Pakar Sebut Tubuh Hanya Bisa Menabung Kalsium Sampai Usia 30 Tahun – Apa Artinya?
Pemenuhan Kalsium Sejak Muda Menjadi Kunci Kesehatan Tulang Jangka Panjang Pakar Sebut Tubuh Hanya Bisa Menabung - Mengapa tubuh manusia hanya bisa menabung
Pemenuhan Kalsium Sejak Muda Menjadi Kunci Kesehatan Tulang Jangka Panjang
Pakar Sebut Tubuh Hanya Bisa Menabung – Mengapa tubuh manusia hanya bisa menabung kalsium hingga usia 30 tahun? Pertanyaan ini menjadi perhatian para ahli gizi yang menekankan bahwa kesehatan tulang di masa depan sangat bergantung pada pola nutrisi yang diterapkan sejak masa remaja hingga usia produktif. Kalsium, nutrisi utama untuk pembentukan tulang dan gigi, memainkan peran kritis dalam menjaga kepadatan tulang. Jika seseorang tidak memperoleh asupan kalsium yang cukup sejak dini, risiko mengalami osteoporosis akan meningkat tajam, terutama di usia lanjut.
Konsensus ilmuwan menyebutkan bahwa periode penumpukan kalsium dalam tubuh terjadi hingga usia 25-30 tahun. Fase ini menjadi kritis karena tubuh tidak hanya membangun tulang, tetapi juga menyimpan cadangan kalsium untuk masa depan. Menurut Ali Khomsan, Guru Besar dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB University), kalsium yang diperoleh dari produk susu sapi merah menjadi sumber utama selama masa ini.
Kalsium Hanya Dapat Diakumulasi Hingga Usia 30 Tahun
Ali Khomsan menjelaskan bahwa setelah usia 30 tahun, tubuh mulai mengalami kehilangan kalsium lebih cepat daripada penambahan. Proses ini disebut osteolisis, di mana tulang menjadi lebih rapuh karena pasokan kalsium tidak lagi mencukupi kebutuhan harian. “Pada usia 30 tahun, tubuh kita sudah menyelesaikan fase menabung kalsium. Maka, konsumsi makanan yang kaya kalsium harus dilakukan sejak muda,” katanya saat dihubungi pada Selasa (22/6/2026).
Menurut data dari Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi), jumlah penderita osteoporosis yang berusia di atas 50 tahun mencapai lebih dari 6 persen pria dan 21 persen wanita. Angka ini menggambarkan bahwa kebutuhan kalsium tidak hanya berhenti pada masa muda, tetapi tetap diperlukan sepanjang hidup. Ali menekankan bahwa fase menabung kalsium sejak remaja hingga usia 30 tahun harus dimanfaatkan secara optimal agar tulang tetap kuat.
“Tubuh kita menabung kalsium sampai usia 25-30 tahun. Artinya, kita harus memastikan asupan kalsium dari makanan seperti susu, keju, atau sayuran hijau sejak dini,” ujarnya.
Ketersediaan Kalsium Berbeda Berdasarkan Budaya dan Ekonomi
Ketersediaan sumber kalsium di berbagai wilayah dunia bervariasi tergantung pada kondisi sosial-ekonomi dan kebiasaan makan. Di negara maju, susu sapi merah menjadi pilihan utama karena akses yang mudah dan kebiasaan konsumsi yang tinggi. Namun, di negara berkembang seperti Indonesia, masyarakat lebih bergantung pada sayuran hijau seperti bayam dan kangkung karena keterbatasan akses ke produk susu.
Ali menambahkan bahwa sayuran hijau mengandung kalsium yang baik, tetapi penyerapan kalsium dari makanan nabati lebih lambat dibandingkan produk hewani. “Jika seseorang tidak bisa mengonsumsi susu sejak kecil, mereka tetap perlu memperkaya asupan kalsium melalui diet seimbang. Namun, perlu diingat bahwa sumber kalsium di Indonesia bisa beralih ke makanan seperti kacang, tahu, atau produk olahan ikan,” jelasnya.
Strategi Meningkatkan Asupan Kalsium di Usia Produktif
Ali Khomsan menyarankan bahwa masyarakat usia produktif, yaitu 30-40 tahun, tetap harus memperhatikan kebutuhan kalsium, meskipun fase menabung telah berakhir. “Usia produktif adalah masa di mana aktivitas fisik dan metabolisme masih tinggi, sehingga kalsium tetap diperlukan untuk menjaga kepadatan tulang,” katanya.
Menurut ilmuwan, kebiasaan konsumsi makanan berkalsium harus terus dilakukan setelah usia 30 tahun. Tidak hanya dari susu sapi, tetapi juga dari makanan lain seperti yogurt, keju, atau sayuran hijau yang kaya kalsium. “Jika tidak terpenuhi, kepadatan tulang akan berkurang secara signifikan, terutama jika usia sudah 60 tahun ke atas,” tambahnya.
“Pola makan yang kaya kalsium harus dijaga sepanjang hidup. Jika seseorang tidak memenuhi kebutuhan kalsium sejak muda, risiko osteoporosis akan meningkat tajam di masa depan,” ujarnya.
Ali menekankan bahwa kebiasaan hidup sehat, termasuk asupan kalsium, adalah kunci untuk mencegah masalah tulang di usia lanjut. “Usia 30 tahun adalah batas waktu untuk menabung kalsium. Jadi, jangan remehkan pentingnya makanan kaya kalsium di masa muda,” imbuhnya.
Konsekuensi Jika Asupan Kalsium Tidak Terpenuhi
Kurangnya asupan kalsium sejak masa remaja hingga usia 30 tahun dapat berdampak berkepanjangan. Menurut Ali Khomsan, tubuh akan memulai proses kehilangan kalsium seiring bertambahnya usia, yang bisa memicu kondisi osteoporosis. “Kalsium adalah nutrisi penting untuk menjaga struktur tulang. Jika tidak cukup terpenuhi, tubuh akan mengambil kalsium dari tulang itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan organ lain,” jelasnya.
Dalam studi terkini, risiko osteoporosis meningkat seiring bertambahnya usia, terutama jika konsumsi kalsium tidak dilakukan secara konsisten. “Usia 30 tahun adalah batas untuk menabung kalsium. Jadi, jangan tunggu hingga tulang mulai rapuh baru memperhatikan asupan nutrisi ini,” tegas Ali. Dengan memahami bahwa tubuh hanya bisa menabung kalsium sampai usia 30 tahun, masyarakat perlu mengadopsi pola makan yang optimal untuk menjaga kesehatan tulang jangka panjang.
Peran Suplemen Kalsium Setelah Usia 30 Tahun
Setelah usia 30 tahun, kebutuhan kalsium tidak lagi hanya untuk membangun tulang, tetapi juga untuk mengganti yang hilang. Ali Khomsan mengatakan bahwa suplemen kalsium bisa menjadi solusi jika asupan makanan tidak memenuhi kebutuhan. “Namun, suplemen hanya sebagai tambahan, bukan pengganti utama. Makanan berkualitas tetap lebih efektif untuk memenuhi kebutuhan kalsium,” jelasnya.
Menurut penelitian, orang yang berusia 60 tahun ke atas membutuhkan suplemen kalsium karena penyerapan dari makanan semakin berkurang. “Tubuh hanya bisa menabung kalsium hingga usia 30 tahun, sehingga setelah itu, penyerapan harus terus dilakukan melalui makanan atau suplemen,” tambah Ali. Dengan memahami batas waktu tubuh untuk menabung kalsium, individu bisa mengatur konsumsi yang tepat agar risiko osteoporosis terhindari.
