Apakah Siput Berbahaya Jika Disentuh? Pakar BRIN Jelaskan Risikonya
Apakah Siput Berbahaya Jika Disentuh? Pakar BRIN Jelaskan Risikonya Apakah Siput Berbahaya Jika Disentuh Pakar - Siput sering dianggap sebagai hewan yang
Apakah Siput Berbahaya Jika Disentuh? Pakar BRIN Jelaskan Risikonya
Apakah Siput Berbahaya Jika Disentuh Pakar – Siput sering dianggap sebagai hewan yang aman, tetapi pertanyaan apakah siput berbahaya jika disentuh muncul saat ada penelitian menyoroti potensi bahaya yang dapat terjadi saat manusia bersentuhan langsung dengan siput. Sebuah unggahan di Instagram pada 21 Juni 2026 memperingatkan pengguna untuk menghindari menyentuh siput yang berada di lingkungan rumah, karena hewan ini bisa menjadi pembawa parasit berbahaya. Akun @kat***** menulis, “Jangan pernah menyentuh siput di halaman rumah, karena cacing Angiostrongylus yang terkandung dalam lendirnya bisa menyebabkan gejala serius seperti infeksi saraf atau gangguan pernapasan.”
Penelitian tentang Risiko Penularan
Menurut Pakar BRIN, Kartika Dewi, Ph.D., parasit yang diperkenalkan dalam unggahan tersebut adalah Angiostrongylus, spesies cacing parasit yang bisa menyerang manusia melalui kontak langsung. “Penyakit yang ditimbulkan oleh cacing ini disebut Angiostrongyliasis, yang menyebabkan peradangan pada otak dan sumsum tulang belakang,” terang Kartika saat dihubungi Kompas.com pada 23 Juni 2026. Ia menjelaskan bahwa siput tidak hanya membawa parasit ini, tetapi juga menjadi perantara utama dalam penyebarannya. Larva cacing Angiostrongylus dapat menempel pada permukaan, termasuk kulit manusia, setelah siput melepaskan lendir saat bergerak.
Menurut penelitian dari jurnal PLoS ONE tahun 2015, larva cacing ini terdapat dalam lendir siput, yang bisa menjadi sumber infeksi jika tidak dikelola dengan baik. Kartika menambahkan bahwa siput bukanlah satu-satunya inang, karena cacing ini juga bisa menyebar melalui konsumsi makanan yang tidak dimasak dengan sempurna, seperti kerang atau udang yang terkontaminasi. Dengan demikian, risiko terpapar parasit bukan hanya dari menyentuh siput, tetapi juga dari kebiasaan makan yang kurang hati-hati.
Gejala dan Dampak Infeksi Angiostrongyliasis
Penyakit Angiostrongyliasis memengaruhi sistem saraf manusia, terutama otak dan sumsum tulang belakang. Kartika menjelaskan bahwa gejala umum yang muncul meliputi sakit kepala, mual, kejang, dan gangguan penglihatan. “Dalam kasus yang parah, infeksi ini bisa menyebabkan gangguan neurologis yang mengancam nyawa,” kata Kartika. Hal ini terjadi karena larva cacing Angiostrongylus menginfeksi aliran darah dan menyerang jaringan otak. Pada tahap awal, gejala bisa terasa ringan, namun jika tidak diatasi, kondisi ini bisa memburuk dalam beberapa hari.
Ada juga jenis penyakit lain yang disebut Angiostrongyliasis okuler, yang mengenai mata dan menyebabkan kebutaan jika tidak segera diobati. Menurut data dari penelitian Diao dkk. tahun 2011, kasus angiostrongyliasis okuler umumnya ditemukan di wilayah Asia, termasuk Indonesia. Dalam sejarah, kasus pertama di Indonesia tercatat di Kisaran, Sumatera Utara, pada tahun 1954. “Infeksi ini bisa terjadi setelah larva menempel pada permukaan kulit atau masuk melalui luka kecil,” tambah Kartika. Maka, pertanyaan apakah siput berbahaya jika disentuh menjadi relevan, terutama saat siput berada di lingkungan rumah.
Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi
Untuk menghindari risiko penularan Angiostrongylus, Kartika menyarankan beberapa langkah pencegahan. Pertama, pastikan untuk mencuci tangan sebelum makan atau menyentuh siput. “Lendir siput yang mengandung larva bisa terbawa ke mulut atau kulit, sehingga kebersihan menjadi kunci,” kata Pakar BRIN. Kedua, hindari menyentuh siput secara langsung, terutama jika terdapat luka atau goresan di tangan. Selain itu, memasak makanan yang terkontaminasi siput juga penting untuk menghancurkan larva cacing yang bisa menyebabkan infeksi.
Pada bagian tubuh yang terkena, infeksi Angiostrongyliasis bisa menyebabkan reaksi alergi atau infeksi eosinofilik. Eosinofilia adalah peningkatan jumlah sel darah putih tertentu yang terjadi akibat infeksi parasit. Kartika menjelaskan, “Gejala ini bisa muncul dalam waktu 2-10 hari setelah kontak dengan siput, tergantung dari jenis cacing dan kekuatan sistem imun penderitanya.” Jadi, meskipun siput tidak berbahaya secara langsung, risiko infeksi tetap ada dan perlu diwaspadai.
Penyebaran dan Paparan Global
Kasus Angiostrongyliasis tidak hanya terbatas pada Indonesia, tetapi juga meluas ke berbagai negara seperti Tiongkok, Jepang, Vietnam, Malaysia, dan Afrika Selatan. Menurut Kartika, cacing ini telah menyebar ke banyak wilayah karena aktivitas perjalanan dan perdagangan. “Para peneliti mencatat bahwa angiostrongyliasis tercatat di 16 negara, dengan penyebaran yang meningkat seiring pertumbuhan populasi siput di lingkungan manusia,” jelas Kartika. Ia juga menyoroti bahwa penyakit ini tergolong umum di Asia, meski gejalanya bisa bervariasi tergantung pada usia dan kebugaran tubuh penderita.
Dalam konteks lokal, Indonesia masih menjadi daerah endemik penyakit ini. Pada tahun 1977, kasus pertama Angiostrongyliasis di Semarang dilaporkan oleh Widagdo. “Jika seseorang sering menyentuh siput di halaman rumah, terutama di musim hujan atau daerah lembap, risiko infeksi meningkat,” kata Kartika. Dengan demikian, mengetahui apakah siput berbahaya jika disentuh menjadi penting, terutama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kebersihan dan kehati-hatian dalam berinteraksi dengan hewan-hewan kecil ini.
