BEI Sebut Ada 9 Perusahaan yang Bakal Melantai di Bursa Efek
Antrean IPO di BEI Bertambah Menjadi Sembilan Perusahaan
Lenterafakta.com – Minat perusahaan untuk masuk ke pasar saham Indonesia terus terlihat pada Oktober 2026. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sembilan calon emiten sedang menyiapkan proses penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan posisi akhir September 2026, ketika antrean perusahaan yang berencana mencatatkan saham masih berjumlah enam. Tambahan calon emiten ini mencerminkan berlanjutnya aktivitas persiapan penggalangan dana melalui pasar modal.
“Hingga saat ini, terdapat 9 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,”
Keterangan dalam dokumen pipeline BEI pada Minggu, 18 Oktober 2026, itu menunjukkan komposisi calon emiten yang beragam, baik dari ukuran aset maupun bidang usahanya. Pipeline merupakan daftar perusahaan yang sedang menjalani tahapan menuju pencatatan saham, sehingga belum seluruhnya otomatis akan resmi diperdagangkan di bursa pada waktu yang sama.
Komposisi Calon Emiten Berdasarkan Aset
Dari sembilan perusahaan yang berada dalam antrean IPO, tiga di antaranya masuk kelompok perusahaan besar. Klasifikasi ini diberikan kepada entitas dengan total aset lebih dari Rp250 miliar.
Kelompok perusahaan menengah menjadi bagian terbesar dalam antrean tersebut. Terdapat empat perusahaan dengan aset di atas Rp50 miliar hingga Rp250 miliar yang tengah mempersiapkan pencatatan sahamnya.
Sementara itu, dua perusahaan lain tergolong sebagai perusahaan kecil karena memiliki aset di bawah Rp50 miliar. Kehadiran perusahaan dari tiga kelompok skala aset tersebut memperlihatkan bahwa akses pasar modal tidak hanya dimanfaatkan oleh perusahaan berukuran besar.
Bagi perusahaan, IPO dapat menjadi salah satu cara untuk memperoleh dana pengembangan usaha. Dana hasil penawaran saham dapat digunakan sesuai rencana yang disampaikan dalam proses penawaran, termasuk untuk kebutuhan operasional, investasi, ekspansi, atau penguatan struktur permodalan.
Sektor Kesehatan Mendominasi Antrean
Jika dilihat dari sektor usahanya, layanan kesehatan menjadi bidang dengan jumlah calon emiten terbanyak. Ada empat perusahaan dari sektor ini yang masuk ke dalam pipeline IPO BEI.
Sektor energi menempati urutan berikutnya dengan dua perusahaan. Adapun sektor industrial memiliki satu calon emiten. Dua sektor lain, yakni finansial serta basic materials, masing-masing menyumbang satu perusahaan dalam antrean pencatatan saham.
Ragam sektor tersebut dapat menjadi perhatian investor karena setiap industri memiliki karakter pertumbuhan, kebutuhan modal, serta risiko bisnis yang berbeda. Informasi mengenai kegiatan usaha, kondisi keuangan, penggunaan dana, dan faktor risiko biasanya menjadi bagian penting yang perlu dicermati dalam dokumen penawaran perusahaan sebelum saham diperdagangkan secara publik.
Pipeline IPO juga tidak selalu mencerminkan kepastian waktu pencatatan. Perusahaan yang sedang berada dalam proses tersebut masih harus menyelesaikan tahapan dan persyaratan yang diperlukan sebelum sahamnya dapat melantai di Bursa Efek Indonesia.
Penghimpunan Dana IPO Capai Rp2,16 Triliun
Aktivitas IPO sepanjang 2026 juga telah menghasilkan pencatatan baru di bursa. Hingga 16 Oktober 2026, tujuh perusahaan telah resmi menjadi emiten melalui penawaran saham perdana.
Total dana yang dihimpun ketujuh perusahaan tersebut mencapai Rp2,16 triliun. Nilai ini menggambarkan peran pasar saham sebagai sarana pendanaan bagi perusahaan yang memilih membuka kepemilikan kepada publik.
Selain saham, pasar modal juga mencatat aktivitas penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk atau EBUS. Sampai periode yang sama, telah diterbitkan 145 emisi oleh 65 penerbit EBUS dengan total dana terkumpul Rp146,09 triliun.
Masih terdapat 24 emisi lain dari 16 penerbit EBUS yang berada dalam antrean penerbitan. Instrumen utang dan sukuk menjadi jalur pendanaan yang berbeda dari IPO karena perusahaan atau penerbit menghimpun dana melalui efek utang maupun instrumen berbasis prinsip syariah, bukan melalui pelepasan saham baru kepada publik.
Rights Issue Tetap Berjalan
Penggalangan dana di pasar modal tidak berhenti pada IPO dan EBUS. Aksi korporasi berupa rights issue juga terus berlangsung pada 2026.
Hingga 25 September 2026, sebanyak 16 perusahaan telah menuntaskan rights issue dengan nilai keseluruhan Rp37,35 triliun. Rights issue merupakan penawaran saham baru yang umumnya memberikan hak terlebih dahulu kepada pemegang saham yang sudah ada untuk membeli saham tambahan.
Satu perusahaan dari sektor properti dan real estate masih berada dalam antrean untuk menjalankan rights issue. Bagi investor, aksi ini penting diperhatikan karena dapat memengaruhi jumlah saham beredar dan komposisi kepemilikan apabila hak yang tersedia tidak digunakan.
Dengan sembilan perusahaan dalam pipeline IPO, aktivitas pencatatan saham di BEI masih menyisakan potensi tambahan emiten pada sisa tahun 2026. Investor dapat memantau perkembangan proses tersebut sambil menelaah informasi resmi setiap calon emiten sebelum mengambil keputusan investasi.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is BEI Sebut Ada 9 Perusahaan?BEI Sebut Ada 9 Perusahaan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does BEI Sebut Ada 9 Perusahaan matter?BEI Sebut Ada 9 Perusahaan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.