Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Key Discussion: Pakar Ungkap Alasan Gempa Kembar Venezuela Sangat Merusak, Indonesia Ternyata Pernah Mengalaminya

Michael Miller - lenterafakta.com 3 mins read

kap Risiko Gempa Kembar Venezuela, Indonesia Juga Berpotensi Mengalaminya Key Discussion —Peristiwa gempa besar yang melanda Venezuela pada Rabu (24/6/2026)

Key Discussion: Pakar Ungkap Alasan Gempa Kembar Venezuela Sangat Merusak, Indonesia Ternyata Pernah Mengalaminya

Key Discussion: Pakar Ungkap Risiko Gempa Kembar Venezuela, Indonesia Juga Berpotensi Mengalaminya

Key Discussion—Peristiwa gempa besar yang melanda Venezuela pada Rabu (24/6/2026) malam menarik perhatian para ahli geofisika. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa gempa kembar, yaitu dua guncangan tektonik yang terjadi secara berurutan di wilayah yang dekat, memiliki dampak sangat signifikan. Gempa utama berkekuatan 7,5 yang disusul gempa kedua M 7,2 dalam waktu kurang dari satu menit, menyebabkan kerusakan parah di kawasan pesisir La Guaira dan ibu kota Caracas. Fenomena ini memberi peringatan bahwa Indonesia, sebagai negara di zona pertemuan lempeng aktif, juga bisa mengalami kondisi serupa.

Struktur Bangunan Rentan Terhadap Gempa Beruntun

Daryono menyoroti bahwa gempa doublet memperparah kerusakan karena struktur bangunan yang awalnya aman bisa melemah akibat guncangan pertama. “Dalam skenario gempa kembar, bangunan yang terlihat masih kuat setelah gempa pertama justru rentan terhadap guncangan berikutnya,” tambahnya. Hal ini berpotensi menyebabkan efek domino, di mana kerusakan akibat gempa pertama mempercepat keruntuhan struktur bangunan, menyulitkan proses evakuasi, dan meningkatkan risiko korban jiwa. Kondisi ini penting diwaspadai, terutama di daerah dengan infrastruktur yang belum dirancang untuk menghadapi gempa beruntun.

“Key Discussion: Gempa doublet di Venezuela menjadi contoh nyata bahwa skenario gempa berdampingan bisa mengakibatkan kerusakan lebih besar dibandingkan gempa tunggal,” ujar Daryono dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (26/6/2026).

Contoh Gempa Kembar Sejarah: Turkey dan Suriah

Daryono mencontohkan bahwa gempa kembar bukan fenomena baru di dunia. Sejarah mencatat peristiwa serupa di Turki pada 6 Februari 2023, di mana gempa M 7,8 diikuti oleh gempa M 7,5 dalam waktu singkat. Akibatnya, lebih dari 53.000 orang tewas di Turki, dan diperkirakan 6.000–8.000 korban jiwa terjadi di Suriah. “Key Discussion: Fenomena ini menunjukkan bahwa ketahanan bangunan dan sistem darurat harus dipertimbangkan ulang,” katanya. Indonesia, yang memiliki sejarah gempa berdampingan, perlu meningkatkan kesiapan menghadapi skenario serupa.

“Key Discussion: Di Indonesia, peristiwa gempa kembar seperti di Turki dan Suriah bukan lagi kemungkinan, tapi sudah terjadi sebelumnya,” tambah Daryono. Contohnya, gempa M 9,1 di Aceh pada 2004 dan gempa M 8,6 di Nias pada 2005, yang memicu efek berantai pada wilayah sekitarnya.

Mekanisme Tektonik di Balik Gempa Kembar

Menurut Daryono, gempa kembar terjadi akibat mekanisme patahan yang kompleks. “Key Discussion: Energi dari gempa pertama tidak sepenuhnya menghilangkan tekanan di zona sumber, justru mengubah distribusi tegangan dan memicu retakan baru,” terangnya. Ini bisa mengakibatkan gempa berikutnya dengan intensitas serupa atau lebih besar. Dalam kasus Venezuela, gempa pertama mengguncang struktur lempeng, sehingga mempercepat pelepasan energi dari segmen sesar yang berdekatan.

“Key Discussion: Gempa kembar adalah manifestasi dari ketidakstabilan lempeng tektonik, yang bisa berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat dan infrastruktur,” pungkas Daryono. Hal ini memperkuat pentingnya riset dan simulasi bencana untuk meminimalkan risiko.

Persiapan Indonesia Menghadapi Gempa Kembar

Para ahli menyarankan Indonesia perlu memperkuat strategi mitigasi bencana dengan mempertimbangkan skenario gempa kembar. “Key Discussion: Kebijakan darurat dan desain bangunan harus dirancang untuk menangani dampak gempa berurutan,” jelas Daryono. Contohnya, bangunan perlu memenuhi standar tahan gempa doublet, serta sistem evakuasi harus siap menghadapi kondisi kritis di daerah rawan. “Key Discussion: Kesiapan ini sangat penting, karena waktu antara gempa pertama dan kedua bisa sangat singkat, menyisakan kurang dari satu menit untuk respons darurat,” lanjutnya.

Di sisi lain, kejadian gempa kembar di Venezuela menunjukkan bahwa daerah dengan risiko tinggi harus terus melakukan pemantauan dan studi lebih lanjut. Daryono menekankan bahwa peringatan dini dan sistem pemantauan berkelanjutan bisa meminimalkan kerusakan. “Key Discussion: Teknologi modern seperti sensor gempa dan analisis data real-time bisa menjadi pelindung efektif bagi masyarakat,” ujarnya.

Key Discussion—Peristiwa Venezuela menjadi pengingat bahwa Indonesia, dengan lokasinya di zona pertemuan lempeng, perlu waspada terhadap potensi gempa kembar. Dengan mempelajari kasus-kasus sebelumnya dan mengintegrasikan pendekatan baru dalam mitigasi bencana, Indonesia bisa meningkatkan ketahanannya terhadap skenario yang sama. “Key Discussion: Ini adalah kesempatan untuk memperbaiki sistem kebencanaan dan membangun kesadaran masyarakat akan bahaya gempa berdampingan,” tutup Daryono.

Join the discussion