Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Latest Program: Tren Naik Gunung saat Libur Mulai Meningkat, Waspadai Kelelahan dan Hipotermia

Mary Taylor - lenterafakta.com 3 mins read

k Gunung Saat Libur Meningkat, Waspadai Hipotermia dan Kelelahan Latest Program – Saat libur panjang tiba, tren naik gunung kembali menjadi pilihan banyak

Latest Program: Tren Naik Gunung saat Libur Mulai Meningkat, Waspadai Kelelahan dan Hipotermia

Latest Program: Tren Naik Gunung Saat Libur Meningkat, Waspadai Hipotermia dan Kelelahan

Latest Program – Saat libur panjang tiba, tren naik gunung kembali menjadi pilihan banyak pemuda untuk menyalurkan semangat petualangan. Namun, meningkatnya minat pada aktivitas ini tidak hanya menghadirkan keasyikan, tetapi juga berpotensi mengancam kesehatan. Banyak pendaki, khususnya pemula, sering mengabaikan persiapan yang memadai, sehingga rentan mengalami kelelahan dan hipotermia. Kondisi ini bisa memicu bahaya serius, terutama di cuaca dingin atau jalur pendakian yang ekstrem.

Masa libur 2026 menjadi momentum yang mencerminkan kenaikan signifikan tren ini. Dari data yang tercatat, jumlah pendaki di Gunung Klabat, Gunung Salahutu, Gunung Slamet, Gunung Semeru, Gunung Seulawah, hingga Gunung Soputan meningkat hingga 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, angka kejadian hipotermia dan kelelahan berlebihan juga melonjak, dengan rata-rata satu kasus per hari di lembah-lembah tertentu seperti Lembah Tengkorak. Faktor utama penyebabnya adalah kurangnya kesadaran tentang efek samping dari kegiatan ini.

Gejala Hipotermia dan Kelelahan Harus Dikenali

Menurut dr. Yusda Kris Sari Wijaya, dosen di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif UMY, hipotermia dan kelelahan tidak selalu terasa seperti kondisi biasa. “Hipotermia bisa menyebabkan gejala seperti kantuk berlebihan, disorientasi, hingga rasa kaku di tubuh, bahkan kebingungan,” kata Yusda pada Jumat (26/6/2026). Hal ini terjadi karena suhu tubuh menurun drastis di bawah 35 derajat Celsius, yang mengganggu fungsi organ vital seperti jantung dan sistem hormonal.

“Ketika suhu tubuh turun, otot kehilangan daya tahan, dan fungsi jantung terganggu. Pendaki mungkin merasa lemas meski belum terlalu lama melakukan aktivitas,” jelas Yusda. Ia menekankan bahwa gejala ini bisa terjadi secara tiba-tiba, terutama jika seseorang tidak mengenali tanda-tanda awalnya. Tanda-tanda hipotermia meliputi pernapasan yang tidak teratur, tremor, dan pengurangan koordinasi gerak.

Kelelahan yang dialami pendaki juga tidak bisa dianggap remeh. Yusda menyebutkan bahwa kelelahan berlebihan bisa menyebabkan penurunan kemampuan kognitif dan reaksi tubuh, sehingga memperbesar risiko tersesat. “Pendaki yang terlalu serius menjelajah tanpa istirahat bisa mengalami efek domino, mulai dari kelelahan hingga kerusakan organ internal,” tambahnya. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan naik gunung memerlukan pendekatan yang terencana, bukan sekadar semangat.

Langkah Preventif untuk Meminimalisir Risiko

Yusda mengusulkan beberapa langkah preventif untuk menekan tingkat risiko. Pertama, ia menyarankan pendaki untuk memperhatikan suhu lingkungan sebelum memulai perjalanan. “Gunakan pakaian yang cocok dengan kondisi cuaca, seperti lapisan pemanas yang terdiri dari bahan isolator. Jangan hanya mengandalkan satu lapisan,” terang Yusda. Selain itu, ia menekankan pentingnya makanan bernutrisi dan minum air secara teratur untuk menjaga energi tubuh.

“Kondisi fisik dan mental harus dijaga secara berkala. Jika merasa lelah, segera beristirahat atau kembali ke posisi yang lebih aman,” ujar Yusda. Ia juga menyarankan pendaki untuk membawa alat bantu seperti kompas, peta, dan peralatan pemanasan. “Dengan persiapan yang matang, Latest Program bisa menjadi pengalaman menyenangkan tanpa mengorbankan kesehatan,” tambahnya.

Meningkatnya tren naik gunung saat libur juga membutuhkan peran dari pengelola jalur pendakian. Yusda menyarankan pihak terkait memberikan edukasi lebih intensif kepada pendaki, terutama yang berasal dari daerah pedesaan. “Banyak pemuda tidak memahami risiko hidup di lingkungan alam. Mereka sering mengabaikan peringatan cuaca dingin atau tingginya curah hujan,” kata Yusda. Selain itu, ia menyarankan penggunaan teknologi seperti aplikasi cuaca dan GPS untuk memantau kondisi di lapangan.

Dengan peningkatan kesadaran dan penerapan tata cara yang tepat, tren naik gunung bisa tetap dijaga sebagai aktivitas yang bermanfaat. Yusda menegaskan bahwa Latest Program tidak hanya tentang kesenangan, tetapi juga tentang memahami batas kemampuan tubuh. “Pendaki yang terlatih dan waspada akan mengurangi risiko kecelakaan, sehingga liburan bisa berjalan lebih aman dan bermakna,” tutupnya.

Seiring berjalannya waktu, pengalaman pendaki yang semakin beragam juga memberikan pelajaran berharga. Beberapa peserta program ini mengakui bahwa peningkatan kelelahan dan hipotermia sering terjadi, terutama jika tidak terbiasa dengan aktivitas fisik berat. “Saya merasa pusing dan gemetar setelah mendaki Gunung Slamet selama empat jam. Itu bisa menjadi tanda bahwa tubuh sedang berjuang untuk mempertahankan suhu,” kata satu pengguna di media sosial.

Menurut Yusda, kenaikan tren ini juga mendorong kebutuhan untuk menerapkan program edukasi sebelum kegiatan dimulai. “Pendaki perlu mengetahui cara mempersiapkan diri, seperti mengatur waktu istirahat dan memahami jenis makanan yang tepat untuk mengimbangi energi,” jelas Yusda. Ia menambahkan bahwa kesehatan pendaki menjadi prioritas utama, karena risiko cedera atau bahkan kematian tidak bisa diprediksi.

Join the discussion