktor psikologis dan sosial yang menghalangi korban untuk beraksi, meski kondisi mereka memburuk.
Melekat dalam Pola Hubungan yang Terstruktur
Korban kekerasan di Bandung sering kali terjebak dalam pola hubungan yang terkesan harmonis di awal. Ulifa Rahma menyoroti bahwa fase ini menciptakan rasa percaya yang kuat, sehingga korban merasa aman. Namun, seiring waktu, kekerasan mulai muncul dalam bentuk pemukulan, intimidasi, atau manipulasi emosional. “Korban merasa seperti menjadi bagian dari hubungan yang saling menguntungkan, meski sebenarnya terus ditekan,” kata Ulifa saat diwawancara Kompas.com pada Rabu (24/6/2026).
Korban kekerasan di Bandung juga mengalami fase trauma bonding, di mana perasaan cinta dan rasa takut bersandingan. Fase ini membuat korban sulit membedakan antara kebaikan dan kejahatan, terutama ketika pelaku menawarkan janji perubahan atau memperlihatkan empati yang tulus.
Psikologi yang Membuat Korban Pasrah
Menurut Ulifa, korban kekerasan di Bandung sering kali mengalami learned helplessness, yaitu kepercayaan bahwa mereka tidak bisa mengubah keadaan, bahkan jika ada kesempatan. “Korban merasa bahwa lari dari pelaku akan menimbulkan masalah lebih besar, seperti miskin atau tidak didukung oleh lingkungan,” jelasnya.
Kondisi psikologis ini didukung oleh pola kontrol yang sistematis dari pelaku. Korban kekerasan di Bandung mungkin terbiasa dengan kekerasan sebagai bagian dari rutinitas, sehingga merasa bahwa ketergantungan adalah cara untuk bertahan hidup. “Pelaku menciptakan rasa aman yang menipu, dan korban terus berharap kebaikan yang belum terwujud,” tambah Ulifa.
Terlebih, korban kekerasan di Bandung sering kali merasa terasing dari lingkungan sosial. Mereka mungkin merahasiakan kekerasan karena takut dihakimi atau dianggap lemah. “Korban juga takut jika pelaku mengetahui bahwa mereka ingin pergi, sehingga berusaha menyembunyikan kebenaran,” kata psikolog tersebut.
Kondisi Sosial yang Menjebak
Psikolog Ulifa Rahma menambahkan bahwa kekerasan di Bandung juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan budaya. Banyak korban kekerasan di Bandung merasa bahwa pernikahan atau hubungan tersebut adalah satu-satunya cara untuk mencari nafkah. “Korban kekerasan di Bandung sering kali menganggap pelaku sebagai sumber kehidupan, meski terus menerima perlakuan tidak adil,” terangnya.
Korban kekerasan di Bandung juga bisa terjebak dalam siklus kekerasan yang sulit diakhiri. Fase kekerasan, pemulihan, dan penjebakan berulang, sehingga korban merasa takut untuk bergerak. “Korban kekerasan di Bandung mungkin menunggu saat yang ‘tepat’ untuk melarikan diri, namun pelaku selalu menciptakan rasa aman kembali setelah merasa sudah memperbaiki hubungan,” tambah Ulifa.
Pola Perilaku yang Sulit Diubah
Pola perilaku korban kekerasan di Bandung sering kali terbentuk secara perlahan, sehingga sulit diperhatikan oleh orang luar. Ulifa Rahma menjelaskan bahwa korban kekerasan di Bandung mungkin memulai dengan penerimaan terhadap kekerasan, lalu secara perlahan merasa bahwa itu adalah bagian dari kehidupan normal.
Perilaku ini diperkuat oleh kebiasaan social, seperti memaafkan pelaku setelah konflik terjadi. “Korban kekerasan di Bandung terkadang menunggu pelaku menunjukkan penyesalan yang tulus, sehingga merasa bahwa hubungan tersebut bisa diperbaiki,” lanjut Ulifa. Ia menekankan bahwa kekerasan di Bandung tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga merusak mental dan emosional korban.
Sebagai korban kekerasan di Bandung, YTR mungkin merasa bahwa keadaan ini adalah harga yang harus dibayar untuk menjaga kestabilan hidup. “Korban kekerasan di Bandung sering kali merasa bahwa pelaku adalah satu-satunya pihak yang bisa melindungi mereka, meski dalam bentuk yang tidak sesuai,” tambah psikolog tersebut.
Langkah untuk Membantu Korban
Korban kekerasan di Bandung membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar untuk memecahkan siklus penjebakan. Ulifa Rahma mengingatkan bahwa masyarakat harus aktif mengenali tanda-tanda kekerasan dan tidak ragu untuk membantu korban. “Korban kekerasan di Bandung sering kali tidak mampu berpikir sendiri, jadi perlunya intervensi dari orang-orang di sekitarnya,” jelasnya.
Dukungan ini bisa berupa bantuan finansial, tempat perlindungan, atau sekadar mendengarkan cerita korban. “Jika masyarakat tidak takut mengambil tindakan, korban kekerasan di Bandung punya harapan untuk keluar dari situasi yang memburuk,” tambah Ulifa. Ia menyoroti bahwa kesadaran masyarakat tentang korban kekerasan di Bandung adalah kunci untuk mengubah pola hubungan yang merugikan.
